Monthly Archives: Desember 2015

Umar dan Kisah tentang Sebuah Lentera

Inilah sepotong kisah tentang Umar ibn Abdul Aziz bersama Raja’ ibn Haiwah, alim nan agung perancang skenario pengangkatan Umar ibn Abdul Aziz sebagai khalifah. Di tengah sistem yang rusak, Raja’ ibn Haiwah memilih melakukan tindakan daripada menyampaikan kutukan. Di tengah sistem yang bobrok ia memilih upaya kecil untuk mengubahnya dan bukan meninggalkannya.

Maka, sang alim ini telah menjadi teladan tentang orang-orang yang menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan. Sejarah lalu mencatat ikhtiarnya untuk mengusulkan Umar ibn Abdul Aziz sebagai pengganti Sulaiman ibn Abdul Malik. Setelahnya kita mengenang sepenggal masa yang amat memesona saat Umar ibn Abdul Aziz berkuasa.
Memang, sang pemimpin yang diusulkan sang alim ini amat layak untuk memimpin. Keduanya menampilkan kepribadian yang layak jadikan teladan. Inilah sepenggal potret keanggunan akhlak mereka.

Malam itu keduanya asyik berbincang. Raja’ ibn Haiwah rupanya sedang bertamu di kediaman Sang Khalifah. Mereka terlihat akrab bercakap. Lama mereka berbincang hingga pelayan Sang Khalifah pun tak terasa tertidur di samping mereka berdua.

Tiba-tiba lampu mati. Ruangan menjadi gelap seketika. “Maafkan, lampunya mati. Mungkin minyaknya habis,” demikian ujar Umar ibn Abdul Aziz pada sang tamu.

“Kalau begitu minta tolonglah pada pelayan untuk memperbaikinya,” usul Raja’ ibn Haiwah. Usul yang wajar dan jamak dilakukan.

“Tidak usah. Dia telah tertidur di samping kita. Barangkali saking lelahnya.”

“Ya sudah, aku saja yang memperbaikinya,” kata Raja’ hendak bangkit memperbaiki lampu. Tapi buru-buru Umar ibn Abdul Aziz mencegah dan dia sendiri yang bangkit.

“Tidak layak bagi tuan rumah untuk memperbaiki lampu mati saja meminta pada tamunya.” Umar ibn Abdul Aziz lalu meletakkan sorbannya, beranjak ke arah lampu, dan memperbaikinya.

Kisah sederhana di atas dikisahkan Sang Tamu, Raja’ ibn Haiwah pada Abdul Aziz putra Sang Tuan Rumah, Umar ibn Abdul Aziz sambil menyatakan kekagumannya, “Aku tak menemukan seorang pun yang lebih sempurna akal dan akhlaknya daripada ayahmu.”

Demikianlah kita belajar tentang kepemimpinan, dalam maknanya yang amat luas. Ukuran sesungguhnya dari kekuatan sang pemimpin, rupa-rupanya, bukan terletak pada seberapa banyak yang melayaninya, tapi seberapa banyak yang dilayaninya. Pemimpin yang bersedia mengotori tangannya untuk melayani sesama, sungguh makin memancarlah daya pengaruhnya.

Kisah di atas tentu bukan cerita yang dirancang untuk sebuah pencitraan di hadapan sesama. Para pemimpin sejati amat memahami bahwa cukuplah ia menunaikan segala yang Allah perintahkan; sebab merancang pencitraan agar dipuji dan dikagumi sesama itu amat melelahkan, sementara berikhtiar menunaikan kewajiban agar terpuji di hadapan Allah itu menentramkan.

Iklan

BICARA

Tiba-tiba saja Sang Khalifah, Harun al-Rasyid, yang sedang thawwaf di Baitullah didatangi seorang lelaki. Wajahnya tegang dan tak ada senyuman. “Wahai Amirul Mukminin,” katanya, “aku ingin bicara padamu. Tapi mungkin yang kusampaikan agak kasar!”Laki-laki itu berterus terang di awal. Ia ingin protes, tapi ia menyadari bahwa ia tak kuasa menahan emosi. Boleh jadi itu memang kebiasaannya. 

Tapi Sang Khalifah bijak menasihatkan. “Tak perlu kau perkata kasar,” katanya, mencegah. Saya bayangkan, beliau tersenyum mereda ketegangan. Setelahnya beliau berikan alasan, “Allah telah mengutus orang yang lebih baik darimu, ialah Musa dan Harun kepada seseorang yang lebih buruk dari aku, dialah Fir’aun. Tapi, pada Musa dan Harun, Allah perintahkan untuk berbicara kepada Fir’aun dengan kata-kata yang lembut.”

Benar nasihat Harun al-Rasyid, Allah telah perintahkan kepada Musa dan juga Harun untuk menemui Fir’aun. “Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun. Sesungguhnya ia telah melampaui batas. Maka perbicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Q.s. Thaaha [20]: 43-44). Pada Fir’aun saja yang jelas-jelas telah Allah sebutkan: innahu thaghaa — sesungguhnya ia telah melampaui batas, tutur kata yang lembut hendaknya menjadi pilihan, terlebih pada mereka yang kesalahannya saja masih diragukan.

Kita lebih berhajat untuk bertutur kata lembut, sebab kita tak lebih baik dari Musa dan Harun, dan yang kita hadapi tak lebih buruk daripada Fir’aun, bahkan boleh jadi dia lebih baik daripada diri kita. Tak ada marwah pada mereka yang berkata kasar. Tak akan meninggalkan jejak pengaruh setiap kata yang dilontarkan dengan menyakitkan sesama. Adapun kata-kata yang lembut, yang tetap menunjukkan keteguhan sikap, dan kejernihan pendapat lebih mungkin meninggalkan pengaruh. Semoga (dengan perkataan yang lembut itu) Fir’aun sadar atau takut, demikian Al-Quran menasihatkan.

Meski tak terjamin bahwa kata-kata yang tersampaikan dengan lembut pasti berpengaruh, tapi Allah menganjurkan kita menggunakannya, sebab ia lebih mulia dan memuliakan sesama. Dalam berbicara ternyata tak hanya perkara benarnya perkataan, cara menyampaikan pesan juga perlu diperhatikan. 

Masihkah kita berkata kasar pada sesama? Kasar saat bicara pada anak, menyakitkan ketika berbincang dengan pasangan, membuat luka manakala bercakap dengan sesama. Memperbaiki diri adalah jalan terbaik. Kadang tak banyak pengaruh perubahan dari kata-kata yang disampaikan dengan kasar. Berlemah lembut dalam bertutur hendaknya menjadi pilihan.

Tentu yang menulis ini tak lebih baik dalam bertutur. Saya sadar ada banyak yang pernah tersakiti. Tak terhitung yang pernah terlukai. Atas semua perkataan yang meninggalkan luka itu saya mohon dimaafkan.