BICARA

Tiba-tiba saja Sang Khalifah, Harun al-Rasyid, yang sedang thawwaf di Baitullah didatangi seorang lelaki. Wajahnya tegang dan tak ada senyuman. “Wahai Amirul Mukminin,” katanya, “aku ingin bicara padamu. Tapi mungkin yang kusampaikan agak kasar!”Laki-laki itu berterus terang di awal. Ia ingin protes, tapi ia menyadari bahwa ia tak kuasa menahan emosi. Boleh jadi itu memang kebiasaannya. 

Tapi Sang Khalifah bijak menasihatkan. “Tak perlu kau perkata kasar,” katanya, mencegah. Saya bayangkan, beliau tersenyum mereda ketegangan. Setelahnya beliau berikan alasan, “Allah telah mengutus orang yang lebih baik darimu, ialah Musa dan Harun kepada seseorang yang lebih buruk dari aku, dialah Fir’aun. Tapi, pada Musa dan Harun, Allah perintahkan untuk berbicara kepada Fir’aun dengan kata-kata yang lembut.”

Benar nasihat Harun al-Rasyid, Allah telah perintahkan kepada Musa dan juga Harun untuk menemui Fir’aun. “Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun. Sesungguhnya ia telah melampaui batas. Maka perbicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Q.s. Thaaha [20]: 43-44). Pada Fir’aun saja yang jelas-jelas telah Allah sebutkan: innahu thaghaa — sesungguhnya ia telah melampaui batas, tutur kata yang lembut hendaknya menjadi pilihan, terlebih pada mereka yang kesalahannya saja masih diragukan.

Kita lebih berhajat untuk bertutur kata lembut, sebab kita tak lebih baik dari Musa dan Harun, dan yang kita hadapi tak lebih buruk daripada Fir’aun, bahkan boleh jadi dia lebih baik daripada diri kita. Tak ada marwah pada mereka yang berkata kasar. Tak akan meninggalkan jejak pengaruh setiap kata yang dilontarkan dengan menyakitkan sesama. Adapun kata-kata yang lembut, yang tetap menunjukkan keteguhan sikap, dan kejernihan pendapat lebih mungkin meninggalkan pengaruh. Semoga (dengan perkataan yang lembut itu) Fir’aun sadar atau takut, demikian Al-Quran menasihatkan.

Meski tak terjamin bahwa kata-kata yang tersampaikan dengan lembut pasti berpengaruh, tapi Allah menganjurkan kita menggunakannya, sebab ia lebih mulia dan memuliakan sesama. Dalam berbicara ternyata tak hanya perkara benarnya perkataan, cara menyampaikan pesan juga perlu diperhatikan. 

Masihkah kita berkata kasar pada sesama? Kasar saat bicara pada anak, menyakitkan ketika berbincang dengan pasangan, membuat luka manakala bercakap dengan sesama. Memperbaiki diri adalah jalan terbaik. Kadang tak banyak pengaruh perubahan dari kata-kata yang disampaikan dengan kasar. Berlemah lembut dalam bertutur hendaknya menjadi pilihan.

Tentu yang menulis ini tak lebih baik dalam bertutur. Saya sadar ada banyak yang pernah tersakiti. Tak terhitung yang pernah terlukai. Atas semua perkataan yang meninggalkan luka itu saya mohon dimaafkan.

Iklan

2 responses to “BICARA

  1. ijin share nggih 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s