Monthly Archives: November 2012

Sang Muazin

Teringat teman-teman di masjid Jogokariyan yang pernah menuturkan kisah tentang Sang Muazin.

Lelaki itu, 75 tahun usianya, setiap hari ia isi hidupnya dengan kebaikan. Ialah orang pertama yang datang ke masjid, ia pula yang paling belakang meninggalkan masjid. Membuka dan menutup pintu serta jendela masjid. Menyalakan lampu dan mematikannya setelah jamaah pulang. Lalu ia pula yang mengumandangkan azan. Konon, yang khas dari beliau adalah cengkok azannya yang bernada tembang Jawa. Tujuh puluh lima tahun usianya, dan kebiasaan baik itu tetap terjaga.

Suatu hari menjelang Ashar lelaki itu bergegas ke masjid. Ia tempuhi jalan seperti hari-hari biasanya. Bersama jamaah lain ia menuju masjid. Tapi, di jalan itu, jalan yang biasa ia lalui setiap kali menuju masjid, ia jatuh terkulai sebelum azan Ashar sempat ia kumandangkan. Dokter yang memeriksanya kemudian, memberikan penjelasan, “Pak Sahid,” demikian ia sering dipanggil, “beliau jatuh karena meninggal, bukan meninggal bersebab jatuh.” H. Sahid Djososoewito, nama lengkapnya. Kematiannya sangat indah, terjadi ketika kakinya melangkah menuju rumah Allah. Akhir dari kisah hidupnya adalah kebaikan, sebagaimana setiap saat beliau selalu berusaha menghiasi hidupnya dengan kebaikan pula.

KEMATIAN memang tak pernah terbongkar rahasianya. Waktu dan tempatnya tak pernah dinyana sama sekali. Tapi dari sana kita belajar bahwa hakikat kematian adalah perintah untuk istiqamah dalam kebaikan. Dengan senantiasa menjaga diri agar hidup ini terisi dengan amal kebaikan maka peluang untuk memperoleh ‘husnul khatimah’ Insya Allah juga tinggi. Menjaga niat agar senantiasa berada dalam dorongan untuk taat kepada Allah adalah langkah awalnya.

Karena kita tak pernah menduga apakah tulisan kita adalah yang terakhir atau masih mungkin berlanjut maka menulislah untuk kebaikan. Bersebab kita tak pernah menyangka, apakah ucapan kita adalah yang terakhir ataukah tidak, maka berusaha keras kita menjaganya agar yang terucap hanyalah kebaikan. Hanya karena kita tak pernah mengetahui apakah perjumpaan kita dengan keluarga, sahabat, dan orang lain adalah yang terakhir ataukah tidak, maka isi dan tutuplah tiap pertemuan dengan kebaikan.

Karena kematian selalu tak dinyana, maka tiap luka yang kita goreskan pada sahabat segera susuli dengan permohonan maaf. Karena maut tak pernah diduga datangnya, maka berusaha kuat kita untuk tetap taat kepada-Nya.

Maka, saya pun sampaikan mohon maaf sekiranya ada banyak tutur kata dan laku sikap yang penuh khilaf pada sahabat sekalian. Semoga Allah limpahkan dorongan dalam diri kita untuk selalu dalam ketaatan kepada-Nya. []

Iklan

Sopir

Karakter sopir (driver) dengan penumpang (passanger) tentu sangat berbeda. Para sopir senantiasa terjaga dan berani mengambil resiko. Mereka juga orang-orang yang harus segera mengambil tindakan jika sewaktu-waktu jalanan macet. Mncari jalan-jalan alternatif yang memungkinkan ditempuh. Sopir juga orang yang paham tujuan serta jalan yang harus dan layak dilalui.

Berbeda dengan sopir, penumpang biasanya lebih nyantai. Ia punya tujuan, tapi memberikan kendali perjalanan kepada orang lain. Beberapa di antara mereka bahkan tidak peduli dengan perjalanan. Asyik dengan diri sendiri atau kadang lebih memilih tidur.

Jadilah seperti sopir dalam hidup ini. Menjadi orang yang berani menanggung resiko, orang yang tahu tujuan dan cara menempuhinya, kreatif dan inovatif, kaya akan alternatif tatkala berhadapan dengan tantangan dan hambatan, berani membuat terobosan dan memasuki hal-hal yang new and diffent, serta selalu paham akan realitas (fiqhul waqi’). Menjadi seperti sopir sama artinya dengan menjadi seorang pemimpin. Untuk menjadi lebih profesional maka ia pun harus selalu meningkatkan kompetensinya. Seorang penumpang tidak perlu kompetensi khusus. Semakin tinggi kompetensi yang dimiliki, biasanya, seorang jauh lebih tenang menghadapi banyak kemungkinan di jalan.

Ngomong soal sopir, saya jadi teringat kisah berikut. Seorang lelaki pada malam minggu yang gelap dengan hujan yang mengguyur deras memutuskan untuk pulang dengan naik taksi. Lama ia menunggu, sampai akhirnya sebuah taksi merapat dan menghampirinya. Sepanjang perjalanan, ia mengigil kedinginan. Sebagian pakaiannya basah terkena tempias hujan ketika tadi menunggu taksi. Itulah sebabnya, sejak awal naik ia lebih memilih diam.

Rupa-rupanya sang sopir mengendarai mobil dengan sangat kencang. Padahal, jarak pandang teramat pendek. Merasa tidak nyaman dan dipenuhi kekhawatiran, lelaki itu berkeinginan menegur sang sopir. Ia tepuk pundak sang sopir, “Pak, tidak usah ngebut!” katanya pelan dengan suara berat dan menggigil.

Sang sopir kaget lalu serta merta mengerem mendadak. Lelaki itu terguncang. Beberapa saat sang sopir terlihat diam. nafasnya tersengal. “Ada apa, Pak?” tanya sang penumpang.

Sang sopir menghela nafas, “Mas, saya mohon Anda tidak lagi menepuk pundak saya. Ini kali pertama saya menjadi sopir taksi. Dan, Anda adalah penumpang saya pertama kalinya.” Lelaki penumpang itu berubah pias wajahnya. Pikirnya, ia menumpang taksi yang salah.

“Jadi, ini untuk pertama kalinya bapak menyetir mobil?” tanya lelaki itu. Sang sopir menggelengkan kepala. “Lalu kenapa Anda terlihat kaget dan menginjak rem secara mendadak?”

“Maaf, Mas. Selama saya jadi sopir saya belum pernah sekalipun ditepuk pundak saya dari belakang. Sama sekali. Ini juga pertama kalinya dalam hidup saya, penumpang menepuk pundak saya,” jawab sang sopir.

“Lha, sebelum ini bapak jadi sopir apa?”

“Saya sopir mobil jenazah, Mas.” []

Semoga hari ini Allah limpahkan kebarakahan untuk sahabat sekalian beserta keluarga. Salam.

Sabtu dan Kisah Sebuah Negeri di Tepian Laut

Pada setiap Sabtu, seperti juga hari ini, saya kembali teringat pada sebuah negeri di tepian laut yang diabadikan kisahnya dalam Al-Qur’an (Qs. 7: 163). Sabtu. Inilah hari yang diwajibkan bagi Bani Israel untuk istirah dari semua aktivitas dunia. Taurat memerintahkan mereka untuk mengisi Sabtu dengan ketaatan kepada-Nya. Tapi begitulah kisah itu bermula. Setiap perintah, sebagaimana juga larangan, selalu diikuti dengan ujian ketaatan.

Bentuk ujian bisa bermacam cara. Pada negeri di tepian laut itu, pada sebuah hari Sabtu, ujian itu datang dalam bentuk berlimpahnya peluang. Ia tentu saja sangat menggoda. Bayangkan, pada hari yang dilarang itu, ikan-ikan datang berjubel dari lautan, terapung-apung di permukaan air. Menggiurkan memang. Sebab, di hari selain Sabtu, ikan-ikan tak sebanyak itu.

Adakah hal yang sama terjadi di era kita? Pola itu masih akan kita jumpai. Bentuknya yang mungkin beda. Kelalaian dapat dilahirkan dari berlimpahnya peluang dan keuntungan. Pada kisah di tepian laut itu, cerita terus berlanjut.

Kelalaian itu mendorong sejumlah orang untuk mengingatkan. Tak henti mereka berusaha mengingatkan. Tapi, begitulah kisah pada Sabtu itu. Setiap perintah, setiap ujian, selalu menyeleksi orang-orang. Ada yang lalai, ada yang taat dan mengingatkan, dan ada juga yang tak melanggar tapi diam menyaksikan kemaksiatan. Golongan ketiga itulah yang terkisahkan dalam Qs.7:164. Seakan penuh kearifan mereka pertanyakan tindakan para penyeru kebenaran, “Kenapa kamu nasihati suatu kaum yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan azab yang keras (adzaban syadidan)?”

Maka mereka yang gigih memeringatkan itu, tetap berteguh sikap, “Supaya kelak kami punya alasan di hadapan-Nya dan agar mereka insyaf bertakwa.” Orang-orang ini berusaha maksimal menyempurnakan tugas, mencegah kemungkaran, dan mengingatkan agar kembali insyaf menempuhi jalan ketaatan. Tugas tersebut harus terus ditunaikan, meski orang lain membacanya dengan kacamata ketidakmungkinan.

Kisah tentang hari Sabtu akhirnya berujung pada makna kepedulian setelah sebelumnya bertutur tentang ketaatan yang diabaikan. “Kami selamatkan,” kata Allah ta’ala, “orang-orang yang mencegah kemungkaran. Kami timpakan pada orang dzalim siksaan yang keras.” (Qs.7:165). Mereka yang tak jahat tapi juga tidak peduli bukan orang yang didambakan. Pada sebuah kisah tentang hari Sabtu dan negeri di tepian laut kita belajar untuk menjadi lebih peduli karena ketidakpeduliaan hanya mendatangkan kerugian. []

Setiap Senin Indonesia Teringat Gaza, Mestinya

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan….”

“Ayah setiap senin kami di sekolah mengucapkan kalimat itu saat upacara. Memangnya penjajahan itu masih ada, Yah?” kata seorang anak kecil kepada ayahnya. Sang ayah mengangguk.

“Nak, penjajahan itu masih ada,” jawab sang ayah yang segera dicecar pertanyaan sang anak. “Siapa Yah yang jahat menjajah?”

“Israel yang menjajah Palestina, Nak. Kau simak berita di teve. Anak-anak pada ditembaki. Ratusan orang mati. Semoga mereka syahid, Nak.” Sang anak mengangguk. Air matanya meleleh tak tertahankan. “Ayah, aku sedih. Aku kasihan dengan anak-anak yang ditembaki itu. Israel jahat, ya Yah?”

Sang Ayah hanya mengangguk. Diusapnya kepala sang anak. Matanya menerawang ke langit-langit rumah. Ia membayangkan, di Gaza, kota yang porak-poranda oleh rudal Israel itu, mungkin ada banyak Ayah yang tak lagi dapat mengusap kepala anaknya. ada banyak anak tak sempat dibelai ayahnya, karena rudal-rudal Israel memisahkan mereka. Ia teringat pula perkataan seorang ibu Palestina di depan jenazah anaknya, “Nak, titip salam untuk ayahmu di sana. Ibumu akan terus melanjutkan perjuangan kalian. Kematianmu tak pernah sia-sia. Tunggu ibu ya, Nak. Ibu sangat menyayangimu.Sangat menyayangimu.” []

Membaca Sang Presiden

Jika ada presiden di dunia ini yang memilih hidup sangat sederhana maka salah satu nama yang dapat tercatat adalah Jose Mujica, Presiden Uruguay. Gajinya sebesar kurang lebih 12000 Dollars (hampir 120 juta), 90%-nya ia sumbangkan untuk kegiatan amal. Nyaris setiap bulan ia hanya menerima tak lebih dari 800 ribu rupiah. Ia sendiri lebih memilih tinggal di sebuah kawasan pertanian, yang jalan menuju rumahnya belum di aspal. Pepe, demikian ia dipanggil, tak berpengawal lengkap layaknya rombongan kepresidenan. Ia hanya ditemani dua orang polisi. Tak lebih dari itu.

Bersama istrinya, ia menanam bunga-bunga, yang dijual untuk tambahan pendapatan. Apa yang dilakukan Pepe tidak untuk pencitraan dan popularitas. Ia sendiri sangat bangga dengan pilihan hidupnya. Undang-undang di Uruguay hanya membatasi seorang Presiden memimpin sekali masa saja. Itu artinya, pada 2014 nanti ia akan pensiun. Lelaki berusia 77 tahun itu hanya memiliki kekayaan tak lebih dari 10 juta saja.

Kisah tentang Pepe tidak serta merta melahirkan anggapan bahwa pemimpin-pemimpin yang tidak hidup seperti dirinya menjadi tercela. Sama sekali tidak. Memang ini terkait dengan pilihan hidup. Kita kagum dengan orang-orang yang bersikap sederhana, seperti halnya Pepe, Agus Salim, Natsir, atau kisah para anggota dewan yang berkantor dengan naik bus kota dan tinggal di rumah kontrakan. Tapi kita tentu lebih bangga pada mereka yang memilih hidup untuk berkhidmat bagi kemaslahatan orang lain. Merekalah orang-orang yang terlibat. Mereka pulalah orang-orang yang peduli.

Kepada mereka akhirnya saya belajar: menjadi peduli memang tidak berkait dengan gaji. Kepeduliaan bertali erat dengan orientasi. Bertulus ikhlas membersamai anak-anak di sekolah tidak dapat diukur dengan gaji seberapapun. Berapa gaji yang diperlukan agar para guru bersedia mengusap ingus anak-anak dengan sepenuh hati? Senyum tulus kepada pelanggan dapat dilakukan oleh siapapun yang memiliki orientasi pelayanan dan kepedulian.

Nah, jika mereka yang bekerja sepenuh hati tidak dapat dinilai dengan gaji setinggi apapun, lebih layakkah jika mereka digaji dibawah kelayakan?

Gadis Kecil Penjaja Roti

Seorang anak muda pada sebuah siang yang terik memasuki sebuah rumah makan. Sambil menanti makanan yang dipesannya, ia membaca sebuah koran. Tak ada berita baru. Tiap hari koran lokal dan nasional hanya menyajikan berita yang itu-itu juga. Gosip pemerasan anggota dewan terhadap BUMN, rel kereta anjlok, orang-orang yang mulai sibuk mematut diri agar tercalon sebagai presiden negeri ini, anak-anak yang semangat sekolah dengan telanjang kaki, sekolah ambruk, rumah diterjang puting beliung. Ah, rasanya negeri ini hanya mampu memberitakan masalah, pikirnya.

Tiba-tiba lamunanya dikejutkan oleh kedatangan anak kecil. Cantik wajahnya. Ikal rambutnya. Di tangannya yang mungil tertenteng sebuah tas berisi roti-roti. “Permisi Om, saya tawarkan roti-roti enak untuk mengganjal lapar. Asli buatan ibu saya. Tanpa bahan pengawet. Om mau pilih yang mana, terserah,” katanya sangat lancar. Lelaki muda itu sangat tertarik dengan kemampuan anak itu berjualan. Tapi siang itu ia memang tidak ingin beli roti. Ia ingin makan nasi. “Maaf Dik, Om sudah pesan nasi. Terima kasih. Mudah-mudahan lain kali, ya.” Anak itu pergi sambil menyunggingkan senyum. Indah dan cantik sekali.

Untuk kedua kalinya, gadis kecil itu mendatangi sang lelaki. “Kelihatannya pesanan Om masih lama. Saya kira Om membutuhkan roti untuk mengganjal rasa lapar sambil menunggu pesanan Om dihidangkan. Bagaimana Om? Sekali lagi, asli buatan ibu saya. Tanpa bahan pengawet,” katanya sambil tetap tersenyum. Sambil tersenyum pula lelaki itu menggelengkan kepala. Gadis kecil itu melangkah gontai lalu duduk di emperan toko. Ia tertunduk, tapi tak ada raut putus asa di wajahnya. Untuk kesekian kali ia datangi sang lelaki yang mulai makan.

“Maaf Om saya mengganggu lagi. Siapa tahu Om butuh oleh-oleh untuk adik dan keluarga di rumah? Daripada Om harus mampir di toko roti, mungkin roti buatan ibu saya ini cukup layak untuk oleh-oleh Om. Bagaimana?” Senyum gadis itu tetap tidak tertinggal. Karena sudah berulang kali didatangi, lelaki itu mengeluarkan uang dua puluh ribuan. Ia berikan pada gadis kecil itu. “Ini sedekah dari Om,” katanya sambil teringat pengajian di teve kalau sedekah akan bikin kaya. Gadis itu menerima uang lalu bergegas menemui pengemis yang duduk di emperan. Uang itu diberikannya kepada sang pengemis. Lelaki muda yang terus mengamati sang gadis merasa tersinggung. Ia panggil gadis itu sambil memendam rasa heran.

“Kenapa uang itu kamu kasihkan orang lain? Itu untuk kamu, Dik.”

“Maafkan saya Om,” katanya, “Pertama, uang itu telah Om berikan pada saya. Jadi itu sudah jadi milik saya. Kedua, ibu saya selalu mengajarkan agar memperoleh uang dari hasil kerja. Om tidak membeli roti saya. Bagaimana saya akan menjawab pertanyaan ibu, saya pulang dengan membawa uang sementara roti masih utuh. Tentu itu sangat menyakitkan hati ibu saya. Saya tidak mau melakukan itu. Saya kira bapak pengemis buta itu lebih berhak menerima uang Om daripada saya,” kata anak itu tuntas-bernas. Lelaki muda itu tertegun. Hari itu ia belajar dari seorang gadis kecil penjaja roti.

“Baik. Berapa semua roti yang kau bawa hari ini. Om borong semua!” katanya. Gadis itu berbinar bahagia, “Benarkah Om? Semuanya seratus ribu. Terima kasih, semoga Allah limpahkan barakah untuk Om.”

Sambil mengisahkan kembali cerita di atas, saya teringat pada sosok gadis kecil penjual madu yang pada suatu sore, ba’da Maghrib, ia datang mengetuk pintu. Seperti gadis dalam cerita di atas, ia sangat cantik. Tutur katanya santun dan sangat pintar menjajakan. Kami yang sejak awal tidak berniat beli madu akhirnya membeli juga. Ternyata sang ayah menanti di jalan. Ketika hendak pergi pun, gadis kecil itu pamitan dengan santun, sambil beberapa kali berterima kasih.

Saya salut pada orangtua yang mampu menanamkan kemandirian sejak kecil pada anak-anak mereka. Orang tua yang berhasil mendidik anak-anak mereka akan nilai kehormatan bekerja dan rendahnya sikap meminta-minta. Pada mereka saya ingin sekali belajar. []