Monthly Archives: Januari 2014

Malu Saya pada Mereka

Rajab tahun kesembilan hijriah. Orang-orang lebih suka berteduh di rumah atau di bawah rimbun pepohonan saking teriknya. Madinah sedang mengalami musim panas. Sebentar lagi musim gugur tiba. Rasulullah saw memobilisasi kaum Muslimin untuk melawan Romawi. Semua orang yang diliputi keimanan terpanggil. Kaya dan miskin semua terlibat dan berkontribusi sesuai kemampuannya.

Bagi para sahabat yang kaya, seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Abbas bin Abdul Muthalib, Thalhah, Ashim bin Adi, dan yang lainnya berinfak tak tanggung-tanggung. Tentu bukan karena janji bahwa ia akan dikembalikan berlipat-lipat, semata keridlaan Allah sajalah yang terharapkan. Utsman bin Affan menyumbang 900 ekor unta dan 100 ekor kuda bersama bahan makanan dan bekalnya. Untuk itu ia habiskan 1000 dinar. Abdurrahman bin Auf menginfakkan 2000 dirham. Umar menginfakkan 100 uqiyah.

Para perempuan Madinah pun tidak ketinggalan. Mereka infakkan perhiasan-perhiasan mereka yang paling berharga. Bahkan, mereka yang tak berpunya pun turut berkontribusi dalam menghadapi perang Tabuk atau dikenal juga dengan sebutan jaisul usrah (perang di masa-masa sulit). Misalnya, Abu Uqail. Ia datang membawa setengah sha’ kurma.

Melihat para sahabat berkorban, orang-orang munafik lalu mencela dan mencemooh mereka. “Halah, sesungguhnya Allah tidak butuh sedekah seperti ini.”

Ketika Abu Khaitsamah al-Anshari datang sambil membawa satu sha’ kurma, maka orang-orang yang tersimpan dengki dalam hatinya mengolok-oloknya. Demikian pula ketika Ibnu Auf datang sambil berkata, “Sungguh aku memiliki dua sha’ kurma. Satu sha’ kupersembahkan untuk Rabbku. Satu sha’ lagi untuk keluargaku.” Kontan mereka yang luka hati langsung berkomentar, “Tidaklah Ibnu Auf memberikan itu kecuali hanya riya’.”

Maka, saat itulah Allah turunkan ayat, “Orang munafik, yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan (yang) mencela orang-orang yang hanya memperoleh (sesuatu yang akan disedekahkan) sekedar kesanggupannya.” (Qs. At-Taubah: 79).

Betapa malu diri ini yang masih gampang curiga pada mereka yang berbuat kebaikan. Betapa sibuk diri ini mencela mereka yang berkorban untuk sesama, sementara kita lalai untuk berbuat yang lebih baik darinya. Ketika bencana alam: banjir atau gunung meletus, atas izin Allah melanda tanah air menjelang pesta demokrasi 2014, betapa saya gampang sekali mencurigai mereka yang berkebajikan, hanya karena mereka memasang atribut dan identitas organisasi.

Saya sering berpikir, “Kenapa kalau ikhlas berbuat, harus pakai seragam organisasi? Kenapa harus kibarkan bendera ormas? Kenapa harus kenakan baju partai? Ikhlas ya ikhlas. Tidak perlu pakai atribut dan embel-embel.” Saya terus curiga dan lupa berkorban yang sama. Sementara mereka juga terus berbuat sebisa yang mereka upayakan. Lama-kelamaan saya merasa malu. Betapa naif saya menelisik keikhlasan orang lain hanya karena atribut yang dikenakan.

Bukankah ikhlas atau tidak, pasti Allah Mahamengetahui. Yang ikhlas akan berbalas. Sekira tidak ikhlas, paling tidak, korban bencana alam telah terbantu. Lagi pula, ikhlas atau tidak ikhlas -menurut saya- adalah perkara orientasi, bukan masalah atribut dan asesoris. Sekira ia diniatkan semata karena mencari keridlaan Allah, seberat apapun ia menunaikannya, maka itulah ikhlas. Maka ketulusan itu akan dirasakan oleh mereka yang terbantu. Mereka lebih mengetahui kiprah dan pengorbanan para relawan itu dibandingkan saya, misalnya, yang hanya mengetahui dari liputan media.

Maka pagi ini, saat mengingati pengorbanan para sahabat menjelang Perang Tabuk dan sikap para pendengki yang mencaci mereka, tiba-tiba saya merasa sangat malu. Saya merasa sok tahu mengenai isi hati orang. Bukankah pada mereka yang berkorban untuk sesama, apapun atribut dan bendera yang mereka kenakan, kita patut berikan apresiasi. Sementara itu, masalah seragam dan bendera, anggap saja itu sekedar identitas untuk dikenali. Persis seperti relawan kemanusiaan kita yang dikirim ke luar negeri atau tim-tim relawan dari TNI, PMI, atau yang lainnya. Mereka kibarkan bendera dan kenakan seragam sebagai identitas. Adapun bagi partai yang bergerak karena hendak dapat simpati publik jelang 2014, masyarakat pun insya Allah dapat menilai mereka. Partai atau ormas yang bergerak karena panggilan jiwa pasti yang akan memiliki daya tahan dalam berjuang. Ia akan berkiprah tak sebatas jelang pemilu. Mereka juga tak bergerak sekedar pencitraan. Yang bergerak sebab ingin peroleh citra, insya Allah, tak mampu bertahan mendampingi masyarakat 24 jam dalam seharinya. Nah, serahkan saja pada masyarakat untuk menilai sendiri.

Sungguh, tugas kita hanya melakukan perbaikan, selagi masih berkesanggupan. Demikian yang Al-Qur’an sampaikan dalam surah Hud ayat 88. Mereka yang bekerja dengan sepenuh pengabdian, tak akan hina hanya sebab cacian. Mereka yang bekerja sebatas kepentingan, tak akan mulia oleh sanjung dan pujian. Jadi rasanya kalau saya teres menerus memasang rasa curiga, bukan mereka yang dirugikan, saya sendiri yang amat naif dan merugi.

Pada mereka yang telah mengabdi dan selama ini selalu saya curigai, maafkanlah saya. Siapa tahu di hadapan Allah, Anda semua jauh lebih mulia daripada saya, yang masih gemar mencela-sedikit pula berkarya. []

Iklan

Pakaian

Pada banyak hal, sudut pandang materi selalu berpeluang mengecoh. Ia seringkali mengaburkan pandangan kita sehingga sering keliru pula menempatkan orang. Orang-orang dengan sudut pandang materi selalu mengukur orang lain dengan atribut-atribut materi yang dikenakannya.

Jika seseorang itu menampilkan dandanan glamour, ia mudah sekali mentakjubinya. Tapi, jika seseorang berpenampilan sederhana, ia gampang mencelanya. Orang-orang seperti ini susah menemukan kemuliaan seseorang kecuali sebatas barang-barang aksesoris yang dikenakan orang lain. Di tengah kehidupan yang menempatkan tolok ukur materi di atas segalanya, kebiasaan seperti ini gampang dijumpai. Maka, orang pun menjadi risih ketika tampil biasa-biasa saja.

Untuk perkara kesederhanaan ini saya teringat kisah Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khathab. Dari namanya kita mengenali beliau sebagai cucu Umar bin Khathab. Sebagaimana juga kakeknya, Salim tampil sederhana. Suatu hari ia berkunjung ke hadapan amirul mukminin, Sulaiman bin Abdul Malik. Salim, yang mulia karena akhlak dan ilmunya itu datang dengan pakaian sangat sederhana; usang dan terlihat kasar. Tapi oleh amirul mukminin beliau dipersilahkan duduk di singgasana, dengan ramah dan hangat.

Di majelis itu, datang pula murid Salim bin Abdullah, Umar bin Abdul Aziz. Tiba-tiba dari arah belakang, seorang laki-laki berbisik kepada Umar bin Abdul Aziz, “Apakah pamanmu tidak bisa memakai pakaian yang lebih bagus untuk menghadap Amirul Mukminin?” Demikian bisik lelaki dengan pakaian bagus dan mahal itu.

Sang laki-laki yang berbisik itu, mungkin adalah potret wajah kita yang teramat gampang menilai seseorang dari tampilan luar. Tidak sekedar itu, boleh jadi ia juga lukisan wajah kita yang menganggap bahwa kemuliaan diri itu ada pada segala bentuk polesan. Maka tak heran jika ada banyak di antara kita yang memaksa tampil ‘wah’ hanya karena cara pandang ini. Kita akan merasa lebih nyaman jika bisa memasang stiker kampus luar negeri, stiker merek gadget keren, atau juga tempat-tempat wisata yang terkunjungi di kendaraan kita. Kadang di sebagian orang ia terpasang begitu saja, tapi bagi sebagian yang lain mungkin tak sekedar itu; ia adalah status dan bukan sekedar stiker.

Maka, jawaban Umar bin Abdul Aziz pada lelaki pembisik itu patut untuk direnungi. “Aku tidak melihat,” kata Umar, “baju yang dipakai pamanku mendudukannya di tempatmu, dan aku juga tidak melihat baju yang kau kenakan bisa mendudukanmu di tempat pamanku itu.” Jleb! Laki-laki itu terdiam dan kembali ke tempat duduknya. Jawaban Umar bin Abdul Aziz itu terasa menohok, tidak saja bagi sang lelaki dalam kisah tersebut, tapi juga bagi saya yang masih mudah silau oleh gemerlap atribut dan penampilan. []