Monthly Archives: Oktober 2010

Pelajaran dari Lereng Merapi

Alhamdulillahirrabbil’alamiin, mugi Gusti paring keslametan. Merapi sedang membangun. Jangan katakan, Merapi mau meletus (njebluk).” [Raden Ngabehi Suraksohargo]

Begitulah salah satu pesan yang disampaikan Mbah Maridjan yang terekam oleh sebuah stasiun televisi swasta, dan ditayangkan kembali untuk mengenang Juru Kunci Merapi tersebut. Selasa (26/10/2010) Mbah Maridjan bersama beberapa orang lainnya ditemukan meninggal dilalap awan panas Gunung Merapi. Kematian selalu saja misteri dan pilihan hidup seseorang terkadang susah dipahami, terlebih di tengah kehidupan saat ini. Ketika kehidupan individualisme-materialis lebih mendominasi pikiran dan hati kita. Rasa-rasanya pilihan untuk tetap setia pada janji menjadi bahan tertawaan. “Kalau ruh masih mencintai raga, tak akan terjadi apa-apa. Tapi, jika tidak itulah takdir Yang Mahakuasa,” begitulah kurang lebih penuturan Mbah Maridjan di depan pelataran rumahnya di dusun Kinahrejo beberapa saat sebelum tragedi itu terjadi. Baca lebih lanjut

Iklan

Belajar Kearifan pada Alam

LELAKI ITU menjelang putus asa. Hampir saja ia patah semangat. Selalu saja ia merasa gagal dalam studi. Abû al-Fadhl Ahmad nama lelaki itu (wafat 1449 M). Namun, belakangan ia lebih dikenal dengan nama “Ibnu Hajar” atau secara harfiah berarti “Putra sang batu.”  Seorang pakar hadits terkenal, pengarang kitab Fathul Bari’ yang termashur itu. Tak banyak yang mengenal bahwa semasa dia studi, ia merasa selalu gagal. Hingga suatu hari di hadapan sebongkah batu ia tertegun. Batu itu berlobang hanya oleh tetes-tetes air yang mengenainya. Kesadarannya muncul. Begitulah. Pada sebuah batu ia belajar bahwa dengan ketekunan, kesulitan-kesulitan yang dihadapinya akan teratasi. Sejak saat itu orang menyebut namanya Ibnu Hajar al-Atsqalani, hingga saat ini. Baca lebih lanjut

Antara Kita dan Rasulullah

Ada yang perlu kita renungkan: Ternyata sifat kita dengan sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu cuma beda SEDIKIT saja. Rasulullah sedikit tidur, kita sedikit-sedikit tidur. Rasulullah sedikit marah, kita sedikit-sedikit marah. Rasulullah sedikit makan, kita sedikit-sedikit makan. Rasulullah sedikit-sedikit memikirkan umatnya, kita sedikit memikirkan masyarakat. Rasulullah sedikit-sedikit beramal, kita sedikit beramal. Rasulullah sedikit-sedikit berkorban untuk umast, tapi kita sedikit saja berkorban untuk umat. Kapan kita akan mengejar perbedaan yang hanya SEDIKIT itu. Mari segera bergegas untuk mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Jazakumullahu khairan katsiira buat sahabat yang telah menginspirasi catatan ini]

Memberikan Makna Ulang pada Kebaikan

Wanita itu terdiam, tapi keinginannya masih menyala. keinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Di depannya sang suami hanya bisa terdiam. Dalam gendongannya sang anak tertidur pulas.”Ini kesempatan baik buatku, Mas. Aku kepingin kuliah di luar.” Sang suami masih diam. Seluruh alasan untuk ‘mencegah’ istrinya telah dikemukakannya.

“Ini kesempatan prestise, Mas.”

“Untuk siapa?” tanya sang suami. Baca lebih lanjut

Harapan setelah Kematian

ADA SEBUAH HARAPAN ketika kita benar-benar tidak mampu untuk memenuhi. Ia adalah harapan yang terbetik ketika kematian telah menghampiri. Jangan salah, mereka yang telah mati ternyata memiliki harapan yang besar, bahkan lebih besar dari yang diperkirakan. Tapi, segalanya tidak akan mengubah. Harapan setelah kematian tidak memiliki kekuatan untuk mewujudkan, terlebih bagi mereka yang baru menyadari untuk berbuat baik ketika kematian telah merenggutnya. Baca lebih lanjut

Menimbang Setiap Obrolan Kita

Seorang yang dikenal sangat arif dan bijak suatu saat didatangi oleh beberapa orang. Mereka bermaksud menceritakan seseorang. Wajah mereka menunjukkan semangat luar biasa, sementara lelaki bijak itu kurang menunjukkan minat mendalam. Tapi ia ingin menunjukkan perhatian pada tamunya. Wajahnya yang teduh terus menyunggingkan senyum.

“Kami ingin menceritakan tentang perihal sahabat kita. Konon kabarnya, …” Kata-kata para tamu itu mendadak terhenti. Lelaki bijak itu memberikan isyarat dengan tangannya. “Maafkan saya telah memotong pembicaraan Anda,” kata lelaki itu dengan sangat santun.

“Sebelum Anda bercerita tantang sahabat kita, bolehkah saya mengajukan tiga pertanyaan saja. Setelahnya Anda boleh memutuskan, apakah akan tetap bercerita ataukah tidak,” para tamu itu menganggukkan kepala, menyatakan persetujuan. Baca lebih lanjut

Menang Uruguay: Urung Gue

Mas Gul mencegat saya ketika hendak pulang dari sholat maghrib di masjid sore itu. Tangan saya ditariknya kuat. Kami duduk di serambi. Kebetulan gerimis mulai turun. Hari-hari ini cuaca tidak lagi dapat diperkirakan oleh kedhaifan ilmu manusia. Akhirnya, saya memasrahkan diri dalam tarikan Mas Gul. “Ada apa to, Mas?” tanya saya sambil menduga-duga keinginan Mas Gul.

“Garuda tak lagi sakti,” katanya dengan datar. Saya tak mengerti maksud perkataannya. Apakah ini terkait dengan kesaktian Pancasila yang baru saja diperingati 30 September lalu? Saya hanya diam, karena kebingungan wajah saya ternyata terbaca Mas Gul. Baca lebih lanjut