Monthly Archives: Desember 2012

Memuliakan Guru Anak-anak Kita

Ada satu hal yang terlupa dari sekolah-sekolah kita. Mereka berusaha dekat dan berakrab-akrab dengan anak-anak, tapi luput tanamkan adab. Guru-guru berupaya merangkul anak-anak dan mengenali seluruh potensi serta keragaman mereka, tapi tak ingat bahwa adab perlu pula ditegakkan: adab terhadap ilmu, adab pula terhadap guru. Ini bukan perkara guru-guru yang gila hormat. Ini perkara kunci dalam menempuhi jalan menuntut ilmu.

Maka, tak mengherankan jika anak-anak teramat akrab, tapi banyak di antara mereka tak memberi hormat. Anak-anak seakan berteman dengan para guru, tapi jauh dari memuliakan. Sekali lagi, ini bukan hasrat untuk dihormati atau dorongan kuat untuk dimuliakan. Ini perihal kunci-kunci pembuka ilmu, jika memang itu yang dicari dari sekolah.

Bukankah salah satu jalan untuk membuka pintu ilmu adalah takwa kepada Allah. “Dan, bertakwalah kepada Allah, dan Allah akan mengajarkan ilmu kepada kalian.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 282). Ketakwaanlah yang menempatkan kesantunan dalam bertutur, kesopanan dalam bersikap, pemuliaan pada yang berilmu, dan penghormatan pada yang lebih tua terlaksana dengan indah dalam diri para murid. Mereka takut pada Allah, dan oleh karenanya mereka pun memuliakan ilmu dan ahlinya.

Maka betapa indah jawaban Iskandar Al-Maqduni tatkala ditanyakan kepadanya, “Mengapa kau doakan gurumu dua kali sedang ayahmu hanya sekali saja?” Dengan yakin ia jawab, “Ayah menjadi perantara hidup duniaku sedang guru dengan ilmunya, menjadi perantara hidup akhiratku. Andai Ayahku sekaligus menjadi guruku, pasti tiga kali untuknya kupanjatkan doa.” Ini bukan kisah kedurhakaan. Ini kisah tentang pemuliaan.

Berhati-hatilah untuk berkomentar tentang guru-guru anak-anak kita di hadapan anak kita sendiri. Jangan sampai ucapan kita tentang para guru itu, melunturkan rasa hormat anak-anak pada mereka. Jangan sampai yang tertangkap oleh anak-anak tentang guru-guru mereka adalah cela. Ini bukan perkara sederhana. Ini perihal bagaimana kita menanamkan adab pada guru dalam diri anak-anak kita.

Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ menuturkan kisah sebagian ulama yang terbiasa berdoa menjelang berguru: Ya Allah, tutuplah aib guruku dari penglihatanku, dan janganlah Engkau hilangkan barakah ilmunya dariku.” Doa itu terpanjatkan semata-mata untuk mempertahankan sikap hormat kepada guru, sekaligus menjaga kebarakahan ilmunya agar tidak berkurang sedikit pun.

Ada banyak kisah tentang perkara ini. Semoga yang sedikit terkisahkan telah cukup mengembalikan rasa hormat kita pada para guru. Agar anak-anak kita pun memuliakan guru-guru mereka. []

Iklan

School Marketing | Saat Sekolah Perlu Menanggapi Kritik

Pada 1989, Exxon Valdez tanker minyak karam. Tanker itu mulai menyebarkan minyaknya di pantai Alaska. Dalam waktu singkat, 1.260.000 barel minyak membanjiri lautan dan menjadi peristiwa kebocoran minyak mentah terbesar di sepanjang sejarah Amerika. Setelah ditelusuri, ternyata kapten dan wakil kapten kapal tidak dalam kondisi yang layak untuk menahkodai kapan tanker. Pertama, wakil kapten tidak memiliki kualifikasi yang layak untuk menahkodai. Kedua, beberapa awak kapal termasuk kapten sedang dalam keadaan mabuk saat mengarahkn kapal.

Sayangnya saat itu, Exxon tidak bertindak cepat untuk menanggulangi bencana itu. Sudah lebih dari 24 jam pasca kejadian, Exxon tidak mengambil tindakan nyata untuk mencegah agar kontaminasi tidak menyebar ke wilayah lainnya. Dari segi publikasi, perusahaan juga tidak bersikap terbuka pada kalangan media. Saat beberapa media berusaha meminta keterangan dari perusahaan, Exxon selalu menghindar sementara itu minyak semakin menyebar tidak terkendali. Jumpa pers yang dilakukan Exxon justru memperburuk citra perusahaan.

Usaha media untuk menggali informasi terus berlanjut. Pimpinan Exxon diundang pada satu acara bincang-bincang di televisi. Pada saat acara pimpinan tersebut terlihat gugup dan menolak untuk menjelaskan laporan yang diterimanya mengenai isu kebocoran minyak. Sebaliknya ia malah menyalahkan kalangan media yang terlalu melakukan pemberitaan berlebihan pada kejadian ini.

Akibatnya, Exxon mengalami dua kerugian. Pertama Exxon menanggung biaya besar (sebesar 7 miliar dolar) untuk biaya pembersihan dan kedua, hancurnya reputasi perusahaan karena kesalahan dalam penanganan bencana. Akibat kejadian ini, Exxon jatuh dari urutan pertama menjadi urutan ketiga pada perusahaan yang beroperasi di industri minyak.

KISAH di atas menarik untuk kita cermati. Barangkali sama dengan sebuah perusahaaan, layaknya Exxon, sekolah-sekolah yang tidak responsif meyelesaikan masalah pelayanan publiknya boleh jadi akan mengalami nasib yang hampir serupa. Kesalahan dalam merespon masalah, sekaligus ketidaksigapan dalam membaca masalah akan memperparah keadaan.

Itulah sebabnya, masukan sekecil apapun terhadap sekolah perlu segera direspon dan ditanggapi dengan baik. Terlebih jika memang demikianlah yang terjadi. Nah, sayangnya, beberapa sekolah lebih disibukkan untuk menelisik motif kritikan daripada bersegera merespon dan menyelesaikan masalah. Sikap tertutup, sebagaimana dipilih Exxon, tidak saja mencoreng citra tetapi juga tidak solutif.

Nah, saat ini, dengan kemudahan teknologi informasi, setiap orang berkecenderungan mengekspresikan pikiran, perasaan, bahkan kritikannya secara langsung dan spontan. Kenapa? Media memberikan fasilitas untuk itu. Kebersihan sekolah yang tak terurus, misalnya, boleh jadi akan menjadi bahan status pagi hari di jejaring group facebook sekolah. Foto kotornya sekolah pun akan langsung diunggah. Jika dulu orang tidak memiliki kanal untuk menyampaikan kritikan, kanal itu saat ini terbuka sangat lebar. Bahkan, sekolah tidak lagi mampu membatasinya.

Terlambat merespon atau bahkan cenderung mendiamkannya, sambil mengutuk pengritik dengan tuduhan tidak etis dan tidak solutif hanya akan menyudutkan sekolah. Tulisan dan foto yang diunggah jauh lebih bisa berkomunikasi kepada pembaca daripada sekedar pendiaman. Nah, jadi pertama, dibutuhkan respon yang cepat sekaligus tepat untuk menanggapi masukan-masukan yang ditujukan pada sekolah.

Kedua, karena masukan lebih bersifat spontan, respon yang diberikan pun seyogyanya tidak reaktif emosional. Tanggapan casual dan hamble lebih tepat untuk dilakukan. Akan lebih baik jika pihak sekolah juga memberikan langkah-langkah perbaikan, sesederhana apapun itu.

Dalam hal inilah peran humas sekolah menjadi sangat vital. Tapi, dalam banyak hal, boleh jadi setiap anggota sekolah (kepala sekolah, guru, dan karyawan, bahkan komite) dapat menjadi komunikator yang baik untuk memberikan respon yang bernas dan menyejukkan. []