Monthly Archives: Februari 2013

Beda Dalam, Beda Pula Luar

Saya teringat kisah yang pernah dituturkan Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris. Di tengah upaya pembebasan Persia, beberapa saat sebelum pertempuran, seorang komandan Persia meminta bertemu dengan komandan pasukan Muslim untuk berunding agar tidak terjadi pertumpahan darah. Setelah komandan pasukan Persia menyampaikan gagasannya, komandan pasukan Islam berkata, “Tunggulah sebentar hingga aku bermusyawarah dengan orang-orang.”

Ucapan ini ternyata mengejutkan komandan Persia. “Bukankah kamu komandan pasukan? Kenapa tidak kamu putuskan sendiri saja?” Komandan pasukan Islam mengiyakan. “Sesungguhnya,” kata komandan pasukan Persia, “dalam tradisi kami orang yang melakukan musyawarah tidak berhak diangkat jadi pemimpin.”

“Nah!” kata Komandan pasukan Muslim, “Itulah sebabnya, kami selalu bisa mengalahkan kalian. Dalam tradisi kami, orang yang tidak mau musyawarah tidak pantas diangkat jadi pemimpin.”

Kisah di atas mengajarkan satu hal: tradisi dan kebiasaan seseorang sangat memengaruhi cara pandangnya terhadap sesuatu. Itulah sebabnya, seringkali kita susah memahami orang lain jika sekedar menggunakan sudut pandang diri kita. Pada banyak hal akhirnya kita salah memberikan penilaian karena standar yang digunakan sangat berbeda, sudut pandang yang digunakan juga berlainan.

Seringkali ada tradisi dan kebiasaan yang melekat pada diri orang lain yang luput dari pengamatan. Pada sebagian orang, boleh jadi menganggap heran seorang suami yang mengurusi perkara-perkara domestik, termasuk mengasuh anak, hanya karena hal itu tidak menjadi tradisi keluarganya. Tuduhan bahwa keluarga yang bersangkutan telah terjadi dominadi istri atas suami bisa saja dilontarkan. Padahal, bagi yang menjalani dianggap biasa-biasa saja. Ia punya cara pandang dan tradisi yang berbeda.

Inilah yang dapat pula terpahami bahwa dalam panggung politik, misalnya, tangis kecintaan para kader terhadap sang qiyadah bisa dipahami sebagai acting dan drama politik. Padahal, tidak demikian. Perkaranya sangat sederhana, ada ikatan ukhuwah dan tautan hati yang tak bisa dipahami oleh orang lain, selain tampilan-tampilan luar berupa tangisan. Terlebih jika hal itu bukan menjadi tradisi dan kebiasaan yang jamak terjadi di masyarakat. Sekuat apapun seseorang menampik tuduhan, selama cara pandang itu tak bertemu, tak akan banyak menggeser pikiran.

Jadi, apa yang dipersepsi di luar belum tentu seperti itu pula yang terjadi di dalam. Persis seperti anggapan orang-orang Konstantin yang menganggap lemah kepemimpinan Turki Utsmaniyah, setelah digantikan Muhammad al-Fatih. Padahal, yang terjadi adalah lahirnya kekuatan baru yang jauh lebih bertenaga. Kita seringkali salah melihat dan menyimpulkan sesuatu karena hanya melihat tampilan luar dengan sudut pandang kebiasaan sendiri. []