Umar dan Kisah tentang Sebuah Lentera

Inilah sepotong kisah tentang Umar ibn Abdul Aziz bersama Raja’ ibn Haiwah, alim nan agung perancang skenario pengangkatan Umar ibn Abdul Aziz sebagai khalifah. Di tengah sistem yang rusak, Raja’ ibn Haiwah memilih melakukan tindakan daripada menyampaikan kutukan. Di tengah sistem yang bobrok ia memilih upaya kecil untuk mengubahnya dan bukan meninggalkannya.

Maka, sang alim ini telah menjadi teladan tentang orang-orang yang menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan. Sejarah lalu mencatat ikhtiarnya untuk mengusulkan Umar ibn Abdul Aziz sebagai pengganti Sulaiman ibn Abdul Malik. Setelahnya kita mengenang sepenggal masa yang amat memesona saat Umar ibn Abdul Aziz berkuasa.
Memang, sang pemimpin yang diusulkan sang alim ini amat layak untuk memimpin. Keduanya menampilkan kepribadian yang layak jadikan teladan. Inilah sepenggal potret keanggunan akhlak mereka.

Malam itu keduanya asyik berbincang. Raja’ ibn Haiwah rupanya sedang bertamu di kediaman Sang Khalifah. Mereka terlihat akrab bercakap. Lama mereka berbincang hingga pelayan Sang Khalifah pun tak terasa tertidur di samping mereka berdua.

Tiba-tiba lampu mati. Ruangan menjadi gelap seketika. “Maafkan, lampunya mati. Mungkin minyaknya habis,” demikian ujar Umar ibn Abdul Aziz pada sang tamu.

“Kalau begitu minta tolonglah pada pelayan untuk memperbaikinya,” usul Raja’ ibn Haiwah. Usul yang wajar dan jamak dilakukan.

“Tidak usah. Dia telah tertidur di samping kita. Barangkali saking lelahnya.”

“Ya sudah, aku saja yang memperbaikinya,” kata Raja’ hendak bangkit memperbaiki lampu. Tapi buru-buru Umar ibn Abdul Aziz mencegah dan dia sendiri yang bangkit.

“Tidak layak bagi tuan rumah untuk memperbaiki lampu mati saja meminta pada tamunya.” Umar ibn Abdul Aziz lalu meletakkan sorbannya, beranjak ke arah lampu, dan memperbaikinya.

Kisah sederhana di atas dikisahkan Sang Tamu, Raja’ ibn Haiwah pada Abdul Aziz putra Sang Tuan Rumah, Umar ibn Abdul Aziz sambil menyatakan kekagumannya, “Aku tak menemukan seorang pun yang lebih sempurna akal dan akhlaknya daripada ayahmu.”

Demikianlah kita belajar tentang kepemimpinan, dalam maknanya yang amat luas. Ukuran sesungguhnya dari kekuatan sang pemimpin, rupa-rupanya, bukan terletak pada seberapa banyak yang melayaninya, tapi seberapa banyak yang dilayaninya. Pemimpin yang bersedia mengotori tangannya untuk melayani sesama, sungguh makin memancarlah daya pengaruhnya.

Kisah di atas tentu bukan cerita yang dirancang untuk sebuah pencitraan di hadapan sesama. Para pemimpin sejati amat memahami bahwa cukuplah ia menunaikan segala yang Allah perintahkan; sebab merancang pencitraan agar dipuji dan dikagumi sesama itu amat melelahkan, sementara berikhtiar menunaikan kewajiban agar terpuji di hadapan Allah itu menentramkan.

Iklan

One response to “Umar dan Kisah tentang Sebuah Lentera

  1. “sebab merancang pencitraan agar dipuji dan dikagumi sesama itu amat melelahkan, sementara berikhtiar menunaikan kewajiban agar terpuji di hadapan Allah itu menentramkan.”

    (y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s