Monthly Archives: November 2010

Mengisi Usia Kita

SELURUH RAMBUTNYA TELAH BERUBAN. Usianya telah memasuki 80 tahun. Tapi, lelaki itu enggan untuk berhenti berkiprah, meski orang-orang seusianya lebih memilih istirah di rumah. Itu bukan pilihannya, meski ia layak untuk memilihnya. Pada usia setua itu ia masih terlibat dalam ekspansi dakwah Islam ke beberapa wilayah. Terakhir, ia ingin mengikuti usaha pembebasan Konstantinopel. Baca lebih lanjut

Iklan

Nilai Usia dalam Amal Kita

Sultan Muhammad al-Fatih Murrad

Sultan Muhammad II, namanya terus dikenang, bahkan hingga hari ini. Pada usia menjelang 22 tahun ia menggantikan ayahnya. Waktu itu 18 Februari 1451 M. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam ad-Daulah al-Utsmaniyyah menjelaskan bahwa sejak muda Sultan Muhammad II gemar menyerap dan menangkap ilmu pengetahuan. Masa mudanya tidak dibiarkan sia-sia. Semangatnya membara. Keinginannya sangat kuat, yaitu menaklukkan Konstantinopel. Ia ingin menjadi orang yang mampu mewujudkan impian berabad-abad kaum Muslimin, sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Konstantinopel akan dapat ditaklukkan di tangan seorang laki-laki, maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa, dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara.” (HR. Ahmad). Baca lebih lanjut

Iman yang Melahirkan Harapan

KITA MULAI saja dari sebuah tempat bernama Syi’ib Bani Muthalib. Di tempat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat berada dalam embargo berkepanjangan. Semua bermula pada bulan Muharram tahun ketujuh nubuwah. Tiga tahun lamanya mereka terkurung dalam kelaparan, kehausan, dan keletihan. Mereka dikucilkan dari masyarakat. Syaikh Shafiyyurrahman  al-Mubarakfury melukiskan bahwa Rasulullah beserta para sahabat hanya memakan dedaunan dan kulit binatang. Anak-anak dan wanita banyak yang merintih kelaparan. Baca lebih lanjut

Adakah Ibrahim dalam Diri Kita?

CERITA tentang kota Makkah dimulai dari doa seorang ayah. “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.” (Q.s. al-Baqarah [2]: 128). Itulah doa Ibrahim ‘alaihissalam. Awalnya adalah sebuah doa, lalu disusul dengan cerita tentang pembentukan peradaban. Namun, doa tidak sekedar rangkaian permintaan. Doa-doa yang dipanjatkan Ibrahim merupakan bentuk kesadaran. Baca lebih lanjut

Kesabaran

“Kesabaran ada pada benturan pertaman.” (HR Bukhari).

Kesabaran pada benturan pertama akan menciptakan daya tahan yang berlipat-lipat, sehingga memudahkan seseorang yang memilikinya untuk menghadapi benturan-benturan berikutnya. Sebab, setelah benturan yang pertama tidak ada yang lebih kuat. Sebaliknya, menghadapi benturan pertama dengan keluhan hanya akan memroduksi toksin-toksin mental yang akan melemahkan daya tahan kita pada benturan-benturan berikutnya.

Cukup dengan bersabar beberapa saat dan saksikan jalan keluar dari kesempitan itu diberikan Allah ta’ala kepada kita. Sekali lagi, cukup memilih bersabar beberapa saat, selebihnya adalah kepasrahan kepada Allah.

Mulailah dari Dirimu!

SEBUAH KAPAL perang raksasa melintasi laut yang tertutup dengan kabut tebal, sang kapten yang gagah perkasa menyerahkan arah kapal tersebut kepada supervisor kapal yang mengamati keadaan laut di depan kapal dari menara pantau tertinggi di kapal tersebut. Suatu ketika sang supervisor berteriak, “Kapten ada kapal di depan kita.”

“Beritahukan kapal itu agar membanting 20 derajat ke arah kiri,” jawab Sang Kapten. Sang supervisor memberikan kode dengan isyarat lampu kepada kapal tersebut, kemudian dibalas dengan perintah agar kapal perang tersebut yang membanting 20 derajat ke arah kiri. Sang kapten sangat marah dan emosi dan memberikan perintah kepada supervisor kapal agar membalas pesan seperti berikut, “Dengar ini adalah perintah dari kapten kapal perang!.” Baca lebih lanjut

Masih Ada Benih-benih Kepahlawanan di Sekitar Kita

SURAT ITU ditulis dengan bahasa sederhana. Namun, cerita yang disampaikan memiliki makna yang sangat berharga. Di dalamnya ada cerita tentang pengorbanan, ketulusan, dan sekaligus kepedulian.

Surat pejuang Muslim, Muhammad Natsir kepada keluarganya menjadi inspirasi tentang bagaimana hidup kita sebenarnya akan memiliki makna manakala dihibahkan untuk umat. Semua gerak jiwa pengabdian itu terekam jelas dalam surat-suratnya. Baca lebih lanjut