Rindu Kita pada Anak-anak

Bukan pekerjaan ringan bagi Sufyan Atsauri untuk meninggalkan Kufah dan untuk sementara waktu tinggal di Makkah. Meninggalkan keluarga beserta anak sepuluh tahun yang sangat dicintainya sesekali mendatangkan kerinduan juga.

Suatu hari, Muhammad bin Isham, kawan karib Sufyan Atsauri yang tinggal di Kufah berkeinginan untuk menunaikan ibadah di Makkah. Sebelum berangkat ia sempat bertemu dengan Sa’id bin Sufyan Atsauri.

“Tolong sampaikan salam untuk ayahku,” katanya pada Muhammad bin Isham. “Katakan pada beliau betapa aku sangat merindukannya.” Begitu pesan Sa’id untuk ayahandanya yang tinggal sangat jauh darinya.

Begitu sampai di Makkah Muhammad bin Isham melakukan thawaf. Setelah itu ia menemui Sufyan Atsauri. Lelaki yang dicarinya rupanya hendak mengajar. Di sekelilingnya telah berhimpun banyak orang. Melihat Isham datang, Sufyan bergegas menemuinya. Berbincang tentang kota sekaligus orang-orang yang telah beberapa lama ditinggalkannya. Sampai akhirnya Isham menyampaikan pesan kerinduan Sa’id, putra Sufyan Atsauri.

Seketika itu juga Sufyan memutuskan untuk tidak mengajar. Ia melakukan thawaf wada’, lalu shalat di belakang maqom Ibrahim dan mengucapkan salam perpisahan kepada Ka’bah. Kepada sahabatnya, Muhammad bin Isham, Sufyan Atsauri berpesan, “Sampaikan kepada orang-orang, hari ini aku tidak mengajar.”

“Hendak kemanakah engkau?” kata Isham dengan penuh keheranan.
“Aku hendak pulang ke Kufah.”
“Tapi orang-orang ini menunggumu untuk mendapatkan ilmu darimu. Engkau akan memperoleh pahala, bahkan bila mereka hanya mengamalkan sebagian saja dari ilmu itu,” kata Isham.

“Sahabatku, aku lebih tahu tentang perkara ini daripada engkau. Engkau datang dengan hal wajib yang harus aku tunaikan, yaitu pulang menemui anakku. Lalu, kamu menganjurkan aku untuk tetap tinggal di sini melakukan hal yang sunah dan menyia-nyiakan hal yang wajib? Sungguh aku juga telah rindu dengan anakku. Ketahuilah, sesungguhnya, yang disebut dengan orang yang berbakti itu adalah berbuat baik kepada orangtua dan juga berbuat baik kepada anak-anaknya,” jawab Sufyan. Maka, hari itu juga Sufyan berangkat ke Kufah menemui anaknya dan meninggalkan majelis ilmunya di Makkah.
_______________________
Adakah rindu kita pada anak-anak begitu besar? Layaknya kerinduan Sufyan Atsauri pada putranya. Bagi Sufyan Atsauri pulang menemui anak-anak di rumah adalah kewajiban orangtua. Ia merupakan perbuatan baik yang harus diutamakan.

Ketika kita begitu mudah melupakan anak-anak dan melalaikan kerinduan anak-anak pada orangtua, Sufyan Atsauri memberikan contoh sebaliknya. Pada beliau kita belajar bahwa perkara anak bukan perkara sederhana. Perkara memenuhi kerinduan anak bukanlah perkara yang patut disepelekan.

Jika selama ini kita begitu gampang meninggalkan anak-anak –dengan alasan apapun, terlebih kerja — adakalanya kita perlu menanyakan kepada anak-anak, sudah berlebihankah kita meninggalkan anak-anak selama ini. Ketika mereka mulai menyampaikan kritik tajam tentang diri kita yang jarang pulang, atau pulang ketika larut malam, berhentilah sejenak. Berikan waktu terbaik untuk anak-anak. Ketika mereka berteriak “Horee, ayah sakit. Jadi, bisa bareng-bareng di rumah!” sadarilah pasti ada yang salah yang telah kita perbuat pada anak-anak.

Semoga anak-anak tidak menjadi yatim piatu di saat orangtuanya masih sibuk beraktivitas. Rasulullah yang lebih sibuk dari kita masih punya banyak waktu untuk anak-anak. Semoga Allah kuatkan kita agar menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak. []

Pagi hari, 26 November 2011
yogyakarta darussalam, arafah 9

*ilustrasi: 1t4juwita.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s