Monthly Archives: Juli 2013

Ramadhan Kita

Inilah hadits populer yang sering dibacakan para penceramah di setiap Ramadhan. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:

ـ اذا جاء رمضان فتحت ابواب الجنة وغلقت ابواب النار وصفدت الشياط

“Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu.” (H.r. Bukhari dan Muslim).

Dr. Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan dalam “Fii Rihaabu As-Sunnah” bahwa inilah bulan yang diperbanyak sebab-sebab dan pintu-pintu mendulang kebaikan, dikurangi sebab-sebab serta pintu-pintu terjadinya kejahatan dan keburukan. Dari penjelasan Syaikh Qaradhawi kita memahami bahwa Ramadhan merupakan bulan ketika peluang untuk taat kepada Allah begitu luas dan dimudahkan. Peluang berbuat jahat tertutup rapat. Para penggoda pun terbelenggu tak berkutik. Hanya saja ada yang perlu diingat. Peluang-peluang tersebut hanya dapat diraih dengan iman dan ‘ihtisab’. Mereka yang bermalas-malas tidak akan mengenyam manisnya ketaatan kepada Allah ta’ala.

ـ من قام رمضان إيمانا واحتساباً غفرله ماتقدم من ذنبه

“Siapa yang melakukan qiyam (shalat) di bulan Ramadhan atas dasar iman dan ihtisab maka diampuni untuknya dosa-dosanya yang telah lalu.”

Suasana berkebajikan itu begitu kuat. Sementara dorongan berbuat jahat melemah. Setan-setan yang menggoda pun dibelenggu tak berdaya. Tapi apakah itu cukup untuk menjadikan amal kita menguat di Ramadhan ini? Wallahu a’lam. Faktanya, di Ramadhan, ada yang bersemangat, ada pula yang bermalas-malasan. Faktor-faktor ekternal memang diciptakan kondusif untuk berketaatan, tapi jika diri ini tidak memiliki orientasi dan dorongan kuat untuk beramal maka kita hanya menapaki Ramadhan dengan biasa-biasa saja.

Malu rasanya diri ini, Allah telah mudahkan kita untuk taat, tapi begitu menelisik diri, ternyata semangat untuk menghiasi Ramadhan dengan ketaatan tak cukup membara. Ada teman yang telah tilawah sebanyak sepuluh juz dalam waktu sehari-dua hari. Sementara diri ini, lebih banyak membolak-balik halaman mushaf sambil menghitungnya daripada khusyu’ membacanya. Taraweh tertunaikan dengan kemalasan. Makan-minum tetap saja berlebihan. Biaya konsumsi membengkak, dana infaq tak juga beranjak. Subuh berjamaah terasa malas, tidur setelahnya begitu pulas. Menggunjing teramat sering.

Hari-hari Ramadhan ini, kita selalu menelisik. Adakah iman dan ‘ihtisab’ dalam diri kita?

Iklan

Bersyukur yang Tak Sekedar Janji

Tak ada yang salah dari firman Allah ta’ala. Sama sekali. Sungguh buruk iman kita manakala berani menyangkal sedikitpun kebenaran firman Allah. Na’udzubillahi min dzalik. Ketika Allah membeberkan tabiat kita yang gemar berjanji untuk bersyukur saat terpuruk, lalu lalai ketika kesuksesan dianugerahkan Allah pada kita, rasa-rasanya begitulah yang (masih) sering terjadi dalam diri kita.

Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata), “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bencana ini, maka kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur” (Qs. Yunus [10]: 22). Begitu pula yang dijelaskan Allah dalam Qs. Al-An’am [6]:63. Sungguh kita masih harus terus berusaha memperbaharui kualitas iman kita.

Kesuksesan seringkali melenakan. Inikah iman kita: yang baru teringat Allah dan segala kenikmatan yang dianugerahkan-Nya pada kita saat kesempitan menerpa. Ketika sakit kita berjanji akan taat dan bersyukur begitu sembuh, tapi janji itu akhirnya hanya sebatas janji. Ketika dilanda kebangkrutan bisnis, banyak di antara kita menghiba-hiba di hadapan Allah untuk tekun beribadah dan mensyukuri setiap nikmat yang diberikan, tapi begitu keuntungan bisnis diperoleh, rupa-rupanya cinta duniawi lebih menjadi prioritas. Banyak di antara kita berharap dapat kerja begitu lulus kuliah dg janji untuk selalu mensyukuri nikmat Allah, tapi begitu kerja diperoleh, banyak di antaranya dibelenggu oleh pekerjaan dan dorongan materi.

Semoga bukan wajah di atas, gambaran diri kita. Tak usah menunggu sukses besar untuk bersyukur. Tak usah menanti keluar penuh dari masalah untuk ikhlas bersyukur. Pada saat apapun, kita dapat bersyukur. Pasalnya, di tengah himpitan musibah sekalipun, karunia dan nikmat Allah masih teramat besar. Dalam kemiskinan sekalipun, nikmat Allah tak terkira bagi kita. Kemiskinan tidak menjadi masalah ketika nikmat iman Allah hunjamkan kuat di dalam dada. Mengenali dan menyeksamai bahwa di tengah musibah masih banyak nikmat Allah yang harus disyukuri akan membukakan banyak jalan kebaikan.

Dalam deraan fitnah demi fitnah sekalipun, karunia Allah masih sangat berlimpah. Mungkin ada sekian masalah yang menyesakkan dada, tapi kita mensyukuri bahwa dalam kondisi seperti itu kita semakin dekat dengan Allah. Ada banyak sumber daya yang boleh jadi terasa lunglai tak berdaya, tapi kita masih bersyukur, ada kebersamaan yang makin kuat terasa. Ada banyak himpitan, tapi syukur senantiasa terpanjatkan.

Dari sini kita menginsyafi bahwa jika segala hal yang tak berkesesuaian dengan kehendak kita dianggap masalah dan musibah, barangkali kita akan menganggap bahwa hidup di dunia penuh derita. Keimanan kita menuntunkan bahwa cukuplah dianggap masalah dan musibah ketika dalam situasi apapun kita malah menjauhi ketaatan kepada-Nya. Maka, mengenali hal-hal menakjubkan di antara penatnya musibah akan menjadikan kita penuh dengan harapan. Harapan akan mewariskan keceriaan. Dan keceriaan dalam panduan iman, insya Allah, akan membukakan pandangan kita terhadap jalan kebaikan yang awalnya tampak samar menjadi lebih terang.

Kita pun menyadari, di antara banyak hal yang hilang setelah awalnya dimiliki, kita belajar mensyukuri terhadap apa pun yang tersisa dan benar-benar kita miliki. Dan cukuplah bagi kita jika yang tersisa ialah iman dan semangat perjuangan. Dengan dua hal itu, insya Allah, kita tak terlalu sesak dada.

Hari ini marilah kita renungkan sedalam-dalamnya. Nikmat Allah tetap tak ternilai, meski kita dalam himpitan masalah. Lalu, apa yang menghalangi kita untuk bersyukur. Marilah kita bersyukur setiap saat. []

Disebabkan Orang-orang Lemah

Sa’ad bin Malik: suatu saat ia merasa lebih berdaya dibanding yang lainnya. Entah apa yang menyebabkan ia berpikiran demikian. Kita hanya mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya. Bukhari meriwayatkan peristiwa itu untuk menjadi perenungan buat kita.

Dari Mus’ab bin Sa’ad ia berkata: Suatu saat Sa’ad bin Malik merasa memiliki kelebihan dari orang yang lebih rendah darinya. Maka, Nabi saw bersabda, “Bukankah kalian ditolong dan diberi rezki oleh Allah karena orang-orang dhu’afa di antara kalian?” (HR. Bukhari)

Adakah diri kita seperti Sa’ad bin Malik? Merasa telah sangat sukses dan jaya dibandingkan dengan orang lain. Merasa memiliki banyak koneksi untuk mewujudkan keinginan-keinginan. Merasa memiliki banyak kekuatan untuk mempengaruhi orang lain. Merasa berlimpah fasilitas daripada yang dimiliki orang lain, sehingga menganggap teramat layak bermegah-megah. Sungguh, seluruh kelimpahan itu merupakan pemberian Allah. Dan, yang tak boleh dilupa, bisa jadi Allah berikan semua kelebihan itu karena peranan orang-orang miskin dan dhu’afa di sekitar kita.

Pada Sa’ad bin Malik, Rasulullah mengingatkan perkara kepekaan. “Hal tunshoruuna wa turziquuna illa dhu’afaaikum.” Kita perlu selalu mengingat masa-masa ketika masih menderita. Masa ketika masih bersama berjuang. Ada banyak pertolongan orang lain kepada kita. Ada banyak bantuan orang lain yang diberikan kepada kita. Ingatlah untuk mengasah kepekaan. Kenanglah untuk menghapus kejumawaan.

Adakalanya yang kita peroleh saat ini merupakan peranan banyak orang-orang dhu’afa yang (mungkin) sekarang masih dalam kondisi dhu’afa. Mungkin ada di antara mereka telah mengorbankan harta (yang tak pernah kita ketahui, tentu dengan tulus ikhlas) untuk menjadikan kita anggota legislatif, gubernur, bupati, atau lurah. Ada di antara mereka yang membantu kita saat mencari dan merintis kerja. Ada di antara mereka yang menolong kita saat awal-awal akan kuliah dan sekolah. Ketika keinginan itu tercapai, dan kita mulai merasakan pertolongan dan rizki berlimpah dari Allah, ingatlah bahwa ada di antara orang-orang yang dulu bekerja luar biasa membantu kita tetap miskin dan hidup pas-pasan.

Ketika kita tak lagi kepanasan dan kehujanan karena mobil selalu mengantarkan, ingatlah bahwa masih ada orang-orang yang dulu memperjuangkan kita masih tetap kepanasan dan kehujanan. Ketika kita tak lagi dililit hutang, mungkin orang-orang yang dulu membantu kita belum selesai melunasi hutang-hutangnya. Ketika kita telah berhasil membangun rumah, ingatlah bahwa masih ada orang-orang yang dulu menampung kita, setiap tahunnya masih disibukkan untuk pindah kontrakan yang murah.

Tak ada yang pantas disombongkan dari setiap keberhasilan kita. Tak masalah seseorang memiliki banyak fasilitas selama ia diperoleh dari cara-cara yang benar, tidak melalaikan dari Allah, memudahkan kerja, dan tak menghalangi kita dari banyak orang. Dalam kondisi ketika fasilitas dan kesuksesan telah diraih, saat itulah kepekaan kita akan teruji. Boleh jadi, disebabkan orang-orang lemahlah Allah menolong dan melimpahkan rizkinya kepada kita. Wallahu ta’ala a’lam. []