Monthly Archives: Juni 2013

Bergaul dengan Kebesaran Jiwa

Mari kita bayangkan betapa propaganda yang menyudutkan Rasulullah begitu massif dan tersebar luas. Tuduhan demi tuduhan nyaris tiada henti saban hari. Tak ada secuil pun sudut-sudut kota yang tak tersentuh oleh tuduhan bahwa Muhammad itu edan, gendheng, gila, dan tukang sihir. Saking gencarnya propaganda penyudutan itu dilakukan, Al-Qur’an mengisahkan ulang tuduhan-tuduhan itu. “Hai orang yang diturunkan Al-Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang gila.” (Q.s. Al-Hijr: 6-7). Di ayat yang lain Allah kisahkan tuduhan kepada Sang Rasul, “Dia adalah seorang yang menerima ajaran lagi pula seorang yang gila,” (Q.s. Ad-Dukhan:13-14). Lelaki yang diakui jamak orang akan keluhuran akhlaknya, kesantunan tutur katanya, kesopanan sikapnya, dan ketulusan cintanya itu dianggap tidak waras.

Bukan hanya satu tuduhan, tapi banyak tuduhan yang disebarluaskan. Muhammad dengan seluruh nama baik dan pesona kepribadiannya dihancurkan. Mereka ingin kepercayaan publik kepada Sang Rasul yang mulia lagi jujur itu koyak-koyak. “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya,” (Q.s. Ath-Thur:30). Para penentang itu pun tidak kikuk melempar tuduhan, “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta,” (Q.s. Shad:4). Dan mereka tidak berdiam diri, mesin-mesin propaganda mereka bekerja massif; mempengaruhi banyak orang dan merasukkan tiap tuduhan tentang Rasulullah pada setiap orang. Mari kita bayangkan negeri tempat Rasulullah menyemai dakwah itu hampir tak tersisa dari propaganda untuk menyudutkan beliau. Bahkan mereka yang simpati dan peroleh hidayah pun hendak dibengkokkan kembali. Keraguan ditanamkan, benih kebimbangan ditaburkan. “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir,” (Q.s. Al-Isra’:47-48).

Setiap tuduhan yang ditelunjukkan ke arah para dai, di sepanjang masa, sama saja. Barangkali hanya bentuk redaksionalnya saja yang berbeda. Tak akan sepi dakwah ini dari bermacam propaganda. Tak akan sunyi dakwah ini dari segala tuduhan yang menghina-hina. Jangankan kita yang jelas masih banyak cela, Rasulullah yang begitu jelita akhlaknya pun dianggap pendusta. Mari kita bayangkan betapa tuduhan-tuduhan itu, secara manusiawi, melahirkan duka. “Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu,….” (Q.s. Al-An’am:33). Ada duka, tapi bukan itu yang dipelihara. Allah menghendaki Rasulullah dan para sahabat berbesar jiwa. Boleh jadi propaganda yang dilancarkan para penentang banyak mempengaruhi orang, tapi dakwah sepenuh cinta mesti tetap ditunaikan. “Maka, tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenun dan bukan pula seorang gila.” (Q.s. Ath-Thuur:30).

Bukan sikap kerdil yang membelenggu persepsi yang layak dipelihara dai acapkali bertemu dengan tuduhan-tuduhan. Seringkali ‘merasa’ bahwa semua jari telunjuk sedang diarahkan ke wajah kita menghambat diri untuk bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat. Padahal, kadangkala tidak seluruhnya demikian. Berinteraksi seringkali menjadi celah bagi tersambungkannya hidayah. Inilah yang dapat kita pelajari setiap kali membayangkan betapa massifnya tuduhan yang dilancarkan mesin propaganda Walid bin Mughirah terhadap Rasulullah dan barisan dakwah, serta bagaimana para sahabat memperoleh hidayah dan menerima kebenaran. Kita menemukan dua frasa kunci: kuasa Allah dan interaksi sosial yang tertunaikan. Alih-alih menarik diri dari peraulan, Rasulullah dan para sahabat terus memperluas pergaulan.

Dhimad Al-Azidi, lelelaki yang terpengaruh propaganda orang-orang musyrik Quraisy bahwa Rasulullah gila itu datang ke Makkah. Ia dikenal sebagai orang yang biasa menyembuhkan orang gila. Kedatangannya hendak mengobati Muhammad. “Jika aku bertemu lelaki itu,” katanya tentang Rasulullah, “semoga dapat kusembuhkan lewat tanganku.” Maka tatkala ia bertemu Rasulullah keinginannya itu un ia samaikan.

“Wahai Muhammad,” demikian lelaki dari Azdi Syanwah itu memulai pembicaraan, “sesungguhnya aku dapat menyembuhkan dari angin (pembawa penyakit gila) ini. Dan sesungguhnya Allah menyembuhkan dari tanganku orang-orang yang dikehendaki-Nya. Bagaimana dengan engkau?”

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memuji dan memohon pertolongan-Nya. Siapa yang diberi petunjuk, tak ada seorang pun dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkannya, tidak seorang pun dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah. Dia Mahaesa tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,” demikian jawab Rasulullah.

Rupa-rupanya Dhimad Al-Azdi tertarik. “Ulangilah untukku kata-katamu itu, Muhammad.” Rasulullah pun mengulangi hingga tiga kali. “Aku telah mendengar perkataan tukang ramal, ahli sihir, para penyair.” Kata Dhimad menjelaskan ketertarikannya, “Tapi aku tidak pernah mendengar perkataan seperti yang engkau katakan. Kata-katamu telah mencapai puncak tinggi.”

“Ulurkan tanganmu,” katanya, “Aku berbaiat kepadamu untuk masuk Islam.” Maka Rasulullah pun membaiatnya. “Dan juga untuk kaummu,” sabda Rasulullah. Dhimad pun mengiyakan. “Juga untuk kaumku,” katanya.

Kita akan menemukan kisah-kisah serupa dari para sahabat Rasulullah. Ada banyak orang yang semula waspada terhadap dakwah, dan bahkan antipati, bersebab interaksi -alhamdulillah- tersentuhlah hati. Ada pula yang ragu, bermula dari obrolan, ia pun terteguhkan. Di tengah derasnya propaganda, selalu ada celah bagi terbukanya hidayah. Dan itu menunjukkan bahwa Allah teramat berkuasa. Tak akan mengerdil mereka yang dibesarkan Allah; tak akan juga membesar, siapa yang dikerdilkan Allah ta’ala. Sekali lagi, boleh jadi propaganda untuk melemahkan dakwah teramat luas jangkauannya, tapi itu sama sekali tak menyurutkan semangat kita untuk berdakwah sepenuh cinta.

Hari ini kita merenungi kembali sabda Rasulullah saw. “Orang mukmin yang berbaur dengan masyarakat dan bersabar dari perbuatan buruk mereka, itu lebih baik daripada orang mukmin yang tidak berbaur dengan masyarakat dan tidak bersabar dari perbuatan mereka.” (H.r. Ibnu Majah). Bergaul dengan kebesaran jiwa, sebab harapan selalu bersemi dalam keyakinan: Allah teramat kuasa membolak-balikkan hati manusia. []

Iklan

Doa Kita untuk Mereka

“Sejak dulu kami menyepakati,” demikian tulis Imam Ahmad ibn Hambal, “jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”

Tidak menghina orang baik itu perkara yang wajar adanya. Akan tetapi, tidak menghina mereka yang (sedang) tergelincir dosa butuh kesungguhan juga. Ini bukan pekerjaan sederhana. Betapa sering kita memperolok orang lain yang sedang terpeleset dan berperkara. Mengejek mereka sambil memicingkan sebelah mata. Alih-alih menginstrospeksi diri, kita malah menyibukkan diri untuk menjadikan mereka yang tergelincir dalam kekhilafan sebagai bahan gunjingan. Maka, sekali lagi, betapa sering kita dengan sikap jumawa mempertanyakan, “Kok bisa dia berbuat sekerdil itu?” Seakan kita merasa sangat yakin bahwa kita akan mampu melampaui ujian serupa. Sungguh, hanya kepada Allah kita memohon pada Allah agar mengistiqamahkan hati kita dalam ketaatan kepada-Nya.

Ketika seseorang menghina saudaranya yang tergelincir kesalahan, pada saat bersamaan ia sedang menggelincirkan diri pada kesalahan yang bersebab kesombongan. Jumawa bahwa dirinya lebih baik. Sungguh perkataan Sufyan bin Uyainah patut kita renungkan. “Siapa yang kemaksiatannya terletak pada syahwat, maka taubat bisa diharapkan darinya. Sebab Adam a.s. bermaksiat karena keinginan syahwat, ia bertaubat lalu diampuni. Sementara jika kemaksiatannya terletak pada kibr (kesombongan), maka aku khawatir is sebagai orang yang dilaknat. Iblis bermaksiat karena kesombongan karenanya ia dilaknat.” Begitulah yang terjadi, ketika seseorang menghina saudaranya yang tertimpa kesalahan, ia sendiri tidak menyadari bahwa penghinaan yang dilakukannya adalah kesalahan yang lebih parah. Apa yang diperoleh dari menghina? Pahala dari Allah berupa jaminan surgakah? Atau bertumpuknya keburukan dan kehinaan diri? Alangkah indah manakala kita bersibuk menelisik diri daripada menguliti saudara sendiri.

Suatu hari Sufyan bin Al-Hashin duduk berbincang dengan Iyas bin Mu’awiyah. Ketika melintas seorang anak muda, Sufyan menuturkan keburukan anak muda itu. Iyas bin Mu’awiyah lalu mencergahnya dan mengatakan, “Diamlah wahai Sufyan, apakah engkau pernah terlibat dalam pertempuran melawan Romawi?” Sufyan menjawab tidak pernah. Kembali Iyas bin Mu’awiyah bertanya pada Sufyan bin Al-Hashin. “Kalau begitu pernahkah engkau ikut dalam perang melawan pasukan Tatar?” Kembali Sufyan menjawab tidak sambil menggelengkan kepala. “Orang Romawi dan orang Tatar selamat dari keburukan lisanmu,” demikian kata Iyas bin Mu’awiyah, “tapi, seorang Muslim cedera karena lisanmu!” Sungguh ada banyak hal yang patut dibanahi dari diri kita hari-hari ini. Ketika media mempermudah jangkauan untuk mengetahui ruang-ruang pribadi seseorang, seringkali kita menjadi latah untuk mengomentari. Kita pun menjadi tak sadar sedang digiring ke arah tradisi pergunjingan yang tiada manfaat. Kita mendadak menjadi gampang mencela dan mudah dibuat kecewa pada hal-hal yang tidak terlalu penting. Betapa hal-hal demikian sangat menguras energi dan mudah membelokkan orientasi; dari semangat beramal ke arah hasrat pergunjingan. Na’udzubiLlahi min dzalik.

Alangkah menusuk nasihat Ibnu Athaillah As-Sakandary. “Betapa banyak kemaksiatan yang mewariskan rasa hina dan rendah di hadapan Allah ta’ala,” tuturnya. Beliau lalu melanjutkan, “Sungguh, itu lebih baik dari ketaatan yang mewariskan sikap merasa mulia dan sombong.” Begitulah kearifan sikap dinasihatkan pada kita. Agama ini melarang seseorang untuk mencaci dan menghina orang yang melakukan kesalahan. Pada yang berdosa saja kita tak boleh mencelanya, apalagi pada mereka yang kesalahannya belum diputuskan benar tidaknya. Puncak tertinggi dari masyarakat Muslim adalah menegakkan hukum sesuai yang dituntukan Allah, dan bukan menyibukkannya dengan cacian dan hinaan.

Bukankah kita tak mengetahui jalan cerita kehidupan seseorang? Bukankah telah bertabur banyak tauladan, mereka yang pernah tergelincir dalam kekhilafan, ternyata mampu menuntaskan kehidupannya dalam kebaikan. Yunus pernah terjerat khilaf. Ketika ia berdakwah di Ninawa dan yang ia temukan hanyalah pembangkangan. Hilanglah sabarnya. Ia pergi meninggalkan Ninawa sebelum diperintakan-Nya. Sang Nabi ‘mutung’. Lalu, ia ditelan ikan. Setelahnya ia menginsyafi seluruh kesalahannya dengan doa (Qs. al-Anbiyaa’ [21]: 87). Ia tak lagi dalam hina. Yunus bertabur kemuliaan. Kisah hidupnya menjadi teladan, maka Quran mengisahkan.

Sungguh, tak akan terhina orang yang dimuliakan Allah karena taubatnya setelah khilaf. Tak akan mulia orang yang dihinakan Allah bersebab jumawa yang ditempuhnya dalam taat.

Pada mereka yang keluarganya sedang didera ujian, doakan semoga lekas terurai masalah. Jangan memperolok dan menghinakannya. Kita tak berharap ujian serupa ditimpakan atas diri kita. Begitu pula pada mereka yang gagal menghadapi ujian kehidupan dari Allah, kita panjatkan doa agar Allah menyayangi mereka yang berusaha memperbaiki diri. Berdoa pula agar kita istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya, lalu menuntaskan tugas hidup kita dengan khusnul khatimah. []

Sesibuk Apakah Kita?

Acapkali kita tinggalkan medan dakwah dengan alasan sibuk. Ringan betul untuk mengucapkan kata “sibuk”. Seakan-akan jalan dakwah hanya ditempuhi oleh para penganggur yang kurang kerjaan. Sementara mereka yang merasa sibuk dapat berdalih untuk meninggalkannya.

Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris dalam “Fi Zhilal al-Sirah an-Nabawiyah Ghazwatul Badr al Kubra wa Ghazwatul Uhud” menuturkan bahwa Rasulullah telah memimpin 27 ghazwah (peperangan) dan memberangkatkan sekitar 38 sariyah serta ekspedisi. Nabi mengatur dan mengendalikan hal tersebut dalam kurun waktu yang sangat singkat dalam, yaitu sepuluh tahun. Pendapat ini sesuai dengan Ibnu Hisyam di dalam Sirah-nya. Itu artinya, dalam setahun Rasulullah terlibat dalam dua sampai tiga kali pertempuran.

Mari kita bayangkan betapa sibuknya Rasulullah mengatur semua itu. Berapa lama waktu yang digunakan untuk konsolidasi, mobilisasi, latihan, perjalanan, dan semua agenda yang menyertai pertempuran? Mari kita bayangkan betapa capek dan lelahnya Sang Rasul beserta para sahabat menempuhi hari-hari penuh perjuangan. Sekali lagi, mari kita bayangkan bagaimana kesibukan itu ditunaikan tanpa keluhan. Dalam situasi demikian, Rasulullah masih berkesempatan mengajar para sahabat, menerima tamu, menyimak keluhan dan konsultasi, membersamai istri-istri beliau, bahkan juga bermain akrab dengan anak-anak. Tak ada satupun kewajiban yang ditanggalkan. Tak ada satupun hak orang lain dilalaikan.

Malu rasanya diri ini ketika meninggalkan amal kebaikan dengan alasan sibuk. Seakan-akan kita jauh lebih sibuk daripada Rasulullah. Seakan-akan beban yang harus ditanggungkan melebihi beban Rasulullah. Kita lupa Rasulullah saw pernah menasihatkan bahwa sebaik-baik orang ialah yang sibuk dalam berkebajikan dalam rentang waktu umur diberikan. Inilah yang terpelajari ketika seorang laki-laki datang menemui Sang Nabi dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?” Rasulullah menjawab, “Ialah yang panjang umurnya, baik pula amalnya.” Lelaki itu kembali bertanya, “Lalu siapakah lelaki yang paling buruk?” Dan Rasulullah pun kembali menjawab, “Ialah yang berpanjang umurnya dan buruk amalnya.” (H.r. Imam Ahmad). Inilah yang terpahami bahwa berlelah-lelah bersebab sibuk dalam kebaikan jauh lebih utama daripada segar bugar dalam kelalaian.

Menelisik ke dalam diri, adakah kesibukan telah dijadikan alasan untuk bermalas-malas dan semakin menjauh dari aktivitas kebaikan? Pasalnya, bukan karena banyaknya kesibukan kita menjadi lemah dan rapuh. Kadangkala, bersebab jiwa kita yang melemah dan merapuhlah maka seseorang teramat lihai menyusun 1000 macam alasan yang terasa menyibukkan. Bagaimana saya akan aktif dalam dakwah sementara tugas-tugas kuliah tumpuk-menumpuk? Bagaimana saya akan aktif di forum-forum pembinaan sementara waktu saya telah tersita di tempat kerja? Rasanya amat berat bagi saya untuk mengampu binaan, kesibukan menjalin relasi bisnis menjadikan saya khawatir tidak amanah. Orientasi yang memudar, motivasi yang melemah, semangat yang mengendur, biasanya, bermula dari jiwa kita yang tak terjaga dengan baik. Teringat nasihat Dr. Sayyid Muhammad Nuh, “Seorang dai harus memenuhi semua relung jiwanya dengan dakwah. Ia tidak berdiri, duduk, bergerak, atau berhenti, berbicara atau diam kecuali dalam kerangka dakwah.”

Sungguh bersibuk-sibuk dalam kebaikan akan meluruhkan seluruh lelah di badan. Bersuntuk-suntuk dalam perlombaan duniawi tanpa kejelasan orientasi ukhrawi hanya menjadikan sesak di hati. Tak ada yang perlu disesalkan dari kesibukan kita dalam dakwah. Bukankah itu tabiat jalan yang mesti kita tunaikan. Begitulah yang dilakoni para nabi. Nuh ‘alaihissalam misalnya, tak lelah berdakwah sepanjang malam dan siang (Q.s. Nuh [71]: 5), meski perujung pada penolakan demi penolakan. Orang-orang salih selalu sibuk dalam kebaikan. Bagaimana halnya dengan kita? Semoga tetap berkebajikan dan tidak merasa seakan lebih sibuk daripada Rasulullah. []

Bersyukur Setiap Saat

Sudah bersyukurkah kita hari ini? Rasulullah kerap menanyakan perkara ini kepada para sahabat. “Bagaimana kabarmu wahai Fulan? Kemudian dijawab, “Aku memuji Allah subhanahu wata’ala.” Rasulullah lalu bersabda, “Inilah yang aku inginkan darimu…” (HR. Thabrani dishahihkan oleh Al-Bani).

Suasana selalu bersyukur. Inilah yang selalu diinginkan Rasulullah. Tak ada seharipun yang luput dari mensyukuri karunia Allah ta’ala. Kebiasaan ini dilakukan pula oleh para sahabat. Setiap kali mereka bertemu, selalu saja mereka bertanya tentang kabar keimanan mereka. Padahal, sungguh intensitas mereka berjumpa sangatlah tinggi. Namun, tetap saja mereka bertanya soal kabar keimanan. Adalah Ibnu Umar yang bertutur, “Kami bisa saja berulangkali bertemu dalam satu hari, tapi satu sama lain di antara kami tetap saling bertanya kabar. Kami tidak ingin kecuali agar saudara kami memuji Allah ta’ala.”

Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, “Syukur itu mengakui nikmat dan melakukan pengabdian pada yang memberi nikmat.” Di sinilah muara kesyukuran itu bermula: kesadaran akan karunia Allah ta’ala. Sayang, diri ini teramat angkuh di hadapan Allah. Ada banyak nikmat yang Allah berikan, tapi selalu kita anggap kecil dan sederhana. Ada banyak kemudahan yang Allah berikan, tapi rupanya iman kita teramat rapuh untuk mengenalinya. Ada banyak kesehatan yang Allah karuniakan pada kita, tapi jarang sekali kita sadari sebagai kenikmatan hidup.

Allah sehatkan lisan kita, tapi kita jauhkan ia dari banyak berdzikir kepada-Nya. Allah jaga mata kita, tapi teramat sering ia kita gunakan untuk melihat yang tidak perlu. Jarang pula kita gunakan mata itu untuk membaca ayat-ayat Allah. Allah kuatkan kaki kita, tapi kita lemahkan ia untuk memenuhi panggilan-Nya ke masjid. Teramat banyak nikmat yang kita abaikan, teramat sedikit ketaatan yang kita lakukan. “Seandainya kamu (akan) menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.” (Qs.14:34). Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Inilah pertanyaan Allah dalam surah Ar-Rahman yang selalu diulang-ulang. Berkali-kali.

Rasa-rasanya kita teramat layak untuk selalu berdoa. “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan untuk mengerjakan amal salih yang Engkau ridhai…” (Qs. An-Naml [27:19).

Hari ini, marilah kita sadari, dengan kesadaran keimanan, limpahan nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Kita perbanyak mengucap ‘alhamdulillah” dengan hati yang ikhlas, lalu kita berusaha meningkatkan ketaatan pada Allah ta’ala. Ya, kita ucapkan ‘alhamdulillah’ dengan ikhlas dan penuh kesadaran, tidak untuk kita jadikan bahan selorohan ala artis. Sama sekali tidak.

Saya bayangkan, Rasulullah yang berkata lirih, “Inilah yang aku inginkan darimu…” []

Mereka yang Susah Dihapus dari Ingatan

Masjid Nabawi pada suatu siang. Rasulullah terlihat sedang mencari seseorang. Setiap sudut masjid beliau amati. Ia mencari seseorang yang biasa beliau temui di masjid. Seorang nenek tua yang tak pernah dihiraukan oleh yang lain, bahkan oleh para sahabat sendiri. Karena tak ada yang terlalu istimewa dari nenek itu. Hanya satu yang diingat untuk memunculkan gambaran tentang sang nenek: ia biasa membersihkan masjid. Itu saja, tak lebih. Tapi siang itu ia tidak terlihat di masjid dan Rasulullah merasakan ketidakhadirannya. Pada para sahabat beliau menanyakan tentang keberadaan sang nenek, dan sepenggal kalimat ‘yang biasa membersihkan masjid’ menjadi diferensiasi dari sekian perempuan tua yang biasa mendatangi masjid Nabawi.

Para sahabat keheranan dengan pertanyaan Rasulullah. Seorang perempuan tua mendapat perhatian begitu besar dari Rasulullah saw. Para sahabat lalu menyampaikan bahwa nenek tua yang biasa membersihkan masjid itu telah meninggal.

“Kenapa kalian tidak mengabariku?” Rasulullah tersentak. Kaget. Para sahabat semakin heran.

“Dia meninggal di malam hari dan kami tidak ingin mengganggu engkau, ya Rasulullah.” Beliau terlihat tersentak. Wanita yang biasa ditemuinya di masjid telah meninggal dan tidak diketahuinya. “Tolong tunjukkan kepadaku kuburannya.” Pintanya kepada para sahabat.

Siang itu pula Rasulullah menuju kuburan sederhana itu. Beliau shalat dan berdoa untuknya (Bukhari dan Muslim). Sepenggal kisah itu menjadi bukti bahwa Rasulullah tidak pernah mengabaikan perbuatan baik sekecil apapun. Kemuliaan seseorang senantiasa dilekatkan pada tindakannya, sekecil apapun itu. Oleh karena itu, setiap usaha untuk mengenal seseorang selalu dikaitkan dengan tindakannya. Tindakan pada akhirnya menjadi unsur pembeda antara seseorang dengan orang lain. Persis seperti yang diungkapkan Rasulullah tentang wanita tua itu: yang biasa membersihkan masjid.

Itulah sebabnya dalam rentang sejarah yang panjang, orang-orang besar selalu dilekatkan dengan karyanya, dengan tindakannya, bukan dengan gambaran fisiknya. Mereka dikaitkan dengan pesona kepribadiannya, bukan dengan polesan penampilannya. Sayangnya, banyak yang terjebak dalam perkara ini. Sebagian orang memahami bahwa polesan-polesan yang melekat dalam diri mampu menciptakan balutan yang rekat dalam ingatan orang.

Tidak sekedar itu saja. Mereka yang dianggap kecil dan tidak pernah dikenal oleh banyak orang mendadak menginspirasi, bukan karena penampilan fisiknya yang mengundang decak kagum, tapi karena perbuatan yang dilakukannya. Sekecil apapun tindakan yang dilakukan untuk kebaikan, dia akan menjadi penjelas dari pribadi kita. Dia akan menambahkan identitas kita. Hal inilah yang sekaligus menjelaskan bahwa ternyata kepribadian kita yang kompleks ini dapat dijelaskan dengan mudah melalui tindakan, sekecil apapun dia. Inilah yang dapat kita pelajari dari kisah sederhana di atas.

Sampai saat ini kita tidak pernah mengenal nama dan identitas lain dari ‘wanita pembersih masjid’ itu. Tidak ada satu pun identitas kediriannya yang tersisa, kecuali sepenggal kisah bahwa Rasulullah sangat bersedih atas kematiannya. Selebihnya tidak ada yang dapat dilacak. Tapi ini tidak berarti bahwa wanita tersebut tidak bisa dikenali. Ia masih bisa kita ingat sampai saat ini, setelah ratusan tahun yang lalu, ia dengan ikhlas membersihkan debu-debu masjid Nabawi. Pekerjaan yang berangkat dari kadar kesanggupannya. Ia memang tidak mampu berbuat seperti Utsman atau Abdurrahman bin Auf yang menyerahkan hartanya untuk perjuangan dakwah. Ia tidak mampu menerangjelaskan hikmah dan ilmu layaknya Aisyah. Tapi di antara keterbatasan yang dimilikinya, ia tetap ingin berbuat.

Ada banyak orang-orang yang susah dihapus dari ingatan. Bukan karena wajahnya yang rupawan. Bukan pula karena hartanya yang melimpah. Bukan karena karir akademiknya yang menjadikan kebanggaan. Ada banyak orang-orang yang sulit dilupakan, karena mereka melakukan suatu kebaikan tidak agar mereka diingat, tapi karena memang ingin berbuat. Insya Allah, mereka masih dapat kita temukan. Jumlahnya pun sangat banyak. Tapi kita tidak pernah mengenali karena mereka berbuat dalam diam, dalam kesunyian.

Layaknya perempuan tua yang biasa membersihkan masjid dari kisah di atas, yang perlu kita lakukan hanyalah melipatgandakan peran, menjernihkan motif setiap pengorbanan, dan terus berbuat sebesar yang bisa dilakukan. Terlibat di tengah masyarakat dan secara tulus mendampingi mereka. Dengan jalan ini hidup kita menjadi nyata dan jauh lebih bermakna. Orang bisa saja mencela, tetapi kepercayaan masyarakat sangat dipengaruhi oleh seberapa intens kita ada di tengah-tengah mereka; tulus melayani, bermula karena peduli.

Semoga hidup ini, betapapun sederhananya, mampu memberikan inspirasi bagi sesama. Sebab kematian yang indah selalu menyisakan ‘keterangan kerja’ di belakang nama kita, seberapapun kecil kerja-kerja kebaikan yg telah dilakukan. []

Beginilah Kita Meyakini Allah

Orang-orang yang beriman pada Allah memiliki keyakinan yang kuat bahwa apapun yang menimpa dirinya merupakan skenario terbaik yang ditentukan Allah ta’ala. Orang lain bisa saja menganggap kegagalan atau pun keterpurukan, tapi tidak halnya dengan keyakinan mereka yang beriman. Setiap skenario Allah bagi kita, insya Allah, merupakan kebaikan. Itu kita yakini sepenuhnya, meskipun Allah tidak sekalipun membeberkan alur ceritanya. Inilah yang dapat kita pelajari dari perjalanan hidup para nabi. Mereka jalani hidup dengan keyakinan.

Yusuf a.s. misalnya, tak secuilpun mengetahui alur cerita hidup yang akan dijalaninya. Ia menjadi tenang bukan karena mengetahui detail tiap episode kehidupannya. Ia menjadi tenang karena keyakinan yang kuat pada Allah. Perhatikanlah kisahnya. Betapa episode hidupnya selalu berupa ujian demi ujian. Dalam usianya yang masih belia, Yusuf harus berhadapan dengan konspirasi kedengkian saudara-saudaranya (Qs. Yusuf: 7). Anak itu dimasukkan ke dasar sumur. Sebuah cover story-pun diciptakan agar meyakinkan sang ayah bahwa Yusuf mati. Rekayasa fakta dan bukti pun digelar. “Mereka datang dengan membawa baju gamisnya dengan darah palsu (Qs. Yusuf: 15-18).

Ibnu Katsir dalam “Qishashul Anbiya” mengisahkan bahwa saudara-saudara Yusuf lupa mengoyak baju Yusuf. Mereka hanya melumurinya dengan darah palsu. “Oleh karena itu,” jelas Ibnu Katsir, “bahaya sebuah kedustaan adalah lupa!” Barangkali dalam bahasa kita: cacat sebuah konspirasi adalah ‘ketidakcermatan’ merangkai fakta dan menghadirkan bukti. Sekali lagi, Yusuf tak pernah mengetahui alur cerita hidupnya setelah itu. Ia hanya yakin Allah pasti akan berikan jalan keluar.

Ketika setelahnya, ia ditemukan para musafir bernama Malik bin Za’ar dan Nuwait bin Madyan, seperti diungkapkan Ibnu Abbas, lalu dijual kepada Athfiir bin Rauhib (sebagaimana disebutkan Ibnu Ishaq), Yusuf sendiri tak mengetahui pasti alur kisah hidupnya. Bahwa kelak ia akan didera oleh konspirasi berbalut asmara dan akhirnya berujung pada kehidupannya di istana, sama sekali tak pernah diketahuinya. Yang ada hanya keyakinan bahwa akhir dari seluruh cerita itu adalah kebaikan. Itulah sebabnya, alangkah anggunnya kita untuk tidak menilai orang lain dari sepotong episode hidupnya yang belum tentu berakhir, apalagi men-justifikasinya dengan label-label keburukan. Kita tak pernah mengetahui skenario utuh yang dirancang Allah ta’ala.

Begitu pula kalau kita cermati kehidupan Musa a.s. Semua cerita hidupnya tidak ada yang kebetulan. Semua berada dalam rencana Allah ta’ala. Ujian, fitnah, kegagalan, atau bentuk lainnya adalah episode dalam kehidupan, sebagaimana juga episode itu akan bercerita tentang kesuksesan, kebahagiaan, kenyamanan, dan sebagainya. Kita hanya meyakini bahwa selama seseorang berada dalam keimanan, setiap momentum dan peristiwa yang menimpanya, hanya akan berujung kebaikan.

Maka, kisah tentang Yusuf di atas, memasuki episode yang menggembirakan. Sang raja berkata, “Sesungguhnya kamu (mulai hari ini) menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” (Qs. Yusuf: 54-57).

Wa kadzalika makkannaa liyuusufa fil ardli — Dan, demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir.

Yusuf a.s. berpisah dengan ayahnya ketika berusia 17 tahun. Perpisahan selama delapan puluh tahun. Waktu yang sangat panjang dari episode ujian hingga kesuksesan. Masa yang sangat riskan bagi tumbuhnya putus asa, terutama bagi yang lemah iman.

Maka mari kita renungkan doa Nabi Yusuf a.s. : “Ya Tuhanku, pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan akherat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dna gabungkanlah aku dengan orang-orang salih.” (Qs. Yusuf: 99-101). []

Saat Panggilan Dakwah itu Terabaikan

Adalah Jad bin Qais, lelaki dari Bani Salamah itu, ditemui Rasulullah saw sebelum berangkat ke Tabuk. “Hai Jad, maukah tahun ini kau memerangi Bani Ashfar?”

Lelaki itu terdiam. Ia terlihat gusar untuk kemudian menjawab, “Ya Rasulullah, izinkan aku ( untuk tidak turut perang) dan janganlah membuatku terfitnah. Demi Allah, kaumku sangat memahami bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang lebih berat kekagumannya pada wanita melebihi aku. Aku khawatir ketika melihat wanita-wanita Bani Ashfar, tidak dapat menahan diri.” Perintah Rasulullah itu ingin dihindarinya. Dengan bahasa yang halus dan alasan yang terasa penuh kebaikan, ia mengelak.

“Aku izinkan,” kata Rasulullah sambil berpaling dari Jad bin Qais. Laki-laki pengelak itu tersenyum lega. Ia merasa berhasil menghindar dari tugas yang diberikan Rasulullah. Tapi, Allah mengecam kelakuannya.

Di antara mereka ada orang-orang yang berkata, berilah saya izin (untuk tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjerumuskanku ke dalam fitnah. Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah.” (Qs. At-Taubah [9]:49).

Ayat di atas memberikan kecaman keras terhadap orang-orang munafik yang mengelak dari tugas-tugas dakwah. Teramat keras. Bukan karena dakwah menolak setiap udzur. Sama sekali tidak. Allah mengecam Jad bin Qais karena ia beralasan dengan mengada-ada. Ia mengelak dari tugas dengan dalih yang dibuat-buat. Inti sebenarnya adalah kendornya semangat dan rapuhnya keimanan. Wujud yang dapat dideteksi adalah kebiasaan untuk menghindari keterlibatan dalam dakwah, segala aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, atau pun aktivitas tarbiyah.

Kisah Jad bin Qais tertuturkan pada kita untuk menjadi bahan renungan. Bermula dari membaca ulang kisahnya, kita mendedah diri sendiri. Adakah tindakan mengelak dari amal-amal kebaikan dengan berbagai alasan yang mengada-ada sering dilakukan? Sebagian orang mungkin enggan memenuhi panggilan tugas dakwah dan tarbiyah dengan mengusung alasan kesibukan bisnis, kerja, atau urusan keluarga (Qs. Al-Fath: 11 atau Qs. Al Ahzab: 13). Sebagian yang lain gampang izin tidak mengikuti proses pembinaan dan tarbiyah dengan alasan sakit kepala. Padahal, sebenarnya, sakit yang dideritanya tidak seberapa dan masih memungkinkan untuk berangkat. Lemahnya semangat dan menggelembungnya kemalasan sajalah yang mendorong untuk menciptakan alasan selogis mungkin agar memperoleh izin atau dispensasi. Maka, kita menemukan ‘izin’ yang disampaikan tak lebih dari sekedar ‘pemberitahuan’ untuk mangkir.

Mereka yang gampang beralasan untuk mangkir mungkin dapat mengelabuhi orang lain; murabbi atau qiyadah dakwah, tapi sesungguhnya ia tidak dapat membohongi Allah ta’ala. Sakit yang dijadikan alasan, sesungguhnya skala sakitnya sangat diketahui Allah. Kesibukan di rumah dan di tempat kerja sangat dipahami ukurannya oleh Allah ta’ala.

Seseorang dapat memperbesar skalanya di hadapan murabbi atau qiyadah, tapi tidak di hadapan Allah. Ia bisa saja mengatakan, “Afwan ustadz, saya tidak dapat ikut ngaji karena sakit kepala berat.” Seberapa beratnya? Allah sangat tahu kondisi kita. Murabbi atau qiyadah boleh jadi akan memakluminya, sebagaimana Rasulullah mengizinkan Jad bin Qais, tapi jika izin yang disampaikan hanya mengada-ada, Allah ta’ala mengecamnya. Semoga kita terhindar dari perilaku demikian.

Ya Allah kuatkanlah iman kami. Teguhkanlah pendirian kami. Kuatkanlah semangat kami untuk senantiasa istiqamah di jalan-Mu.
____________________________
Yogyakarta Darussalam, Arafah 9