TENTANG DUA ORANG DI SAMPING SANG PANGERAN

Warta lelayu itu terkabarkan pula pada Pangeran Diponegoro. Di hari kedua puluh satu bulan September 1829 itu, panglima senior sang Pangeran, Pangeran Ngabehi, yang juga merupakan paman beliau, beserta dua orang putranya syahid dalam pertempuran sengit di Kelir, perbatasan Mataram-Begelen. Kepala ketiga kerabat Sang Pangeran itu dipenggal lalu dicocok dengan bambu runcing. Tubuh ketiganya dibuang ke jurang. Saya bayangkan duka menyelimuti Sang Pangeran saat mendengar lelayu itu. Tidak saja karena sepeninggal Pangeran Ngabehi beliau semakin terpojok dan sendiri, tapi membayangkan bagaimana ketiga kerabatnya dibantai Belanda dan serdadu Ternate tentu menimbulkan duka yang amat dalam.
Akhir 1829 adalah hari-hari yang berat bagi Pangeran Diponegoro. Kekuatan pasukannya mulai menyusut. Panglima perang dan orang-orang terdekat beliau mulai banyak yang ditangkapi dan bahkan banyak pula yang terbunuh di medan tempur. 24.685 serdadu dan 1.133 kuda dikerahkan de Kock untuk mempersempit ruang gerak Sang Pangeran dengan menggiring agar pasukan Diponegoro bertahan di antara Progo dan Bogowonto. Sebuah strategi yang diadaptasi de Kock dari Jenderal Lazzarre Hoche di Vendee (1793) dan Mayor Jenderal Malcolm.
Masih teringat ketika tersiar warta bahwa Kiai Mojo, sosok yang amat diseganinya tertangkap di hari kesebelas bulan November 1828 dini hari di tepi barat Sungai Bedog. Tapi semangat Sang Pangeran tetap tak pernah pupus. Tapi kematian Pangeran Ngabehi dan dua orang putranya di pegunungan Kelir secara mengenaskan tergambar dalam babad yang ditulisnya jelas menimbulkan duka. Air matanya mengambang berkaca-kaca dan Sang Pangeran merasa sendiri di Tanah Jawa. Amat manusiawi tentunya. Duka lain menyusul sebulan berikutnya.
Sentot Prawirodirjo menyerah pada Belanda pada16 Oktober 1829. Di akhir bulan itu, ibunda Sang Pangeran, Raden Ayu Mangkorowati tertangkap di daerah Pengasih. Demikian pula dengan puteri beliau, Raden Ayu Gusti. Di tengah duka dan rasa kesendirian itu, untung saja ada Bantengwareng (sekitar 1805-1858) dan Joyosuroto atau biasa dipanggil Roto, dua orang punakawan Sang Pangeran, yang senantiasa menemani dengan setia. Bantengwareng teraran sebagai bocah ndhugal, bandel, lagi katik tubuhnya. Makamnya di Makassar, di area pemakaman keluarga Diponegoro tampak layaknya makam anak kecil; sebuah bukti bahwa ia memang seorang katik (cebol).
11 November 1829. Hari itu tepat empat puluh empat tahun usia beliau. Tanggal dan bulan yang tak hanya mengingatkan Sang Pangeran pada hari kelahirannya, tapi juga saat penasihatnya, Kiai Mojo, tertangkap setahun sebelumnya. Sang Pangeran beserta dua punakawan muda yang mengiringinya berjalan ke arah barat. Mereka terlihat berjalan kaki dengan amat payah dan lelah. Dua ekor kuda dituntun sang punakawan. Sebuah peti berisi pakaian dinaikkan di atas salah satu kuda. Sesekali Roto berseloroh menghibur. Roto memang suka melucu, selain ia amat lihai berkisah. Kelak kemampuan Roto dalam menghibur itu amat membantu Sang Pangeran menempuhi perjalanan dari Batavia hingga Makassar yang mungkin amat membosankan.
Setiba di pegunungan Gowong, sebelah barat Kedu, ketiganya baru menyadari sebuah bahaya mengancam. Sepasukan gerak cepat kesebelas Belanda mengejarnya. Agaknya pasukan itu dikomandani oleh Mayor A.V. Michiels (1797-1849). Ketiganya gegas bergerak. Tapi ketiganya terhenti. Di depannya tak ada lagi jalan untuk meloloskan diri, hanya sebuah jurang curam nan terjal. Sementara di belakang, pasukan Belanda bergerak merapat dengan rasa menang, mereka amat yakin buronan yang telah menguras kas Belanda hingga 20 juta gulden itu bakal tertangkap. Ya, akibat Perang Jawa (1825-1830) Belanda nyaris bangkrut. Kelak seluruh kemalangan ekonomi akibat Perang Jawa itu dipulihkan melalui proyek jumawa berupa Sistem Tanam Paksa yang digagas Johannes van den Bosch (1830-1870).

 

Serasa Musa di depan Laut Merah, tak ada jalan untuk keluar, kecuali semata atas pertolongan Allah; sebuah keyakinan yang terpatri kuat dalam diri Sang Pangeran, dan diikuti oleh Bantengwareng dan Roto; dua punakawan Pangeran Diponegoro yang bersetia membersamai. Dua ekor kuda, tombak pusaka Kiai Rondhan, dan peti berisi pakaian selama perang terpaksa ditinggalkan. Ketiganya melompat ke dalam jurang lalu bersembunyi di rerimbun gelagah yang tinggi. Dalam kondisi terbarut dan terluka, ketiganya menyusuri hutan-hutan di Begelen, Banyumas, hingga Kedu selatan (November 1829-Januari 1830). Terseok-seok tanpa bekal. Menghadapi sergapan Belanda yang terus mengancam sekaligus juga ganasnya hutan. Tak heran jika selama berkelana itu, Pangeran terserang Malaria Tropika. Dalam masa-masa itu, Bantengwareng dan Roto tulus membersamai dan melayani.
Merekalah yang meracik reramuan tradisional untuk mengobati Sang Pangeran. Seluruh derita perjuangan itu memang telah menjadi kemestian hidup Pangeran dan juga para punakawan yang mengiringi. Tak ada yang layak disesalkan, sebab keridlaan Allah semata yang menjadi pengharapan. “Telah menjadi kemestian dari Allah, bahwa aku mesti memanggul derita ini (bayankarsaning Wyang/ingsun kinon anglakoni/),” demikian tulis beliau dalam Babad-nya.
Februari 1830 Sang Pangeran mulai menuju Menoreh. Bantengwareng dan Roto terus menemani. Mereka berdua selalu ada di samping Sang Pangeran, baik di saat sendiri maupun ketika pada awal bulan kedua di tahun terakhir Perang Jawa itu, ia bergerak ke arah terbitnya matahari; tidak kurang dari 200-an orang mengikuti. Ternyata rakyat masih amat mencintai dan mendukung pemimpin Perang Jawa itu. Pada hari ke-21 pada bulan yang sama, Sang Pangeran tiba di Menoreh. Yang semula hanya dibersamai dua orang punakawan setianya, Bantengwareng dan Roto, hari itu tidak kurang 700 orang telah berkumpul di Menoreh. Saya bayangkan suasana haru di antara rimbun pepohonan Menoreh. Kedu selatan, Begelen, hingga Menoreh adalah sehimpun kisah tentang orang-orang yang setia pada perjuangan Diponegoro.
Pada Ahad, 28 Maret 1830 saat Pangeran Diponegoro datang di Wisma Residen di Magelang, Roto dan Bantengwareng terus mengikuti. Bahkan, ketika pada 3 Mei ia bersama 19 pengikutnya diberangkatkan ke Manado dengan kapal, dua punakawan setia itu tetap membersamai. Di kapal, keduanyalah yang sesekali menghibur Sang Pangeran dengan guyonan-guyonan segar dan renyah. Roto misalnya menyebut kentang yang disuguhkan pada Sang Pangeran dengan, “kentang walandi” atau “kentang sabrang”, sebuah gojekan yang membuat hari-hari Sang Pangeran lebih terhibur selama satu setengah bulan pelayarannya ke Manado.


Mengikuti kisah Diponegoro, serasa kita tidak bisa menanggalkan Bantengwareng dan Roto. Kedudukannya barangkali tak bisa disandingkan dengan kisah Harun yang membersamai Musa atau atau Abu Bakr bersama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tapi ketiganya bagai bertemu pada sehimpun kisah tentang kesetiaan dan keteguhan sikap dalam perjuangan. Darinya kita pun belajar, sekuat apapun seorang pejuang ia masih membutuhkan seorang sahabat, yang membersamainya dalam perjuangan, sekecil dan selemah apapun sahabat itu dalam pandangan sesama. Maka, Musa ‘alaihissalam pun memohon pada Allah ta’ala, “Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, ialah Harun, saudaraku” (Q.s. Thaaha [20]: 29-30).
Tapi kita pun juga dapat belajar, betapa mulia mereka yang mengikuti para salih, sekecil dan sesederhana apapun yang bisa diperbuat. Dalam kesertaan bersama para salih dan pejuang itu mungkin seseorang akan dilupakan dan dianggap liliput, tapi sungguh sekira ia tertunai dengan ikhlas, Allah akan selalu mengingat dan memuliakannya. Bahkan, seekor anjing yang membersamai ashabul kahfi, yang sekedar menjulurkan kakinya di tubir mulut goa sekalipun, terabadikan kisahnya di dalam Al-Quran (Q.s. Al-Kahfi [18]: 18). Tak ada orang kecil dalam setiap perjuangan selagi ia ikhlas dan mengharap keridlaan Allah. Si Katik Bantengwareng ternyata amat tinggi dan mulia; sementara Roto nan jenaka, ternyata amat seriusnya meraih jalan ke surga. []
_____________

KETERANGAN GAMBAR: Lukisan Raden Syarif Bustaman, 1857. Penangkapan pemimpin Jawa, Diponegoro. Tampak Joyosuroto (Roto/terlingkari), pengiring pribadi Pangeran Diponegoro, berada di belakang istri Sang Pangeran, Raden Ayu Retnoningsih.

 

Iklan

One response to “TENTANG DUA ORANG DI SAMPING SANG PANGERAN

  1. membaca kisah Diponegoro di atas membuat diri ini terasa belum berbuat apa-apa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s