Monthly Archives: Januari 2013

Pada Mereka yang Terjerat Khilaf

“Sejak dulu kami menyepakati,” demikian tulis Imam Ahmad ibn Hambal, “jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”

Tidak menghina orang baik itu perkara yang wajar adanya. Akan tetapi, tidak menghina mereka yang (sedang) tergelincir dosa butuh kesungguhan juga. Ini bukan pekerjaan sederhana. Betapa sering kita memperolok orang lain yang sedang terpeleset. Mengejek mereka sambil memicingkan sebelah mata. Alih-alih menginstrospeksi diri, kita malah menyibukkan diri untuk menjadikan mereka yang tergelincir dalam kekhilafan sebagai bahan gunjingan. Maka, sekali lagi, betapa sering kita dengan sikap jumawa mempertanyakan, “Kok bisa dia berbuat sekerdil itu?” Seakan kita merasa sangat yakin bahwa kita akan mampu melampaui ujian serupa. Sungguh, hanya kepada Allah kita memohon pada Allah agar mengistiqamahkan hati kita dalam ketaatan kepada-Nya.

Kita tak mengetahui jalan cerita kehidupan seseorang. Bukankah telah bertabur banyak tauladan, mereka yang pernah tergelincir dalam kekhilafan, ternyata mampu menuntaskan kehidupannya dalam kebaikan. Yunus pernah terjerat khilaf. Ketika ia berdakwah di Ninawa dan yang ia temukan hanyalah pembangkangan. Hilanglah sabarnya. Ia pergi meninggalkan Ninawa sebelum diperintakan-Nya. Sang Nabi mutung. Lalu, ia ditelan ikan. Setelahnya ia menginsyafi seluruh kesalahannya dengan doa (Qs. al-Anbiyaa’ [21]: 87). Ia tak lagi dalam hina. Yunus bertabur kemuliaan. Kisah hidupnya menjadi teladan, maka Quran mengisahkan.

Pada mereka yang keluarganya sedang didera ujian, doakan semoga lekas terurai masalah. Jangan memperolok dan menghinakannya. Kita tak berharap ujian serupa ditimpakan atas diri kita. Begitu pula pada mereka yang gagal menghadapi ujian kehidupan dari Allah, kita panjatkan doa agar Allah menyayangi mereka yang berusaha memperbaiki diri. Berdoa pula agar kita istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya, lalu menuntaskan tugas hidup kita dengan khusnul khatimah. []

Bertanya Cucu pada Neneknya

“Nenek,” kata sang cucu, yang sebentar lagi hendak menikah, “apa yang menyebabkan nenek dan kakek hidup rukun, bahkan tanpa konflik berarti?” Sang nenek menghela nafas sejenak. Senyum manisnya tertuju pada suaminya yang duduk tak jauh dari situ. “Bukannya tanpa masalah. Tak ada hidup yang tiada masalah, Cu?”

“Terus?” tanya sang cucu, penasaran. Setelah itu mengalirlah cerita sang nenek. Semua bermula ketika mereka bersepakat menuliskan daftar kekurangan dalam diri pasangan masing-masing. “Setelah itu, kami berpisah kamar. Sebab, malam itu kami akan menuliskan kekurangan dan kelemahan pasangan. Nah, malam itu nenek menulis tiga lembar kertas. Semuanya daftar kelemahan dan kekurangan kakekmu. Tuntas!”

“Tiga lembar, Nek?” tanya sang Cucu. Sang nenek mengangguk, “Bahkan, jika diperturutkan nenek bisa menukiskan lebih dari itu!”

“Pagi harinya kami kumpul di serambi rumah. Nenek yang dapat giliran membaca pertama kali. Tentu nenek menyampaikan dengan bersemangat seluruh daftar kekurangan dan kelemahan kakekmu. Ya, nenek masih ingat. Tiga lembar jumlahnya. Setelah itu, giliran kakekmu yang akan membaca.” Sang nenek menghela nafas sejenak.

“Kulihat ada lima lembar kertas di tangan kakekmu. Dia sodorkan kepada nenek. Kenapa tidak dibaca? Tanya nenek waktu itu. Kakekmu hanya bilang: tidak perlu, sambil mennggingkan senyum yang tak pernah akan nenek lupakan.”

“Terus?” desak sang cucu.

“Lima lembar kertas itu nenek buka, dan tak ada secuil pun huruf kakek tuliskan di sana. Bersih.” Sang nenek menghela nafas sambil berusaha mengenang sesuatu. Ia mendekati suaminya yang sejak tadi diam menyimak, “kenapa kok bersih? Tanyaku waktu itu. Kakekmu bilang: aku memilihmu menjadi istri itu utuh. Aku pilih kamu dengan segenap kelebihan dan kekuranganmu. Hari-hari ini aku hanya menemukan kebaikan dalam dirimu untuk aku. Semakin banyak aku tuliskan kekuranganmu, itu menunjukkan kalau aku tidak pernah memperhatikan dan menumbuhkanmu.” Sang nenek merangkul suaminya. Wanita tua itu tak kuasa menahan airmata yang ia coba tahan.

“Nak,” kata sang kakek, “belajarlah dari nenekmu. Ia yang menjadikan kakek seperti ini.”

“Ah, tidak, Cu,” kata sang nenek. “Kau belajar ada kakekmu. Ia suami yang membanggakan. Tak kecewa aku dipinangnya.” []