Monthly Archives: Maret 2013

Mata Anak Mengawasi Kita

Sang ibu kaget. Anak perempuannya tak berucap terima kasih ketika neneknya memberikan uang. Ia diam saja. Cuek dan segera melanjutkan bermain.

Sang ibu menegur, “Nak, tak baik seseorang menerima pemberian lalu diam saja. Benarkan? Kamu tahu apa yang ibu ucapkan tiapkali ibu mendapat uang dari ayahmu?” Anak perempuan itu tertegun sejenak. Ia mengingat-ingat sesuatu, lalu sesat kemudian berlari ke arah neneknya. Sang ibu melihatnya bangga. Kata-katanya manjur juga, batinnya.

Sang anak berdiri di depan neneknya. Ia terlihat ragu-ragu. Tapi kemudian ia beranikan diri. “Kok cuma segini, Nek?” katanya sambil menyodorkan uang pemberian neneknya. Sang ibu kembali dibuat kaget. Ia tak menduga kata-kata itu yang akan diucapkan anaknya.

“Huss! Tidak sopan,” tegur kembali sang ibu. Anak itu merasa bingung. Sangat bingung dengan sikap ibunya. “Kan tadi ibu minta aku mengucapkan kalimat yang biasa ibu katakan pada ayah setiap kali ibu diberi uang dari ayah. Ibu sering katakan: kok cuma segini, Pak?”

Keteladanan. Setiap saat anak-anak belajar dari kita. Mereka secara jeli mengamati dan menyimak perilaku dan. Kebiasaan kita. Maka benarlah yang dikatakan Dr. Muhammad Muhammad al-Badri, “Anak-anak lebih mengenal dunia lewat mata mereka daripada lewat akal mereka; mereka lebih banyak terpengaruh oleh apa yang mereka saksikan daripada apa yang mereka dengar; mereka mengawasi orangtua dan pendidik mereka. Mereka lebih berhasrat meniru perbuatan orang lain daripada menaati perkataannya.”

Yah, nilai-nilai tidak secara otomatis menyerap dalam jiwa anak hanya dengan nasihat; keteladananlah yang akan menghunjamkannya dengan kuat dan dalam. Cara kita bicara pada suami atau istri direkamnya. Cara kita merespon masalah dipelajarinya. Sikap kita pada tetangga disimaknya dengan baik.

Nah, jika ada sesuatu yang anak lakukan dan kita anggap kurang tepat, langkah pertama yang mesti dilakukan adalah menelisik diri kita. Ya menelisik diri kita selaku orangtua. Ah, masih banyak yang perlu saya benahi selaku orangtua. []

Iklan

Anak-anak Malaikat Ayah

DWI BUDIYANTO

“Mas, aku dapat sms untuk bermaksiat,” demikian kata seorang bapak–salah seorang dosen ISI Yogyakarta, teman dalam Sayembara Penulisan Buku Pengayaan Puskurbuk 2011. Beliau lalu menunjukkan isi sms di handphonenya–malam ini ke puncak saja, yuk. Begitu kurang lebih isi sms-nya. SMS itu brasal dari seorang wanita yang dikenalnya, yang kebetulan juga sedang ada tugas di Jakarta.

Lihat pos aslinya 302 kata lagi

DWI BUDIYANTO

“Nenek,” kata sang cucu, yang sebentar lagi hendak menikah, “apa yang menyebabkan nenek dan kakek hidup rukun, bahkan tanpa konflik berarti?” Sang nenek menghela nafas sejenak. Senyum manisnya tertuju pada suaminya yang duduk tak jauh dari situ. “Bukannya tanpa masalah. Tak ada hidup yang tiada masalah, Cu?”

“Terus?” tanya sang cucu, penasaran. Setelah itu mengalirlah cerita sang nenek. Semua bermula ketika mereka bersepakat menuliskan daftar kekurangan dalam diri pasangan masing-masing. “Setelah itu, kami berpisah kamar. Sebab, malam itu kami akan menuliskan kekurangan dan kelemahan pasangan. Nah, malam itu nenek menulis tiga lembar kertas. Semuanya daftar kelemahan dan kekurangan kakekmu. Tuntas!”

“Tiga lembar, Nek?” tanya sang Cucu. Sang nenek mengangguk, “Bahkan, jika diperturutkan nenek bisa menukiskan lebih dari itu!”

“Pagi harinya kami kumpul di serambi rumah. Nenek yang dapat giliran membaca pertama kali. Tentu nenek menyampaikan dengan bersemangat seluruh daftar kekurangan dan kelemahan kakekmu. Ya, nenek masih ingat. Tiga lembar jumlahnya…

Lihat pos aslinya 175 kata lagi