Monthly Archives: April 2016

TENTANG DUA ORANG DI SAMPING SANG PANGERAN

Warta lelayu itu terkabarkan pula pada Pangeran Diponegoro. Di hari kedua puluh satu bulan September 1829 itu, panglima senior sang Pangeran, Pangeran Ngabehi, yang juga merupakan paman beliau, beserta dua orang putranya syahid dalam pertempuran sengit di Kelir, perbatasan Mataram-Begelen. Kepala ketiga kerabat Sang Pangeran itu dipenggal lalu dicocok dengan bambu runcing. Tubuh ketiganya dibuang ke jurang. Saya bayangkan duka menyelimuti Sang Pangeran saat mendengar lelayu itu. Tidak saja karena sepeninggal Pangeran Ngabehi beliau semakin terpojok dan sendiri, tapi membayangkan bagaimana ketiga kerabatnya dibantai Belanda dan serdadu Ternate tentu menimbulkan duka yang amat dalam.
Akhir 1829 adalah hari-hari yang berat bagi Pangeran Diponegoro. Kekuatan pasukannya mulai menyusut. Panglima perang dan orang-orang terdekat beliau mulai banyak yang ditangkapi dan bahkan banyak pula yang terbunuh di medan tempur. 24.685 serdadu dan 1.133 kuda dikerahkan de Kock untuk mempersempit ruang gerak Sang Pangeran dengan menggiring agar pasukan Diponegoro bertahan di antara Progo dan Bogowonto. Sebuah strategi yang diadaptasi de Kock dari Jenderal Lazzarre Hoche di Vendee (1793) dan Mayor Jenderal Malcolm.
Masih teringat ketika tersiar warta bahwa Kiai Mojo, sosok yang amat diseganinya tertangkap di hari kesebelas bulan November 1828 dini hari di tepi barat Sungai Bedog. Tapi semangat Sang Pangeran tetap tak pernah pupus. Tapi kematian Pangeran Ngabehi dan dua orang putranya di pegunungan Kelir secara mengenaskan tergambar dalam babad yang ditulisnya jelas menimbulkan duka. Air matanya mengambang berkaca-kaca dan Sang Pangeran merasa sendiri di Tanah Jawa. Amat manusiawi tentunya. Duka lain menyusul sebulan berikutnya.
Sentot Prawirodirjo menyerah pada Belanda pada16 Oktober 1829. Di akhir bulan itu, ibunda Sang Pangeran, Raden Ayu Mangkorowati tertangkap di daerah Pengasih. Demikian pula dengan puteri beliau, Raden Ayu Gusti. Di tengah duka dan rasa kesendirian itu, untung saja ada Bantengwareng (sekitar 1805-1858) dan Joyosuroto atau biasa dipanggil Roto, dua orang punakawan Sang Pangeran, yang senantiasa menemani dengan setia. Bantengwareng teraran sebagai bocah ndhugal, bandel, lagi katik tubuhnya. Makamnya di Makassar, di area pemakaman keluarga Diponegoro tampak layaknya makam anak kecil; sebuah bukti bahwa ia memang seorang katik (cebol).
11 November 1829. Hari itu tepat empat puluh empat tahun usia beliau. Tanggal dan bulan yang tak hanya mengingatkan Sang Pangeran pada hari kelahirannya, tapi juga saat penasihatnya, Kiai Mojo, tertangkap setahun sebelumnya. Sang Pangeran beserta dua punakawan muda yang mengiringinya berjalan ke arah barat. Mereka terlihat berjalan kaki dengan amat payah dan lelah. Dua ekor kuda dituntun sang punakawan. Sebuah peti berisi pakaian dinaikkan di atas salah satu kuda. Sesekali Roto berseloroh menghibur. Roto memang suka melucu, selain ia amat lihai berkisah. Kelak kemampuan Roto dalam menghibur itu amat membantu Sang Pangeran menempuhi perjalanan dari Batavia hingga Makassar yang mungkin amat membosankan.
Setiba di pegunungan Gowong, sebelah barat Kedu, ketiganya baru menyadari sebuah bahaya mengancam. Sepasukan gerak cepat kesebelas Belanda mengejarnya. Agaknya pasukan itu dikomandani oleh Mayor A.V. Michiels (1797-1849). Ketiganya gegas bergerak. Tapi ketiganya terhenti. Di depannya tak ada lagi jalan untuk meloloskan diri, hanya sebuah jurang curam nan terjal. Sementara di belakang, pasukan Belanda bergerak merapat dengan rasa menang, mereka amat yakin buronan yang telah menguras kas Belanda hingga 20 juta gulden itu bakal tertangkap. Ya, akibat Perang Jawa (1825-1830) Belanda nyaris bangkrut. Kelak seluruh kemalangan ekonomi akibat Perang Jawa itu dipulihkan melalui proyek jumawa berupa Sistem Tanam Paksa yang digagas Johannes van den Bosch (1830-1870).

 

Serasa Musa di depan Laut Merah, tak ada jalan untuk keluar, kecuali semata atas pertolongan Allah; sebuah keyakinan yang terpatri kuat dalam diri Sang Pangeran, dan diikuti oleh Bantengwareng dan Roto; dua punakawan Pangeran Diponegoro yang bersetia membersamai. Dua ekor kuda, tombak pusaka Kiai Rondhan, dan peti berisi pakaian selama perang terpaksa ditinggalkan. Ketiganya melompat ke dalam jurang lalu bersembunyi di rerimbun gelagah yang tinggi. Dalam kondisi terbarut dan terluka, ketiganya menyusuri hutan-hutan di Begelen, Banyumas, hingga Kedu selatan (November 1829-Januari 1830). Terseok-seok tanpa bekal. Menghadapi sergapan Belanda yang terus mengancam sekaligus juga ganasnya hutan. Tak heran jika selama berkelana itu, Pangeran terserang Malaria Tropika. Dalam masa-masa itu, Bantengwareng dan Roto tulus membersamai dan melayani.
Merekalah yang meracik reramuan tradisional untuk mengobati Sang Pangeran. Seluruh derita perjuangan itu memang telah menjadi kemestian hidup Pangeran dan juga para punakawan yang mengiringi. Tak ada yang layak disesalkan, sebab keridlaan Allah semata yang menjadi pengharapan. “Telah menjadi kemestian dari Allah, bahwa aku mesti memanggul derita ini (bayankarsaning Wyang/ingsun kinon anglakoni/),” demikian tulis beliau dalam Babad-nya.
Februari 1830 Sang Pangeran mulai menuju Menoreh. Bantengwareng dan Roto terus menemani. Mereka berdua selalu ada di samping Sang Pangeran, baik di saat sendiri maupun ketika pada awal bulan kedua di tahun terakhir Perang Jawa itu, ia bergerak ke arah terbitnya matahari; tidak kurang dari 200-an orang mengikuti. Ternyata rakyat masih amat mencintai dan mendukung pemimpin Perang Jawa itu. Pada hari ke-21 pada bulan yang sama, Sang Pangeran tiba di Menoreh. Yang semula hanya dibersamai dua orang punakawan setianya, Bantengwareng dan Roto, hari itu tidak kurang 700 orang telah berkumpul di Menoreh. Saya bayangkan suasana haru di antara rimbun pepohonan Menoreh. Kedu selatan, Begelen, hingga Menoreh adalah sehimpun kisah tentang orang-orang yang setia pada perjuangan Diponegoro.
Pada Ahad, 28 Maret 1830 saat Pangeran Diponegoro datang di Wisma Residen di Magelang, Roto dan Bantengwareng terus mengikuti. Bahkan, ketika pada 3 Mei ia bersama 19 pengikutnya diberangkatkan ke Manado dengan kapal, dua punakawan setia itu tetap membersamai. Di kapal, keduanyalah yang sesekali menghibur Sang Pangeran dengan guyonan-guyonan segar dan renyah. Roto misalnya menyebut kentang yang disuguhkan pada Sang Pangeran dengan, “kentang walandi” atau “kentang sabrang”, sebuah gojekan yang membuat hari-hari Sang Pangeran lebih terhibur selama satu setengah bulan pelayarannya ke Manado.


Mengikuti kisah Diponegoro, serasa kita tidak bisa menanggalkan Bantengwareng dan Roto. Kedudukannya barangkali tak bisa disandingkan dengan kisah Harun yang membersamai Musa atau atau Abu Bakr bersama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tapi ketiganya bagai bertemu pada sehimpun kisah tentang kesetiaan dan keteguhan sikap dalam perjuangan. Darinya kita pun belajar, sekuat apapun seorang pejuang ia masih membutuhkan seorang sahabat, yang membersamainya dalam perjuangan, sekecil dan selemah apapun sahabat itu dalam pandangan sesama. Maka, Musa ‘alaihissalam pun memohon pada Allah ta’ala, “Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, ialah Harun, saudaraku” (Q.s. Thaaha [20]: 29-30).
Tapi kita pun juga dapat belajar, betapa mulia mereka yang mengikuti para salih, sekecil dan sesederhana apapun yang bisa diperbuat. Dalam kesertaan bersama para salih dan pejuang itu mungkin seseorang akan dilupakan dan dianggap liliput, tapi sungguh sekira ia tertunai dengan ikhlas, Allah akan selalu mengingat dan memuliakannya. Bahkan, seekor anjing yang membersamai ashabul kahfi, yang sekedar menjulurkan kakinya di tubir mulut goa sekalipun, terabadikan kisahnya di dalam Al-Quran (Q.s. Al-Kahfi [18]: 18). Tak ada orang kecil dalam setiap perjuangan selagi ia ikhlas dan mengharap keridlaan Allah. Si Katik Bantengwareng ternyata amat tinggi dan mulia; sementara Roto nan jenaka, ternyata amat seriusnya meraih jalan ke surga. []
_____________

KETERANGAN GAMBAR: Lukisan Raden Syarif Bustaman, 1857. Penangkapan pemimpin Jawa, Diponegoro. Tampak Joyosuroto (Roto/terlingkari), pengiring pribadi Pangeran Diponegoro, berada di belakang istri Sang Pangeran, Raden Ayu Retnoningsih.

 

TENTANG SEORANG RATU YANG MEMUTUSKAN UNTUK MENINGGALKAN KERATON NGAYOGYAKARTA PADA 1790

Membincang wanita perkasa nusantara, ternyata kita tidak hanya mengenal satu nama. Ada banyak nama yang dimiliki negeri ini.

Kanjeng ratu winarni/pan tetanen remenipun/sinambi lan ngibadah/kinarya namur puniki/lampahira gen brongta marang Yang Sukma.

1790. Dalam usia enam puluhan tahun, puteri Kiai terkemuka di Kabupaten Sragen, Ki Ageng Drepoyudo itu memilih meninggalkan istana Ngayogyakarta. Keputusannya itu tak bisa dipenggak, tak bisa dihalang-halangi. Wajarlah itu. Wanita yang sekira dilacak silsilahnya masih bersambung ke Sultan Bima pertama, Sultan Kahir I (1621-1647), pendiri kesultanan Islam di Sumbawa itu, jelas memiliki jiwa yang tegas dan berkemauan keras. Sebagai puteri seorang kiai dari keturunan kesultanan Islam di Sumbawa dan juga selaku permaisuri Sultan Hamengkubuwana I, tentulah ia amat teguh dalam memegang prinsip beragama. Dan memang demikiankah beliau. 

Ratu Ageng, demikian beliau selanjutnya sering disebut. Atau, Ratu Ageng Tegalrejo, terutama sejak 1790, setelah beliau memilih menetap di Tegalrejo, sebuah desa di sebelah Tenggara keraton. Di masanya daerah itu dapat ditempuh selama satu jam jalan kaki dari keraton. Kepergiannya dari keraton boleh dibilang sangat mendadak. Beliau putuskan meninggalkan keraton pada awal pemerintahan puteranya, Raden Mas Sundoro, yang kemudian naik tahta dan bergelar Sultan Hamengkubuwana II. Anak laki-laki yang dilahirkannya pada 7 Maret 1750 ketika pasukan suaminya, Pangeran Mangkubumi istirah sejenak di lereng Gunung Sindoro di Kedu, selama beliau membersamai sang suami dalam perang Giyanti (1746-1755) melawan Belanda. Menelisik perjalanannya hingga penggalan Maret 1750 inipun kita dapat menduga bahwa Ratu Ageng adalah wanita kuat dan tegar. Dapatkah kita bayangkan seorang wanita yang hamil serta melahirkan di tengah-tengah peperangan, kecuali ia seorang yang amat tangguh?

Keputusannya untuk meninggalkan keraton pun bukan tanpa alasan. Alasan Ratu Ageng meninggalkan keraton dan memilih tinggal di luar tembok istana dapat terbaca dalam tembang Sinom yang termaktub dalam Babad Diponegoro: Kanjeng Ratu Geng winarni/pan asring selaya neki/lan kang putra pribadi/dadya mutung adhudhukuh/babat kang ara-ara/mapan lajeng den dalemi…[] (Perihal Ratu Ageng/betapa sering beliau berselisih/dengan putranya sendiri/maka ia kecewa lalu pergi/membuka lahan baru/tanah-tanah terlantar digarapnya/lantas menetap tinggal di sana…). Ya, bersebab Ratu Ageng tak bersepaham dengan gaya hidup putranya, Sultan Hamengkubuwana II, yang dinilai mulai berani menyepelekan perintah agama. Sang raja juga diamati sang ibu amat jarang mengunjungi Masjid Agung, tempat ibadah resmi para Sultan Yogya. Kiranya Ratu Ageng amat kecewa dengan kehidupan di keraton yang mulai permisif dengan pengaruh Belanda serta persengkokolan yang meretakkan kekerabatan.

Di Tegalrejo, Sang Ratu memilih bertani. Bekerja mengolah tanah, menyiangi tanaman, dan berpayah-payah saat memanen. Seperti terbaca dalam tembang Sinom di awal tulisan ini, Sang Ratu senang bertani, sambi tetap istiqamah beribadah. Ia tunaikan semuanya tanpa pamrih (kinarya namur puniki). Ketika pada akhirnya Tegalrejo berubah menjadi daerah yang makmur nan sejahtera, mulailah berduyun-duyun orang mendatanginya. Para santri pun banyak pula yang bertandang untuk menuntut ilmu. Tegalrejo menjadi magnet yang menarik untuk dikunjungi. Inilah kisah Sang Ratu yang memilih terus berbuat, meski usianya yang sepuh menuntut beliau beristirahat.

Sang Ratu rupanya tak hanya mahir olah kanuragan; berkuda, memainkan panah, membidik dengan bedil, atau menggunakan patrem, sebagai kemampuan dasar panglima prajurit estri Keraton Ngayogyakarta; beliau — sebagaimana dituturkan Peter Carey dalam “The Power of Prophecy” (2007) — sangat cermat mengelola setiap perniagaan yang dijalaninya, selain tentu kemampuannya dalam bercocok tanam. 

Hidup beliau seakan tak pernah sepi dari aktivitas kebaikan. Sampai pada suatu hari di bulan September 1803, Sang Ratu mesti istirahat cukup lama. Demam yang amat tinggi menyerangnya, setelah sebelumnya beliau tercebur ke dalam salah satu tambak miliknya di Tegalrejo. Dalam masa istirahat itu, Ratu Ageng sayup-sayup mendengar Gunung Merapi di utara mulai meletus sejak 22 September 1803 itu. Dalam kondisi mencekam karena letusan Merapi, Sang Ratu dipindahkan ke kediaman putra mahkota di Yogya. Kondisinya mulai membaik pada awal Oktober 1803 itu. 

Pada sepotong Oktober itu ia sempatkan menasihati putranya, Sultan kedua. Suaranya masih terdengar lemah, tapi nasihatnya amat kuat bertenaga. “Sultan,” demikian beliau memulai perbincangan, “jalan yang kutempuh tidaklah mudah. Sekarang aku merasa bahwa diriku tak lebih dari seorang rakyat biasa.” Sang Ratu menghela nafas sejenak. Ia pandangi sang putra dengan sepenuh cinta. Sorot matanya tajam berwibawa.

“Anakku,” kata Sang Ratu melanjutkan nasihatnya, “camkanlah hal itu dan jangan percaya bahwa meskipun kamu sekarang adalah seorang raja, setelah kamu mati kamu akan lebih tinggi daripada seorang batur (hamba jelata). Maka, hiduplah sesuai dengan itu!” Sang Ratu hingga di bukan Oktober itu tetap berteguh sikap bahwa harapan pada sang putra agar tetap berpegang teguh pada prinsip agama tidak sedikit pun pudar. Janganlah kamu percaya, demikian tutur nasihat beliau, bahwa setelah kematian seorang raja akan tetap menjadi raja. Tidak. Setelah kematian, seorang raja akan menjadi hamba di hadapan Allah, sebagaimana mestinya ia dipahami selama masa hidupnya pula. Sekalipun menjadi raja, kita tetaplah hamba di hadapan Allah ta’ala.

17 Oktober 1803 sore hari; wanita perkasa itu kembali ke hadlirat Penciptanya. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman kerajaan di Imogiri; diantarkan iring-iringan yang panjang. Cucu buyutnya yang ia didik selama di Tegalrejo tertunduk mengiringi; Diponegoro, saat Sang Ratu meninggal usianya baru delapan belas tahun. Di tangan sang cucu buyutlah seluruh rintisan di Tegalrejo mesti dilanjutkan. Dan benar saja, pada sang cucu buyutlah harapan besar panglima prajurit estri kesultanan Yogya ini disematkan. ][