Nilai Usia dalam Amal Kita

Sultan Muhammad al-Fatih Murrad

Sultan Muhammad II, namanya terus dikenang, bahkan hingga hari ini. Pada usia menjelang 22 tahun ia menggantikan ayahnya. Waktu itu 18 Februari 1451 M. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam ad-Daulah al-Utsmaniyyah menjelaskan bahwa sejak muda Sultan Muhammad II gemar menyerap dan menangkap ilmu pengetahuan. Masa mudanya tidak dibiarkan sia-sia. Semangatnya membara. Keinginannya sangat kuat, yaitu menaklukkan Konstantinopel. Ia ingin menjadi orang yang mampu mewujudkan impian berabad-abad kaum Muslimin, sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Konstantinopel akan dapat ditaklukkan di tangan seorang laki-laki, maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa, dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara.” (HR. Ahmad).

Untuk impian itu beliau kerahkan 250.000 pasukan terlatih. Dia hadirkan banyak ulama di tengah pasukannya. Dia kerahkan para insinyur untuk memproduksi  meriam yang salah satunya diberi nama meriam Sultan Muhammad. Konon, bobotnya mencapai ratusan ton dan membutuhkan puluhan lembu untuk menariknya. Sultan Muhammad sangat serius dengan cita-citanya. Disebabkan kota Konstantinopel merupakan sebuah kota laut, yang tak mungkin dikepung kecuali dari lautan, maka beliau juga menyiapkan sekitar 400 kapal. Seluruh persiapan itu berlangsung hingga akhirnya pada Kamis 26 Rabiul Awwal 857H bertepatan dengan 6 April 1453M, pasukan itu telah mendekati Konstantinopel.

Pukul satu dini hari, tepat pada Selasa, 29 Mei  pasukan yang dipimpin Sultan melakukan serangan umum ke kota Konstantinopel. Pada hari itu pula impian delapan abad kaum Muslimin terwujud di tangan seorang pemuda yang genap berusia 24 tahun. Namanya dikenang hingga kini. Orang lalu menyebut sang Sultan sebagai Muhammad al-Fatih Murrad.

Saat ini saya agak sulit membayangkan seseorang berusia 24 tahun sanggup memimpin pasukan dalam jumlah besar untuk menaklukkan sebuah kota yang sangat kuat. Seseorang yang dalam usianya yang masih sangat belia, memiliki kematangan dan jiwa kepemimpinan yang luar biasa, merupakan sesuatu yang langka untuk zaman kita. Akan tetapi, tidak untuk beberapa puluh tahun yang lalu.

Pada 1928 di Rotterdam, Bung Hatta yang genap berusia 26 tahun ditangkap dan disidang di Den Haag. Saat itu beliau membacakan pledoi, “Hanya satu tanah air yang dapat disebut Tanah Airku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu adalah usahaku.” Sebuah pledoi yang mencerminkan semangat, prinsip, dan kematangan jiwa. Bandingkan dengan usia kita saat ini yang tak bertaut jauh dengan Hatta pada 1928. Adakah semangat dan kematangan itu kita miliki? Ataukah, kita lebih banyak mengisinya dengan hura-hura dan gaya hidup permisivisme?

Jika kita baca sejarah, Hatta tidaklah sendiri. Ada tokoh-tokoh lain yang telah mengisi usia muda mereka dengan kerja-kerja kepahlawanan. Bung Tomo yang menyemangati pejuang republik dengan pidatonya di RRI pada November 1945 berusia 24 tahun. Soekarno sejak usia 21 tahun telah aktif dalam pergerakan dan mulai menulis rutin di koran Oetoesan Hindia milik Sarekat Islam. Demikian pula halnya dengan Mohammad Natsir dan tokoh-tokoh lainnya.

Usia merupakan batas waktu yang diberikan Allah ta’ala kepada kita untuk menjalani kehidupan ini. Sepanjang batas waktu itu kita dituntut untuk mengisinya dengan kerja-kerja produktif. Inilah yang dapat kita pahami dari firman Allah ta’ala, “Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya (ahsanu’amalâ).” (Qs. al-Mulk [67]:2). Yang dituntut tidak sekedar yang terbanyak amalnya (aktsaru ‘amala), tapi yang terbaik amalnya.

Tapi, batas waktu itu ternyata sangat rahasia untuk kita ketahui. Tak ada satu pun di antara kita yang mengetahui kapan batas waktu hidup kita berakhir, kecuali Allah ta’ala. Kerahasiaan ini tentu membawa konsekuensi. Kita tidak dapat memilih dan menentukan kapan waktu paling tepat untuk melakukan kerja-kerja produktif itu. Akhirnya, pilihannya tinggal satu, yaitu menjadikan setiap satu satuan waktu yang dimiliki berbanding lurus dengan (minimal) satu unit amal.

Ini mesti dilakukan jika menghendaki ketika Allah menentukan batas usia terakhir kita di dunia ini, kita sedang melakukan kerja-kerja kebaikan, dengan jiwa yang rindu akan keridlaan Allah. Inilah saat-saat paling dinantikan. Saat kematian mendatangi kita dengan husnul khâtimah. Saat itulah kematian bukan lagi sebagai tragedi. [A09]

Iklan

4 responses to “Nilai Usia dalam Amal Kita

  1. renungan luar biasa. trima kasih..

  2. Sangat mebantu saya, matur nuwun…

  3. karnadi kasan sardji

    Semoga artikel2 di situs ini banyak yang membacanya….Isinya sangat informatif dan komunikatif…terima kasih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s