Akhir Kisah Seorang Pendendam

“Mau mati mulia saja kok ya susah,” kata lelaki yang baru saja digotong ke trotoar jalan itu. Wajahnya penuh darah. Mulutnya terus merintih sambil nggresulo. “Apalagi mau mencari hidup mulia,” imbuhnya. Kami hanya diam sambil mengangkat lelaki itu.

“Waoalah, kok ya aku masih Engkau beri hidup ya Allah,” lelaki itu terus menggerutu. Ia terjatuh dari sepeda yang menimbulkan ledakan dahsyat; semacam bom low explosive; suaranya sedikit lebih dewasa dari mercon lebaran. Namun, ketika ia mendengar orang ribut mengatakan, “Hancur…hancur! Kepalanya pecah.” Dia tersenyum bangga. Batinnya berkata, aksi balas dendamnya sukes besar. Memang ia ingin membalas dendam pada polisi yang telah merobohkan teman-temannya. Ia tidak rela. Maka malam itu ia kayuh sepedanya menuju pos polisi lalu lintas.

Polisi itu number one enemy. Semua polisi. Lelaki itu juga tak mengenal satuan-satuan dalam kepolisian. Yang ia pahami polisi bertanggung jawab atas perlakuan yang diterima teman-temannya. ia geram dan tidak terima. Maka malam itu ia kayuh sepedanya menuju pos polisi lalu lintas. Sebuah benda terikat kuat di tempat duduk bagian belakang. Maka, ketika ia berhasil menabrak polisi yang berdiri angkuh itu, lalu memencet tombol dan menghasilkan ledakan yang cukup mengagetkan, ia merasa bangga. ia terjungkal beberapa meter. Tangannya patah. Wajahnya penuh luka. Tapi sayang, lelaki itu tidak mati.

Saat ia ditandu menuju ambulan, lelai itu tak lagi mampu membuka mata. Perih. Tapi sayup-sayup ia mendengar obrolan orang. “Akhirnya Pak Polisi Wibawa tumbang juga setelah mengabdi lima tahunan,” kata sebagian orang berseloroh. lelaki itu tersenyum lega. Ia bangga, meski tidak mati.

Tiba-tiba seorang polisi melintas dan berkata kepada kawannya. “Untung malam,” katanya sambil tersenyum. “Yang tertabrak cuma Pak Wibawa. Si Patung Polisi!” Lelaki itu menjadi pucat. Ia salah sasaran. Mendadak kepalanya berkunang-kunang dan dia tak lagi tahu apa-apa. Gelap. Lebih gelap daripada malam. Dan, anehnya tak ada bidadari yang menjemputnya.

***

Iklan

7 responses to “Akhir Kisah Seorang Pendendam

  1. “Yang tertabrak cuma Pak Wibawa. Si Patung Polisi!”
    Dan, anehnya tak ada bidadari yang menjemputnya.

    *Coba kalau yg ditabrak Pak Malas. Si Polisi Tidur..

    • Wah, semestinya ceritanya ditambahi, Mas zen.
      Mas, saya hanya ingin menegaskan bahwa kadang seseorang terlalu bersemangat tapi tanpa data dan analisis yang kuat. Terlalu ideologis tetapi kurang mampu bertindak strategis. Jika kita memang ingin memperbaiki keadaan, kenapa harus menebar parade kekerasan yang berepisode. Jika kita ingin menampilkan diri sebagai pemakmur, kenapa harus menghadirkan kegarangan yang penuh kegeraman. Jangan-jangan kita malah salah sasaran. Akibatnya, kita pun tak dapat apa-apa. Persis anekdot di atas. Wallahu a’lam.

  2. Berapa bsarkah ukuran pendendam itu pk Budi? Semisal kita dianiaya dan brdoa pd Alloh agar sorang pendzolim to mndapatkan balzN yg stimpal, p’kah q jg disbt sbg sorang pendendam?

  3. Ada hasrat untuk membalas tanpa pertimbangan yang dibenarkan sekaligus dilakukan dengan berlebihan. Ketika kita didzolimi ada dua hal yang bisa dilakukan. Pertama, membalas yang sama atau menyerahkan kepada Allah balasan atas kedzalimannya. Kedua, memaafkan dan berdoa kepada Allah agar mereka yang mendzalimi kita mendapat hidayah dari Allah.

  4. Jadi, dgn kata lain batasan sorang pendendam itu cuma diri kita sndiri dan Alloh yg tau?!
    Matur kesuwun pk Budi. . .

  5. kok penulis tahu enggak ada bidadari, apa ikut ya…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s