TENTANG SEORANG RATU YANG MEMUTUSKAN UNTUK MENINGGALKAN KERATON NGAYOGYAKARTA PADA 1790

Membincang wanita perkasa nusantara, ternyata kita tidak hanya mengenal satu nama. Ada banyak nama yang dimiliki negeri ini.

Kanjeng ratu winarni/pan tetanen remenipun/sinambi lan ngibadah/kinarya namur puniki/lampahira gen brongta marang Yang Sukma.

1790. Dalam usia enam puluhan tahun, puteri Kiai terkemuka di Kabupaten Sragen, Ki Ageng Drepoyudo itu memilih meninggalkan istana Ngayogyakarta. Keputusannya itu tak bisa dipenggak, tak bisa dihalang-halangi. Wajarlah itu. Wanita yang sekira dilacak silsilahnya masih bersambung ke Sultan Bima pertama, Sultan Kahir I (1621-1647), pendiri kesultanan Islam di Sumbawa itu, jelas memiliki jiwa yang tegas dan berkemauan keras. Sebagai puteri seorang kiai dari keturunan kesultanan Islam di Sumbawa dan juga selaku permaisuri Sultan Hamengkubuwana I, tentulah ia amat teguh dalam memegang prinsip beragama. Dan memang demikiankah beliau. 

Ratu Ageng, demikian beliau selanjutnya sering disebut. Atau, Ratu Ageng Tegalrejo, terutama sejak 1790, setelah beliau memilih menetap di Tegalrejo, sebuah desa di sebelah Tenggara keraton. Di masanya daerah itu dapat ditempuh selama satu jam jalan kaki dari keraton. Kepergiannya dari keraton boleh dibilang sangat mendadak. Beliau putuskan meninggalkan keraton pada awal pemerintahan puteranya, Raden Mas Sundoro, yang kemudian naik tahta dan bergelar Sultan Hamengkubuwana II. Anak laki-laki yang dilahirkannya pada 7 Maret 1750 ketika pasukan suaminya, Pangeran Mangkubumi istirah sejenak di lereng Gunung Sindoro di Kedu, selama beliau membersamai sang suami dalam perang Giyanti (1746-1755) melawan Belanda. Menelisik perjalanannya hingga penggalan Maret 1750 inipun kita dapat menduga bahwa Ratu Ageng adalah wanita kuat dan tegar. Dapatkah kita bayangkan seorang wanita yang hamil serta melahirkan di tengah-tengah peperangan, kecuali ia seorang yang amat tangguh?

Keputusannya untuk meninggalkan keraton pun bukan tanpa alasan. Alasan Ratu Ageng meninggalkan keraton dan memilih tinggal di luar tembok istana dapat terbaca dalam tembang Sinom yang termaktub dalam Babad Diponegoro: Kanjeng Ratu Geng winarni/pan asring selaya neki/lan kang putra pribadi/dadya mutung adhudhukuh/babat kang ara-ara/mapan lajeng den dalemi…[] (Perihal Ratu Ageng/betapa sering beliau berselisih/dengan putranya sendiri/maka ia kecewa lalu pergi/membuka lahan baru/tanah-tanah terlantar digarapnya/lantas menetap tinggal di sana…). Ya, bersebab Ratu Ageng tak bersepaham dengan gaya hidup putranya, Sultan Hamengkubuwana II, yang dinilai mulai berani menyepelekan perintah agama. Sang raja juga diamati sang ibu amat jarang mengunjungi Masjid Agung, tempat ibadah resmi para Sultan Yogya. Kiranya Ratu Ageng amat kecewa dengan kehidupan di keraton yang mulai permisif dengan pengaruh Belanda serta persengkokolan yang meretakkan kekerabatan.

Di Tegalrejo, Sang Ratu memilih bertani. Bekerja mengolah tanah, menyiangi tanaman, dan berpayah-payah saat memanen. Seperti terbaca dalam tembang Sinom di awal tulisan ini, Sang Ratu senang bertani, sambi tetap istiqamah beribadah. Ia tunaikan semuanya tanpa pamrih (kinarya namur puniki). Ketika pada akhirnya Tegalrejo berubah menjadi daerah yang makmur nan sejahtera, mulailah berduyun-duyun orang mendatanginya. Para santri pun banyak pula yang bertandang untuk menuntut ilmu. Tegalrejo menjadi magnet yang menarik untuk dikunjungi. Inilah kisah Sang Ratu yang memilih terus berbuat, meski usianya yang sepuh menuntut beliau beristirahat.

Sang Ratu rupanya tak hanya mahir olah kanuragan; berkuda, memainkan panah, membidik dengan bedil, atau menggunakan patrem, sebagai kemampuan dasar panglima prajurit estri Keraton Ngayogyakarta; beliau — sebagaimana dituturkan Peter Carey dalam “The Power of Prophecy” (2007) — sangat cermat mengelola setiap perniagaan yang dijalaninya, selain tentu kemampuannya dalam bercocok tanam. 

Hidup beliau seakan tak pernah sepi dari aktivitas kebaikan. Sampai pada suatu hari di bulan September 1803, Sang Ratu mesti istirahat cukup lama. Demam yang amat tinggi menyerangnya, setelah sebelumnya beliau tercebur ke dalam salah satu tambak miliknya di Tegalrejo. Dalam masa istirahat itu, Ratu Ageng sayup-sayup mendengar Gunung Merapi di utara mulai meletus sejak 22 September 1803 itu. Dalam kondisi mencekam karena letusan Merapi, Sang Ratu dipindahkan ke kediaman putra mahkota di Yogya. Kondisinya mulai membaik pada awal Oktober 1803 itu. 

Pada sepotong Oktober itu ia sempatkan menasihati putranya, Sultan kedua. Suaranya masih terdengar lemah, tapi nasihatnya amat kuat bertenaga. “Sultan,” demikian beliau memulai perbincangan, “jalan yang kutempuh tidaklah mudah. Sekarang aku merasa bahwa diriku tak lebih dari seorang rakyat biasa.” Sang Ratu menghela nafas sejenak. Ia pandangi sang putra dengan sepenuh cinta. Sorot matanya tajam berwibawa.

“Anakku,” kata Sang Ratu melanjutkan nasihatnya, “camkanlah hal itu dan jangan percaya bahwa meskipun kamu sekarang adalah seorang raja, setelah kamu mati kamu akan lebih tinggi daripada seorang batur (hamba jelata). Maka, hiduplah sesuai dengan itu!” Sang Ratu hingga di bukan Oktober itu tetap berteguh sikap bahwa harapan pada sang putra agar tetap berpegang teguh pada prinsip agama tidak sedikit pun pudar. Janganlah kamu percaya, demikian tutur nasihat beliau, bahwa setelah kematian seorang raja akan tetap menjadi raja. Tidak. Setelah kematian, seorang raja akan menjadi hamba di hadapan Allah, sebagaimana mestinya ia dipahami selama masa hidupnya pula. Sekalipun menjadi raja, kita tetaplah hamba di hadapan Allah ta’ala.

17 Oktober 1803 sore hari; wanita perkasa itu kembali ke hadlirat Penciptanya. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman kerajaan di Imogiri; diantarkan iring-iringan yang panjang. Cucu buyutnya yang ia didik selama di Tegalrejo tertunduk mengiringi; Diponegoro, saat Sang Ratu meninggal usianya baru delapan belas tahun. Di tangan sang cucu buyutlah seluruh rintisan di Tegalrejo mesti dilanjutkan. Dan benar saja, pada sang cucu buyutlah harapan besar panglima prajurit estri kesultanan Yogya ini disematkan. ][

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s