TENTANG DUA ORANG DI SAMPING SANG PANGERAN

Warta lelayu itu terkabarkan pula pada Pangeran Diponegoro. Di hari kedua puluh satu bulan September 1829 itu, panglima senior sang Pangeran, Pangeran Ngabehi, yang juga merupakan paman beliau, beserta dua orang putranya syahid dalam pertempuran sengit di Kelir, perbatasan Mataram-Begelen. Kepala ketiga kerabat Sang Pangeran itu dipenggal lalu dicocok dengan bambu runcing. Tubuh ketiganya dibuang ke jurang. Saya bayangkan duka menyelimuti Sang Pangeran saat mendengar lelayu itu. Tidak saja karena sepeninggal Pangeran Ngabehi beliau semakin terpojok dan sendiri, tapi membayangkan bagaimana ketiga kerabatnya dibantai Belanda dan serdadu Ternate tentu menimbulkan duka yang amat dalam.
Akhir 1829 adalah hari-hari yang berat bagi Pangeran Diponegoro. Kekuatan pasukannya mulai menyusut. Panglima perang dan orang-orang terdekat beliau mulai banyak yang ditangkapi dan bahkan banyak pula yang terbunuh di medan tempur. 24.685 serdadu dan 1.133 kuda dikerahkan de Kock untuk mempersempit ruang gerak Sang Pangeran dengan menggiring agar pasukan Diponegoro bertahan di antara Progo dan Bogowonto. Sebuah strategi yang diadaptasi de Kock dari Jenderal Lazzarre Hoche di Vendee (1793) dan Mayor Jenderal Malcolm.
Masih teringat ketika tersiar warta bahwa Kiai Mojo, sosok yang amat diseganinya tertangkap di hari kesebelas bulan November 1828 dini hari di tepi barat Sungai Bedog. Tapi semangat Sang Pangeran tetap tak pernah pupus. Tapi kematian Pangeran Ngabehi dan dua orang putranya di pegunungan Kelir secara mengenaskan tergambar dalam babad yang ditulisnya jelas menimbulkan duka. Air matanya mengambang berkaca-kaca dan Sang Pangeran merasa sendiri di Tanah Jawa. Amat manusiawi tentunya. Duka lain menyusul sebulan berikutnya.
Sentot Prawirodirjo menyerah pada Belanda pada16 Oktober 1829. Di akhir bulan itu, ibunda Sang Pangeran, Raden Ayu Mangkorowati tertangkap di daerah Pengasih. Demikian pula dengan puteri beliau, Raden Ayu Gusti. Di tengah duka dan rasa kesendirian itu, untung saja ada Bantengwareng (sekitar 1805-1858) dan Joyosuroto atau biasa dipanggil Roto, dua orang punakawan Sang Pangeran, yang senantiasa menemani dengan setia. Bantengwareng teraran sebagai bocah ndhugal, bandel, lagi katik tubuhnya. Makamnya di Makassar, di area pemakaman keluarga Diponegoro tampak layaknya makam anak kecil; sebuah bukti bahwa ia memang seorang katik (cebol).
11 November 1829. Hari itu tepat empat puluh empat tahun usia beliau. Tanggal dan bulan yang tak hanya mengingatkan Sang Pangeran pada hari kelahirannya, tapi juga saat penasihatnya, Kiai Mojo, tertangkap setahun sebelumnya. Sang Pangeran beserta dua punakawan muda yang mengiringinya berjalan ke arah barat. Mereka terlihat berjalan kaki dengan amat payah dan lelah. Dua ekor kuda dituntun sang punakawan. Sebuah peti berisi pakaian dinaikkan di atas salah satu kuda. Sesekali Roto berseloroh menghibur. Roto memang suka melucu, selain ia amat lihai berkisah. Kelak kemampuan Roto dalam menghibur itu amat membantu Sang Pangeran menempuhi perjalanan dari Batavia hingga Makassar yang mungkin amat membosankan.
Setiba di pegunungan Gowong, sebelah barat Kedu, ketiganya baru menyadari sebuah bahaya mengancam. Sepasukan gerak cepat kesebelas Belanda mengejarnya. Agaknya pasukan itu dikomandani oleh Mayor A.V. Michiels (1797-1849). Ketiganya gegas bergerak. Tapi ketiganya terhenti. Di depannya tak ada lagi jalan untuk meloloskan diri, hanya sebuah jurang curam nan terjal. Sementara di belakang, pasukan Belanda bergerak merapat dengan rasa menang, mereka amat yakin buronan yang telah menguras kas Belanda hingga 20 juta gulden itu bakal tertangkap. Ya, akibat Perang Jawa (1825-1830) Belanda nyaris bangkrut. Kelak seluruh kemalangan ekonomi akibat Perang Jawa itu dipulihkan melalui proyek jumawa berupa Sistem Tanam Paksa yang digagas Johannes van den Bosch (1830-1870).

 

Serasa Musa di depan Laut Merah, tak ada jalan untuk keluar, kecuali semata atas pertolongan Allah; sebuah keyakinan yang terpatri kuat dalam diri Sang Pangeran, dan diikuti oleh Bantengwareng dan Roto; dua punakawan Pangeran Diponegoro yang bersetia membersamai. Dua ekor kuda, tombak pusaka Kiai Rondhan, dan peti berisi pakaian selama perang terpaksa ditinggalkan. Ketiganya melompat ke dalam jurang lalu bersembunyi di rerimbun gelagah yang tinggi. Dalam kondisi terbarut dan terluka, ketiganya menyusuri hutan-hutan di Begelen, Banyumas, hingga Kedu selatan (November 1829-Januari 1830). Terseok-seok tanpa bekal. Menghadapi sergapan Belanda yang terus mengancam sekaligus juga ganasnya hutan. Tak heran jika selama berkelana itu, Pangeran terserang Malaria Tropika. Dalam masa-masa itu, Bantengwareng dan Roto tulus membersamai dan melayani.
Merekalah yang meracik reramuan tradisional untuk mengobati Sang Pangeran. Seluruh derita perjuangan itu memang telah menjadi kemestian hidup Pangeran dan juga para punakawan yang mengiringi. Tak ada yang layak disesalkan, sebab keridlaan Allah semata yang menjadi pengharapan. “Telah menjadi kemestian dari Allah, bahwa aku mesti memanggul derita ini (bayankarsaning Wyang/ingsun kinon anglakoni/),” demikian tulis beliau dalam Babad-nya.
Februari 1830 Sang Pangeran mulai menuju Menoreh. Bantengwareng dan Roto terus menemani. Mereka berdua selalu ada di samping Sang Pangeran, baik di saat sendiri maupun ketika pada awal bulan kedua di tahun terakhir Perang Jawa itu, ia bergerak ke arah terbitnya matahari; tidak kurang dari 200-an orang mengikuti. Ternyata rakyat masih amat mencintai dan mendukung pemimpin Perang Jawa itu. Pada hari ke-21 pada bulan yang sama, Sang Pangeran tiba di Menoreh. Yang semula hanya dibersamai dua orang punakawan setianya, Bantengwareng dan Roto, hari itu tidak kurang 700 orang telah berkumpul di Menoreh. Saya bayangkan suasana haru di antara rimbun pepohonan Menoreh. Kedu selatan, Begelen, hingga Menoreh adalah sehimpun kisah tentang orang-orang yang setia pada perjuangan Diponegoro.
Pada Ahad, 28 Maret 1830 saat Pangeran Diponegoro datang di Wisma Residen di Magelang, Roto dan Bantengwareng terus mengikuti. Bahkan, ketika pada 3 Mei ia bersama 19 pengikutnya diberangkatkan ke Manado dengan kapal, dua punakawan setia itu tetap membersamai. Di kapal, keduanyalah yang sesekali menghibur Sang Pangeran dengan guyonan-guyonan segar dan renyah. Roto misalnya menyebut kentang yang disuguhkan pada Sang Pangeran dengan, “kentang walandi” atau “kentang sabrang”, sebuah gojekan yang membuat hari-hari Sang Pangeran lebih terhibur selama satu setengah bulan pelayarannya ke Manado.


Mengikuti kisah Diponegoro, serasa kita tidak bisa menanggalkan Bantengwareng dan Roto. Kedudukannya barangkali tak bisa disandingkan dengan kisah Harun yang membersamai Musa atau atau Abu Bakr bersama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tapi ketiganya bagai bertemu pada sehimpun kisah tentang kesetiaan dan keteguhan sikap dalam perjuangan. Darinya kita pun belajar, sekuat apapun seorang pejuang ia masih membutuhkan seorang sahabat, yang membersamainya dalam perjuangan, sekecil dan selemah apapun sahabat itu dalam pandangan sesama. Maka, Musa ‘alaihissalam pun memohon pada Allah ta’ala, “Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, ialah Harun, saudaraku” (Q.s. Thaaha [20]: 29-30).
Tapi kita pun juga dapat belajar, betapa mulia mereka yang mengikuti para salih, sekecil dan sesederhana apapun yang bisa diperbuat. Dalam kesertaan bersama para salih dan pejuang itu mungkin seseorang akan dilupakan dan dianggap liliput, tapi sungguh sekira ia tertunai dengan ikhlas, Allah akan selalu mengingat dan memuliakannya. Bahkan, seekor anjing yang membersamai ashabul kahfi, yang sekedar menjulurkan kakinya di tubir mulut goa sekalipun, terabadikan kisahnya di dalam Al-Quran (Q.s. Al-Kahfi [18]: 18). Tak ada orang kecil dalam setiap perjuangan selagi ia ikhlas dan mengharap keridlaan Allah. Si Katik Bantengwareng ternyata amat tinggi dan mulia; sementara Roto nan jenaka, ternyata amat seriusnya meraih jalan ke surga. []
_____________

KETERANGAN GAMBAR: Lukisan Raden Syarif Bustaman, 1857. Penangkapan pemimpin Jawa, Diponegoro. Tampak Joyosuroto (Roto/terlingkari), pengiring pribadi Pangeran Diponegoro, berada di belakang istri Sang Pangeran, Raden Ayu Retnoningsih.

 

TENTANG SEORANG RATU YANG MEMUTUSKAN UNTUK MENINGGALKAN KERATON NGAYOGYAKARTA PADA 1790

Membincang wanita perkasa nusantara, ternyata kita tidak hanya mengenal satu nama. Ada banyak nama yang dimiliki negeri ini.

Kanjeng ratu winarni/pan tetanen remenipun/sinambi lan ngibadah/kinarya namur puniki/lampahira gen brongta marang Yang Sukma.

1790. Dalam usia enam puluhan tahun, puteri Kiai terkemuka di Kabupaten Sragen, Ki Ageng Drepoyudo itu memilih meninggalkan istana Ngayogyakarta. Keputusannya itu tak bisa dipenggak, tak bisa dihalang-halangi. Wajarlah itu. Wanita yang sekira dilacak silsilahnya masih bersambung ke Sultan Bima pertama, Sultan Kahir I (1621-1647), pendiri kesultanan Islam di Sumbawa itu, jelas memiliki jiwa yang tegas dan berkemauan keras. Sebagai puteri seorang kiai dari keturunan kesultanan Islam di Sumbawa dan juga selaku permaisuri Sultan Hamengkubuwana I, tentulah ia amat teguh dalam memegang prinsip beragama. Dan memang demikiankah beliau. 

Ratu Ageng, demikian beliau selanjutnya sering disebut. Atau, Ratu Ageng Tegalrejo, terutama sejak 1790, setelah beliau memilih menetap di Tegalrejo, sebuah desa di sebelah Tenggara keraton. Di masanya daerah itu dapat ditempuh selama satu jam jalan kaki dari keraton. Kepergiannya dari keraton boleh dibilang sangat mendadak. Beliau putuskan meninggalkan keraton pada awal pemerintahan puteranya, Raden Mas Sundoro, yang kemudian naik tahta dan bergelar Sultan Hamengkubuwana II. Anak laki-laki yang dilahirkannya pada 7 Maret 1750 ketika pasukan suaminya, Pangeran Mangkubumi istirah sejenak di lereng Gunung Sindoro di Kedu, selama beliau membersamai sang suami dalam perang Giyanti (1746-1755) melawan Belanda. Menelisik perjalanannya hingga penggalan Maret 1750 inipun kita dapat menduga bahwa Ratu Ageng adalah wanita kuat dan tegar. Dapatkah kita bayangkan seorang wanita yang hamil serta melahirkan di tengah-tengah peperangan, kecuali ia seorang yang amat tangguh?

Keputusannya untuk meninggalkan keraton pun bukan tanpa alasan. Alasan Ratu Ageng meninggalkan keraton dan memilih tinggal di luar tembok istana dapat terbaca dalam tembang Sinom yang termaktub dalam Babad Diponegoro: Kanjeng Ratu Geng winarni/pan asring selaya neki/lan kang putra pribadi/dadya mutung adhudhukuh/babat kang ara-ara/mapan lajeng den dalemi…[] (Perihal Ratu Ageng/betapa sering beliau berselisih/dengan putranya sendiri/maka ia kecewa lalu pergi/membuka lahan baru/tanah-tanah terlantar digarapnya/lantas menetap tinggal di sana…). Ya, bersebab Ratu Ageng tak bersepaham dengan gaya hidup putranya, Sultan Hamengkubuwana II, yang dinilai mulai berani menyepelekan perintah agama. Sang raja juga diamati sang ibu amat jarang mengunjungi Masjid Agung, tempat ibadah resmi para Sultan Yogya. Kiranya Ratu Ageng amat kecewa dengan kehidupan di keraton yang mulai permisif dengan pengaruh Belanda serta persengkokolan yang meretakkan kekerabatan.

Di Tegalrejo, Sang Ratu memilih bertani. Bekerja mengolah tanah, menyiangi tanaman, dan berpayah-payah saat memanen. Seperti terbaca dalam tembang Sinom di awal tulisan ini, Sang Ratu senang bertani, sambi tetap istiqamah beribadah. Ia tunaikan semuanya tanpa pamrih (kinarya namur puniki). Ketika pada akhirnya Tegalrejo berubah menjadi daerah yang makmur nan sejahtera, mulailah berduyun-duyun orang mendatanginya. Para santri pun banyak pula yang bertandang untuk menuntut ilmu. Tegalrejo menjadi magnet yang menarik untuk dikunjungi. Inilah kisah Sang Ratu yang memilih terus berbuat, meski usianya yang sepuh menuntut beliau beristirahat.

Sang Ratu rupanya tak hanya mahir olah kanuragan; berkuda, memainkan panah, membidik dengan bedil, atau menggunakan patrem, sebagai kemampuan dasar panglima prajurit estri Keraton Ngayogyakarta; beliau — sebagaimana dituturkan Peter Carey dalam “The Power of Prophecy” (2007) — sangat cermat mengelola setiap perniagaan yang dijalaninya, selain tentu kemampuannya dalam bercocok tanam. 

Hidup beliau seakan tak pernah sepi dari aktivitas kebaikan. Sampai pada suatu hari di bulan September 1803, Sang Ratu mesti istirahat cukup lama. Demam yang amat tinggi menyerangnya, setelah sebelumnya beliau tercebur ke dalam salah satu tambak miliknya di Tegalrejo. Dalam masa istirahat itu, Ratu Ageng sayup-sayup mendengar Gunung Merapi di utara mulai meletus sejak 22 September 1803 itu. Dalam kondisi mencekam karena letusan Merapi, Sang Ratu dipindahkan ke kediaman putra mahkota di Yogya. Kondisinya mulai membaik pada awal Oktober 1803 itu. 

Pada sepotong Oktober itu ia sempatkan menasihati putranya, Sultan kedua. Suaranya masih terdengar lemah, tapi nasihatnya amat kuat bertenaga. “Sultan,” demikian beliau memulai perbincangan, “jalan yang kutempuh tidaklah mudah. Sekarang aku merasa bahwa diriku tak lebih dari seorang rakyat biasa.” Sang Ratu menghela nafas sejenak. Ia pandangi sang putra dengan sepenuh cinta. Sorot matanya tajam berwibawa.

“Anakku,” kata Sang Ratu melanjutkan nasihatnya, “camkanlah hal itu dan jangan percaya bahwa meskipun kamu sekarang adalah seorang raja, setelah kamu mati kamu akan lebih tinggi daripada seorang batur (hamba jelata). Maka, hiduplah sesuai dengan itu!” Sang Ratu hingga di bukan Oktober itu tetap berteguh sikap bahwa harapan pada sang putra agar tetap berpegang teguh pada prinsip agama tidak sedikit pun pudar. Janganlah kamu percaya, demikian tutur nasihat beliau, bahwa setelah kematian seorang raja akan tetap menjadi raja. Tidak. Setelah kematian, seorang raja akan menjadi hamba di hadapan Allah, sebagaimana mestinya ia dipahami selama masa hidupnya pula. Sekalipun menjadi raja, kita tetaplah hamba di hadapan Allah ta’ala.

17 Oktober 1803 sore hari; wanita perkasa itu kembali ke hadlirat Penciptanya. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman kerajaan di Imogiri; diantarkan iring-iringan yang panjang. Cucu buyutnya yang ia didik selama di Tegalrejo tertunduk mengiringi; Diponegoro, saat Sang Ratu meninggal usianya baru delapan belas tahun. Di tangan sang cucu buyutlah seluruh rintisan di Tegalrejo mesti dilanjutkan. Dan benar saja, pada sang cucu buyutlah harapan besar panglima prajurit estri kesultanan Yogya ini disematkan. ][

Umar dan Kisah tentang Sebuah Lentera

Inilah sepotong kisah tentang Umar ibn Abdul Aziz bersama Raja’ ibn Haiwah, alim nan agung perancang skenario pengangkatan Umar ibn Abdul Aziz sebagai khalifah. Di tengah sistem yang rusak, Raja’ ibn Haiwah memilih melakukan tindakan daripada menyampaikan kutukan. Di tengah sistem yang bobrok ia memilih upaya kecil untuk mengubahnya dan bukan meninggalkannya.

Maka, sang alim ini telah menjadi teladan tentang orang-orang yang menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan. Sejarah lalu mencatat ikhtiarnya untuk mengusulkan Umar ibn Abdul Aziz sebagai pengganti Sulaiman ibn Abdul Malik. Setelahnya kita mengenang sepenggal masa yang amat memesona saat Umar ibn Abdul Aziz berkuasa.
Memang, sang pemimpin yang diusulkan sang alim ini amat layak untuk memimpin. Keduanya menampilkan kepribadian yang layak jadikan teladan. Inilah sepenggal potret keanggunan akhlak mereka.

Malam itu keduanya asyik berbincang. Raja’ ibn Haiwah rupanya sedang bertamu di kediaman Sang Khalifah. Mereka terlihat akrab bercakap. Lama mereka berbincang hingga pelayan Sang Khalifah pun tak terasa tertidur di samping mereka berdua.

Tiba-tiba lampu mati. Ruangan menjadi gelap seketika. “Maafkan, lampunya mati. Mungkin minyaknya habis,” demikian ujar Umar ibn Abdul Aziz pada sang tamu.

“Kalau begitu minta tolonglah pada pelayan untuk memperbaikinya,” usul Raja’ ibn Haiwah. Usul yang wajar dan jamak dilakukan.

“Tidak usah. Dia telah tertidur di samping kita. Barangkali saking lelahnya.”

“Ya sudah, aku saja yang memperbaikinya,” kata Raja’ hendak bangkit memperbaiki lampu. Tapi buru-buru Umar ibn Abdul Aziz mencegah dan dia sendiri yang bangkit.

“Tidak layak bagi tuan rumah untuk memperbaiki lampu mati saja meminta pada tamunya.” Umar ibn Abdul Aziz lalu meletakkan sorbannya, beranjak ke arah lampu, dan memperbaikinya.

Kisah sederhana di atas dikisahkan Sang Tamu, Raja’ ibn Haiwah pada Abdul Aziz putra Sang Tuan Rumah, Umar ibn Abdul Aziz sambil menyatakan kekagumannya, “Aku tak menemukan seorang pun yang lebih sempurna akal dan akhlaknya daripada ayahmu.”

Demikianlah kita belajar tentang kepemimpinan, dalam maknanya yang amat luas. Ukuran sesungguhnya dari kekuatan sang pemimpin, rupa-rupanya, bukan terletak pada seberapa banyak yang melayaninya, tapi seberapa banyak yang dilayaninya. Pemimpin yang bersedia mengotori tangannya untuk melayani sesama, sungguh makin memancarlah daya pengaruhnya.

Kisah di atas tentu bukan cerita yang dirancang untuk sebuah pencitraan di hadapan sesama. Para pemimpin sejati amat memahami bahwa cukuplah ia menunaikan segala yang Allah perintahkan; sebab merancang pencitraan agar dipuji dan dikagumi sesama itu amat melelahkan, sementara berikhtiar menunaikan kewajiban agar terpuji di hadapan Allah itu menentramkan.

BICARA

Tiba-tiba saja Sang Khalifah, Harun al-Rasyid, yang sedang thawwaf di Baitullah didatangi seorang lelaki. Wajahnya tegang dan tak ada senyuman. “Wahai Amirul Mukminin,” katanya, “aku ingin bicara padamu. Tapi mungkin yang kusampaikan agak kasar!”Laki-laki itu berterus terang di awal. Ia ingin protes, tapi ia menyadari bahwa ia tak kuasa menahan emosi. Boleh jadi itu memang kebiasaannya. 

Tapi Sang Khalifah bijak menasihatkan. “Tak perlu kau perkata kasar,” katanya, mencegah. Saya bayangkan, beliau tersenyum mereda ketegangan. Setelahnya beliau berikan alasan, “Allah telah mengutus orang yang lebih baik darimu, ialah Musa dan Harun kepada seseorang yang lebih buruk dari aku, dialah Fir’aun. Tapi, pada Musa dan Harun, Allah perintahkan untuk berbicara kepada Fir’aun dengan kata-kata yang lembut.”

Benar nasihat Harun al-Rasyid, Allah telah perintahkan kepada Musa dan juga Harun untuk menemui Fir’aun. “Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun. Sesungguhnya ia telah melampaui batas. Maka perbicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Q.s. Thaaha [20]: 43-44). Pada Fir’aun saja yang jelas-jelas telah Allah sebutkan: innahu thaghaa — sesungguhnya ia telah melampaui batas, tutur kata yang lembut hendaknya menjadi pilihan, terlebih pada mereka yang kesalahannya saja masih diragukan.

Kita lebih berhajat untuk bertutur kata lembut, sebab kita tak lebih baik dari Musa dan Harun, dan yang kita hadapi tak lebih buruk daripada Fir’aun, bahkan boleh jadi dia lebih baik daripada diri kita. Tak ada marwah pada mereka yang berkata kasar. Tak akan meninggalkan jejak pengaruh setiap kata yang dilontarkan dengan menyakitkan sesama. Adapun kata-kata yang lembut, yang tetap menunjukkan keteguhan sikap, dan kejernihan pendapat lebih mungkin meninggalkan pengaruh. Semoga (dengan perkataan yang lembut itu) Fir’aun sadar atau takut, demikian Al-Quran menasihatkan.

Meski tak terjamin bahwa kata-kata yang tersampaikan dengan lembut pasti berpengaruh, tapi Allah menganjurkan kita menggunakannya, sebab ia lebih mulia dan memuliakan sesama. Dalam berbicara ternyata tak hanya perkara benarnya perkataan, cara menyampaikan pesan juga perlu diperhatikan. 

Masihkah kita berkata kasar pada sesama? Kasar saat bicara pada anak, menyakitkan ketika berbincang dengan pasangan, membuat luka manakala bercakap dengan sesama. Memperbaiki diri adalah jalan terbaik. Kadang tak banyak pengaruh perubahan dari kata-kata yang disampaikan dengan kasar. Berlemah lembut dalam bertutur hendaknya menjadi pilihan.

Tentu yang menulis ini tak lebih baik dalam bertutur. Saya sadar ada banyak yang pernah tersakiti. Tak terhitung yang pernah terlukai. Atas semua perkataan yang meninggalkan luka itu saya mohon dimaafkan.

Malu Saya pada Mereka

Rajab tahun kesembilan hijriah. Orang-orang lebih suka berteduh di rumah atau di bawah rimbun pepohonan saking teriknya. Madinah sedang mengalami musim panas. Sebentar lagi musim gugur tiba. Rasulullah saw memobilisasi kaum Muslimin untuk melawan Romawi. Semua orang yang diliputi keimanan terpanggil. Kaya dan miskin semua terlibat dan berkontribusi sesuai kemampuannya.

Bagi para sahabat yang kaya, seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Abbas bin Abdul Muthalib, Thalhah, Ashim bin Adi, dan yang lainnya berinfak tak tanggung-tanggung. Tentu bukan karena janji bahwa ia akan dikembalikan berlipat-lipat, semata keridlaan Allah sajalah yang terharapkan. Utsman bin Affan menyumbang 900 ekor unta dan 100 ekor kuda bersama bahan makanan dan bekalnya. Untuk itu ia habiskan 1000 dinar. Abdurrahman bin Auf menginfakkan 2000 dirham. Umar menginfakkan 100 uqiyah.

Para perempuan Madinah pun tidak ketinggalan. Mereka infakkan perhiasan-perhiasan mereka yang paling berharga. Bahkan, mereka yang tak berpunya pun turut berkontribusi dalam menghadapi perang Tabuk atau dikenal juga dengan sebutan jaisul usrah (perang di masa-masa sulit). Misalnya, Abu Uqail. Ia datang membawa setengah sha’ kurma.

Melihat para sahabat berkorban, orang-orang munafik lalu mencela dan mencemooh mereka. “Halah, sesungguhnya Allah tidak butuh sedekah seperti ini.”

Ketika Abu Khaitsamah al-Anshari datang sambil membawa satu sha’ kurma, maka orang-orang yang tersimpan dengki dalam hatinya mengolok-oloknya. Demikian pula ketika Ibnu Auf datang sambil berkata, “Sungguh aku memiliki dua sha’ kurma. Satu sha’ kupersembahkan untuk Rabbku. Satu sha’ lagi untuk keluargaku.” Kontan mereka yang luka hati langsung berkomentar, “Tidaklah Ibnu Auf memberikan itu kecuali hanya riya’.”

Maka, saat itulah Allah turunkan ayat, “Orang munafik, yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan (yang) mencela orang-orang yang hanya memperoleh (sesuatu yang akan disedekahkan) sekedar kesanggupannya.” (Qs. At-Taubah: 79).

Betapa malu diri ini yang masih gampang curiga pada mereka yang berbuat kebaikan. Betapa sibuk diri ini mencela mereka yang berkorban untuk sesama, sementara kita lalai untuk berbuat yang lebih baik darinya. Ketika bencana alam: banjir atau gunung meletus, atas izin Allah melanda tanah air menjelang pesta demokrasi 2014, betapa saya gampang sekali mencurigai mereka yang berkebajikan, hanya karena mereka memasang atribut dan identitas organisasi.

Saya sering berpikir, “Kenapa kalau ikhlas berbuat, harus pakai seragam organisasi? Kenapa harus kibarkan bendera ormas? Kenapa harus kenakan baju partai? Ikhlas ya ikhlas. Tidak perlu pakai atribut dan embel-embel.” Saya terus curiga dan lupa berkorban yang sama. Sementara mereka juga terus berbuat sebisa yang mereka upayakan. Lama-kelamaan saya merasa malu. Betapa naif saya menelisik keikhlasan orang lain hanya karena atribut yang dikenakan.

Bukankah ikhlas atau tidak, pasti Allah Mahamengetahui. Yang ikhlas akan berbalas. Sekira tidak ikhlas, paling tidak, korban bencana alam telah terbantu. Lagi pula, ikhlas atau tidak ikhlas -menurut saya- adalah perkara orientasi, bukan masalah atribut dan asesoris. Sekira ia diniatkan semata karena mencari keridlaan Allah, seberat apapun ia menunaikannya, maka itulah ikhlas. Maka ketulusan itu akan dirasakan oleh mereka yang terbantu. Mereka lebih mengetahui kiprah dan pengorbanan para relawan itu dibandingkan saya, misalnya, yang hanya mengetahui dari liputan media.

Maka pagi ini, saat mengingati pengorbanan para sahabat menjelang Perang Tabuk dan sikap para pendengki yang mencaci mereka, tiba-tiba saya merasa sangat malu. Saya merasa sok tahu mengenai isi hati orang. Bukankah pada mereka yang berkorban untuk sesama, apapun atribut dan bendera yang mereka kenakan, kita patut berikan apresiasi. Sementara itu, masalah seragam dan bendera, anggap saja itu sekedar identitas untuk dikenali. Persis seperti relawan kemanusiaan kita yang dikirim ke luar negeri atau tim-tim relawan dari TNI, PMI, atau yang lainnya. Mereka kibarkan bendera dan kenakan seragam sebagai identitas. Adapun bagi partai yang bergerak karena hendak dapat simpati publik jelang 2014, masyarakat pun insya Allah dapat menilai mereka. Partai atau ormas yang bergerak karena panggilan jiwa pasti yang akan memiliki daya tahan dalam berjuang. Ia akan berkiprah tak sebatas jelang pemilu. Mereka juga tak bergerak sekedar pencitraan. Yang bergerak sebab ingin peroleh citra, insya Allah, tak mampu bertahan mendampingi masyarakat 24 jam dalam seharinya. Nah, serahkan saja pada masyarakat untuk menilai sendiri.

Sungguh, tugas kita hanya melakukan perbaikan, selagi masih berkesanggupan. Demikian yang Al-Qur’an sampaikan dalam surah Hud ayat 88. Mereka yang bekerja dengan sepenuh pengabdian, tak akan hina hanya sebab cacian. Mereka yang bekerja sebatas kepentingan, tak akan mulia oleh sanjung dan pujian. Jadi rasanya kalau saya teres menerus memasang rasa curiga, bukan mereka yang dirugikan, saya sendiri yang amat naif dan merugi.

Pada mereka yang telah mengabdi dan selama ini selalu saya curigai, maafkanlah saya. Siapa tahu di hadapan Allah, Anda semua jauh lebih mulia daripada saya, yang masih gemar mencela-sedikit pula berkarya. []

Pakaian

Pada banyak hal, sudut pandang materi selalu berpeluang mengecoh. Ia seringkali mengaburkan pandangan kita sehingga sering keliru pula menempatkan orang. Orang-orang dengan sudut pandang materi selalu mengukur orang lain dengan atribut-atribut materi yang dikenakannya.

Jika seseorang itu menampilkan dandanan glamour, ia mudah sekali mentakjubinya. Tapi, jika seseorang berpenampilan sederhana, ia gampang mencelanya. Orang-orang seperti ini susah menemukan kemuliaan seseorang kecuali sebatas barang-barang aksesoris yang dikenakan orang lain. Di tengah kehidupan yang menempatkan tolok ukur materi di atas segalanya, kebiasaan seperti ini gampang dijumpai. Maka, orang pun menjadi risih ketika tampil biasa-biasa saja.

Untuk perkara kesederhanaan ini saya teringat kisah Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khathab. Dari namanya kita mengenali beliau sebagai cucu Umar bin Khathab. Sebagaimana juga kakeknya, Salim tampil sederhana. Suatu hari ia berkunjung ke hadapan amirul mukminin, Sulaiman bin Abdul Malik. Salim, yang mulia karena akhlak dan ilmunya itu datang dengan pakaian sangat sederhana; usang dan terlihat kasar. Tapi oleh amirul mukminin beliau dipersilahkan duduk di singgasana, dengan ramah dan hangat.

Di majelis itu, datang pula murid Salim bin Abdullah, Umar bin Abdul Aziz. Tiba-tiba dari arah belakang, seorang laki-laki berbisik kepada Umar bin Abdul Aziz, “Apakah pamanmu tidak bisa memakai pakaian yang lebih bagus untuk menghadap Amirul Mukminin?” Demikian bisik lelaki dengan pakaian bagus dan mahal itu.

Sang laki-laki yang berbisik itu, mungkin adalah potret wajah kita yang teramat gampang menilai seseorang dari tampilan luar. Tidak sekedar itu, boleh jadi ia juga lukisan wajah kita yang menganggap bahwa kemuliaan diri itu ada pada segala bentuk polesan. Maka tak heran jika ada banyak di antara kita yang memaksa tampil ‘wah’ hanya karena cara pandang ini. Kita akan merasa lebih nyaman jika bisa memasang stiker kampus luar negeri, stiker merek gadget keren, atau juga tempat-tempat wisata yang terkunjungi di kendaraan kita. Kadang di sebagian orang ia terpasang begitu saja, tapi bagi sebagian yang lain mungkin tak sekedar itu; ia adalah status dan bukan sekedar stiker.

Maka, jawaban Umar bin Abdul Aziz pada lelaki pembisik itu patut untuk direnungi. “Aku tidak melihat,” kata Umar, “baju yang dipakai pamanku mendudukannya di tempatmu, dan aku juga tidak melihat baju yang kau kenakan bisa mendudukanmu di tempat pamanku itu.” Jleb! Laki-laki itu terdiam dan kembali ke tempat duduknya. Jawaban Umar bin Abdul Aziz itu terasa menohok, tidak saja bagi sang lelaki dalam kisah tersebut, tapi juga bagi saya yang masih mudah silau oleh gemerlap atribut dan penampilan. []

Ramadhan Kita

Inilah hadits populer yang sering dibacakan para penceramah di setiap Ramadhan. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:

ـ اذا جاء رمضان فتحت ابواب الجنة وغلقت ابواب النار وصفدت الشياط

“Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu.” (H.r. Bukhari dan Muslim).

Dr. Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan dalam “Fii Rihaabu As-Sunnah” bahwa inilah bulan yang diperbanyak sebab-sebab dan pintu-pintu mendulang kebaikan, dikurangi sebab-sebab serta pintu-pintu terjadinya kejahatan dan keburukan. Dari penjelasan Syaikh Qaradhawi kita memahami bahwa Ramadhan merupakan bulan ketika peluang untuk taat kepada Allah begitu luas dan dimudahkan. Peluang berbuat jahat tertutup rapat. Para penggoda pun terbelenggu tak berkutik. Hanya saja ada yang perlu diingat. Peluang-peluang tersebut hanya dapat diraih dengan iman dan ‘ihtisab’. Mereka yang bermalas-malas tidak akan mengenyam manisnya ketaatan kepada Allah ta’ala.

ـ من قام رمضان إيمانا واحتساباً غفرله ماتقدم من ذنبه

“Siapa yang melakukan qiyam (shalat) di bulan Ramadhan atas dasar iman dan ihtisab maka diampuni untuknya dosa-dosanya yang telah lalu.”

Suasana berkebajikan itu begitu kuat. Sementara dorongan berbuat jahat melemah. Setan-setan yang menggoda pun dibelenggu tak berdaya. Tapi apakah itu cukup untuk menjadikan amal kita menguat di Ramadhan ini? Wallahu a’lam. Faktanya, di Ramadhan, ada yang bersemangat, ada pula yang bermalas-malasan. Faktor-faktor ekternal memang diciptakan kondusif untuk berketaatan, tapi jika diri ini tidak memiliki orientasi dan dorongan kuat untuk beramal maka kita hanya menapaki Ramadhan dengan biasa-biasa saja.

Malu rasanya diri ini, Allah telah mudahkan kita untuk taat, tapi begitu menelisik diri, ternyata semangat untuk menghiasi Ramadhan dengan ketaatan tak cukup membara. Ada teman yang telah tilawah sebanyak sepuluh juz dalam waktu sehari-dua hari. Sementara diri ini, lebih banyak membolak-balik halaman mushaf sambil menghitungnya daripada khusyu’ membacanya. Taraweh tertunaikan dengan kemalasan. Makan-minum tetap saja berlebihan. Biaya konsumsi membengkak, dana infaq tak juga beranjak. Subuh berjamaah terasa malas, tidur setelahnya begitu pulas. Menggunjing teramat sering.

Hari-hari Ramadhan ini, kita selalu menelisik. Adakah iman dan ‘ihtisab’ dalam diri kita?