Monthly Archives: September 2010

Menyikapi Ketidaksempurnaan

Sejarah adalah kisah-kisah ketidaksempurnaan. Hanya dengan berbaik sangka sajalah kita akan menuai rahmat dan kemurahan-Nya. Diri kita sendiri, yang diciptakan Allah ‘fii ahsani taqwim’ masih menyisakan ruang kosong ketidaksempurnaan. Dari ketidaksempurnaan itulah kita belajar untuk memiliki kesadaran bahwa Allah-lah Yang Mahakuasa. Lalu, apa yang perlu kita khawatirkan atas ketidaksempurnaan itu ketika kita berdekatan dengan-Nya.

Iklan

Seorang Lelaki dengan 16 Peti Buku

Saya tidak dapat melukiskan kejengkelan wanita itu. Kejengkelan yang muncul tepat di hari perkawinan anak lelakinya. Tentu ada rasa bahagia di hatinya, tapi di samping bahagia, ia merasa jengkel dengan kelakuan anak lelakinya, Muhammad Hatta. Saleha Djamil, sang ibu, tidak bisa memahami Hatta. Bayangkan. Pada istrinya, di hari perkawinan itu, Hatta menghadiahkan buku yang baru saja dikerjakan: Alam Pikiran Yunani. Lazimnya, hadiah perkawinan adalah barang-barang berharga seperti emas atau berlian. Tapi tidak dengan Hatta. Baca lebih lanjut

Laa Taghdlab, Janganlah Kamu Marah, Mi!

SORE ITU, saya tidak tahu persis jam dinding rumah kami menunjuk angka berapa. Hanya kami bertiga berkumpul di rumah. Nadia, anak pertama saya, sedang disuapi ibunya. Tapi sebagaimana kebanyakan anak-anak setiap kali makan selalu lama mengunyahnya, Nadia juga sama. Ia makan sambil membolak-balik Ensiklopedi Bocah Muslim. Lama benar untuk mengunyah satu suapan.

Dan, begitulah kami menyikapi Nadia. Ibunya mulai berbicara dengan nada tinggi. “Nadia, cepat makannya!” kata istri saya. Nadia hanya diam, dan tetap asyik membolak-balik buku Ensiklopedi Bocah Muslim. Baca lebih lanjut

Mereka yang Berjiwa Lapang

Presiden Soekarno dan Sri Sultan HB IX

WANITA ITU sungguh beruntung. Kesalahannya dalam melihat orang tidak berujung maut. Tak lebih karena orang yang dia hadapi adalah laki-laki dengan kerendahan hati yang luar biasa. Kisah itu berujung di sebuah pasar di Yogyakarta. Kranggan. Tak banyak yang mengetahui angka tahun berapa kejadian itu berlangsung. Tapi konon terjadi pada tahun-tahun setelah Indonesia merdeka. Baca lebih lanjut

Bertanggungjawab 100% pada Kesuksesan

MEMANG ini hanya sebuah fabel. Tak ada fakta di dalamnya. Tapi, setiap kisah senantiasa mengibarkan banyak hikmah. Dan, setiap hikmah yang mampu kita serap dengan apik akan menjadikan kita tumbuh menjadi pribadi yang semakin matang. Sekali lagi, ini hanyalah sebuah fabel tentang seekor siput yang merambat tertatih ke puncak pohon yang tinggi. Nafasnya terengah-engah. Sesekali ia berhenti. Lelah. Baca lebih lanjut

Mereka yang Susah Dihapus dari Ingatan

Masjid Nabawi pada suatu siang. Rasulullah terlihat sedang mencari seseorang. Setiap sudut masjid beliau amati. Ia mencari seseorang yang biasa beliau temui di masjid. Seorang nenek tua yang tak pernah dihiraukan oleh yang lain, bahkan oleh para sahabat sendiri. Karena tak ada yang terlalu istimewa dari nenek itu. Hanya satu yang diingat untuk memunculkan gambaran tentang sang nenek: ia biasa membersihkan masjid. Itu saja, tak lebih. Tapi siang itu ia tidak terlihat di masjid dan Rasulullah merasakan ketidakhadirannya. Pada para sahabat beliau menanyakan tentang keberadaan sang nenek, dan sepenggal kalimat ‘yang biasa membersihkan masjid’ menjadi diferensiasi dari sekian perempuan tua yang biasa mendatangi masjid Nabawi. Baca lebih lanjut

Yang Terhormat Anggota Dewan

SINAR MATAHARI belum juga meninggi. Di atas pematang sawah seorang anggota dewan terlihat sedang jogging. Tapi saat itu pandangannya banyak menerawang ke langit. Terlihat ada sesuatu yang dipikirkannya. Mungkin sebuah proyek yang akan menggelembungkan kekayaannya, atau mengembalikan seluruh utang-utangnya selama pemilu. Tiba-tiba ia terperosok ke dalam kubangan lumpur. “Aduh!” teriaknya. “Tolong saya, saya wakil rakyat!” Baca lebih lanjut