Monthly Archives: Mei 2013

Al-Fiil dan Kita Hari Ini

Inna lihadzihid da’wati rabban yahmiiha–Sesungguhnya dakwah ini milik Allah, maka Allahlah yang akan menjaganya. Tak ada kuasa kita untuk menjaganya. Kita teramat lemah dan tak berkekuatan. Inilah yang dapat kita pelajari dari merenungi surat Al-Fiil. Surat yang diturunkan pada periode Makkiyah itu menyadarkan kita kembali: Allah-lah yang akan menjaga dakwah ini.

Ketika Abrahah berencana menghancurkan Ka’bah karena mengusik rencananya mengalihkan perhatian dunia terhadap bangunan itu, seakan tak ada satupun yang mampu menghalangi ambisi politik dan kebudayaan Abrahah. Dzu Nafar, bangsawan dan penguasa Yaman yang berusaha menghalang-halangi gagal. Bahkan, dirinya jadi tawanan Abrahah. Tentu kisah yang menyertai penyerbuaan itu sangat panjang. Saya tidak akan mengisahkan kembali.

Penyerbuan itu sangat luar biasa, keji, dan penuh rasa jumawa. Kalkulasi manusiawi, Ka’bah pasti takluk dan mampu dilumatkan. Ya, tidak dulu, tidak juga sekarang, kita selalu yakin bahwa kalkulasi manusiawi kita lebih tepat dan presisi. Padahal, nyatanya, tidak sepenuhnya demikian. Begitu tribulasi dakwah mendera, para ‘pengamat’ selalu tampil amat pintar dan ilmiah. Mereka prediksikan dakwah pasti hancur tak bersisa. Para peragu pun menjadi bimbang dan beralih memperolok dan menyalah-nyalahkan, seolah-olah bersikap objektif. Kita lupa bahwa kepastian itu di atas kuasa Allah.

Seperti makar Abrahah yang lumat oleh kuasa Allah, begitulah kita berharap ada banyak pertolongan Allah atas kelemahan diri. Kita tak pernah tahu, ending dari semua peristiwa besar yang menimpa dakwah. Sama sekali tidak tahu. Kita hanya punya keyakinan: dakwah ini milik Allah, Dia pulalah yang akan menjaganya.

Mari kita selami kisah di surat Al Fiil, lalu temukan banyak inspirasi bersikap yang dapat diserap. Ada invasi Abrahah yang sangat pongah, ada ketakberdayaan bangsa Arab yang tergambar nyata, ada pengkhianatan Abu Righal yang menunjukkan arah Makkah pada Abrahah, ada kisah kewibawaan Abdul Muthallib, dan tentu kisah penghancuran pasukan gajah yang tak terprediksi sama sekali. Dan semua kisah itu Allah sampaikan pada periode Makkah, ketika mihnah dan ujian dakwah mendera para sahabat.

Ya, kisah Al Fiil menyertai seluruh makar orang-orang Quraisy atas diri kaum Muslimin. Ada siksaan dan penghinaan, hujatan yang mempermalukan, tuduhan gila yang terlontar semena-mena, dan sebagainya. Model permusuhan itu mungkin tidak akan sama, tapi kita meyakini di setiap zaman pasti ada. Saya kira termasuk hari ini. []

Iklan

Hukuman

“Ayah, apa mungkin orang yang tak bersalah itu bisa dihukum?” tanya gadis kecil itu pada ayahnya. Ini pertanyaan lanjutan dari diskusi ringan sebelumnya. Lelaki itu berjongkok, sejajar dengan tinggi anaknya, lalu dengan tersenyum ia berkata.

“Nak, bukankah kamu sebulan lebih pernah dihukum gara-gara tidak pakai sabuk di sekolah. Setiap Senin kamu jadi tersangka, dihakimi oleh Pak Guru dengan diminta lari keliling halaman sekolah?” anak itu mengangguk.

“Iya, Ayah,” mata gadis kecil itu menatap ayahnya. “Aku diminta lari. Sudah lebih dari lima kali Ayah.”

“Seandainya Ummi tidak protes, kau akan dihukum terus, Nak. Begitu diprotes ternyata anak kelas satu tidak wajib bersabuk. Nah, bukankah kamu dihukum untuk sesuatu yang sebenarnya kamu tidak salah? Kamu adalah contoh nyata dari pertanyaanmu, Nak.” Sang ayah mengusap kepala anaknya. Ada amarah yang tiba-tiba muncul, tapi ditahannya. Kejadian yang menimpa anaknya toh ada manfaatnya. Paling tidak ia menjadi bahan obrolan yang renyah dengan gadis kecilnya.

Kisah di atas adalah kisah Nadia, anak saya. Ia dihukum di sekolah untuk sesuatu yang tidak salah. Rok yang dipakainya terlalu besar sehingga tiap hari Senin, rok itu dilipat ke atas. Baju yang dikenakannya pun dikeluarkan sehingga sabuk itu tidak signifikan. Tapi setiap Senin itu ia dihukum lari keliling lapangan. Padahal, memakai sabuk tidak wajib bagi kelas satu. Ia dihukum untuk sesuatu yang dianggap salah, padahal ia tak bersalah. Adakah sekolah Nadia adalah sepotong wajah Indonesia dan tabiat kita?

Tepatlah yang dikatakan, “Salah menghakimi seseorang dengan memutus tak bersalah, padahal sebenarnya bersalah, jauh lebih baik daripada memutus bersalah orang yang sejatinya tak bersalah.” Di tengah gurita media, seringkali kita memasuki ruang-ruang gosip yang tak relevan dengan pokok persoalan. Kita mulai menjadi ‘gossip society.’ Terlintas banyak tuduhan di kepala kita akibat pemberitaan yang terframing, tentang siapapun. Saya tidak tahu ada tuduhan jahat apa yang terlintas di kepala dan obrolan saya tentang mereka yang jadi sorotan. Saya takut bahwa semua yang terlintas di kepala dan menjadi bahan obrolan gosip itu, kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Adab yang paling aman yang diajarkan adalah doakan mereka yang berperkara, yang dikenal baik sebelumnya, agar segera keluar dari jerat masalah dengan cara yang baik dan berlimpah pula kebaikan setelahnya. Toh, kita tidak berkepentingan agar yang bersangkutan berada dalam keburukan, sebab itu tanda akan luka di hati kita. Kita berharap mereka selalu berada dalam kebaikan, bahkan tatkala hukum memvonisnya bersalah. Doa kebaikan dan sikap proporsional itu jauh lebih menyelamatkan kita kelak di akhirat dari gunjingan yang dilontarkan. []

Penjara

“Ayah, apa setiap orang yang dipenjarakan itu mesti jahat?” Sang ayah terdiam. Setelah menghela nafas sejenak, ia beri jawaban.

“Tidak mesti, Nak. Kadang ada juga orang baik yang dipenjarakan orang-orang jahat,” lelaki itu berharap anaknya tidak lagi bertanya. Tapi harapannya pupus. Dengan berbinar, gadis kecil itu kembali ajukan pertanyaan.

“emangnya ada yang seperti itu, Ayah?”

“Kamu ingat kisah Nabi Yusuf, Nak?” gadis kecil itu mengangguk. Senyum yang melekat di bibirnya teramat indah. “Nabi Yusuf dipenjarakan. Apakah beliau salah? Tidak. Ia dianggap salah oleh penguasa. Sebenarnya ada banyak kisah lain, kelak kamu bisa membacanya sendiri.”

“Ceritakan Ayah! Ceritakan,” gadis cantik itu terus mendesak.

“Lain kali saja ya Ayah ceritakan. Ayah sebutkan saja nama-nama mereka. Orang-orang baik yang dipenjarakan penguasa jahat. Imam Ahmad bin Hambal dipenjara oleh tiga penguasa sekaligus: Al Makmun, Al Mu’tashim, dan Al-Watsiq. Padahal, beliau orang baik, salih, pintar, dan santun. Imam Abu Hanifah ditangkap penguasa jahat bernama Al Manshur. Ibnu Taimiyyah di penjara juga. Sayyid Quthub, orang baik, difitnah dan dipenjara juga. Soekarno pernah mendekam di penjara Suka Miskin. Apakah mereka salah? Orang jahat sezamannya mungkin menganggapnya demikian, tapi tidak dengan mereka yang baik. Salah menurut penguasa jahat, belum tentu salah menurut Allah, Nak.”

“Nak, di negeri sebelah, Malaysia, ada orang baik yang difitnah dan dipenjara: Anwar Ibrahim, namanya. Dituduh korupsi dan berbuat keji.” Sang ayah terdiam. Dia susah bercerita panjang. Kelak ia akan ceritakan kisah-kisah itu pada anaknya.

“Kenali orang baik dengan kebaikannya. Kasihi orang jahat dengan mendoakan kebaikan padanya, jangan malah menggunjingkannya,” ia tak berharap anaknya paham. Ia hanya berharap kelak anaknya masih mengingat kata-katanya, lalu berusaha merenunginya ketika telah dewasa. []

Kepemimpinan Cinta

Inti kepemimpinan ialah sikap peduli dengan yang dipimpin. Kepeduliaan itulah yang melahirkan sikap adil. Para pemimpin yang adil akan sangat takut setiap tindakannya akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akherat. Maka, mereka yang berhajat menjadi pemimpin negeri ini, bersiap-siaplah menerima pengaduan 250 juta rakyat Indonesia kelak di akherat.

Tapi, bagi mereka yang memimpin dengan adil, tak ada yang perlu dirisaukan. Mereka bahkan akan mendapat perlindungan ketika tiada perlindungan selain dari Allah. Memang yang ditakutkan jika rakyat lebih ngeri dengan kehadiran kita daripada ketakhadiran kita sebagai pemimpin.

Mereka yang memimpin dengan cintalah yang akan menumbuhkan kepeduliaan dalam diri. Ia tempatkan orang yang dipimpinnya sebagai pribadi penting, sekecil apapun orang tersebut dinilai orang. Baginya tak ada orang besar kecil, kelak semua akan dituntut tanggung jawab. Maka, ukuran sejati dari kepemimpinan bukanlah seberapa banyak yang melayaninya, melainkan seberapa banyak yang telah dilayaninya. Bukan seberapa besar fasilitas diperoleh, tapi seberapa besar fasilitas diberikan bagi kepentingan orang banyak.

Ya, mereka yang berhasrat memimpin bersiap-siaplah menerima kenyataan bahwa telunjuk 250 juta rakyat Indonesia akan diarahkan kepada dirinya. Tanpa cinta, para pemimpin hanya ditakuti, tapi tak mungkin dicintai.

Ada sebuah gojekan yang sedikit menyindir. Suatu hari seorang anak muda yang rajin mengaji amat ketakutan di kamar kosnya. Beberapa malam sebelumnya, kamar kos temannya digrebek Densus 88. Ia khawatir dirinya disangkut-pautkan, meski sebenarnya tak terlibat sama sekali. Ketika ia sedang gelisah itu, pintu kamarnya diketuk. Ia semakin gugup. Sangat takut. Ia mendekati ke pintu.

“Siapa?” tanyanya dengan sedikit gemetar.

Dari luar terdengar jawaban. Suaranya berwibawa, “Malaikat maut. Datang hendak menjemputmu!” Laki-laki itu tersenyum ceria, sambil melangkah ke pintu, ia berkata lirih, “Alhamdulillah, bukan Densus 88.”
_________________