Category Archives: Lentera Inspirasi

Malu Saya pada Mereka

Rajab tahun kesembilan hijriah. Orang-orang lebih suka berteduh di rumah atau di bawah rimbun pepohonan saking teriknya. Madinah sedang mengalami musim panas. Sebentar lagi musim gugur tiba. Rasulullah saw memobilisasi kaum Muslimin untuk melawan Romawi. Semua orang yang diliputi keimanan terpanggil. Kaya dan miskin semua terlibat dan berkontribusi sesuai kemampuannya.

Bagi para sahabat yang kaya, seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Abbas bin Abdul Muthalib, Thalhah, Ashim bin Adi, dan yang lainnya berinfak tak tanggung-tanggung. Tentu bukan karena janji bahwa ia akan dikembalikan berlipat-lipat, semata keridlaan Allah sajalah yang terharapkan. Utsman bin Affan menyumbang 900 ekor unta dan 100 ekor kuda bersama bahan makanan dan bekalnya. Untuk itu ia habiskan 1000 dinar. Abdurrahman bin Auf menginfakkan 2000 dirham. Umar menginfakkan 100 uqiyah.

Para perempuan Madinah pun tidak ketinggalan. Mereka infakkan perhiasan-perhiasan mereka yang paling berharga. Bahkan, mereka yang tak berpunya pun turut berkontribusi dalam menghadapi perang Tabuk atau dikenal juga dengan sebutan jaisul usrah (perang di masa-masa sulit). Misalnya, Abu Uqail. Ia datang membawa setengah sha’ kurma.

Melihat para sahabat berkorban, orang-orang munafik lalu mencela dan mencemooh mereka. “Halah, sesungguhnya Allah tidak butuh sedekah seperti ini.”

Ketika Abu Khaitsamah al-Anshari datang sambil membawa satu sha’ kurma, maka orang-orang yang tersimpan dengki dalam hatinya mengolok-oloknya. Demikian pula ketika Ibnu Auf datang sambil berkata, “Sungguh aku memiliki dua sha’ kurma. Satu sha’ kupersembahkan untuk Rabbku. Satu sha’ lagi untuk keluargaku.” Kontan mereka yang luka hati langsung berkomentar, “Tidaklah Ibnu Auf memberikan itu kecuali hanya riya’.”

Maka, saat itulah Allah turunkan ayat, “Orang munafik, yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan (yang) mencela orang-orang yang hanya memperoleh (sesuatu yang akan disedekahkan) sekedar kesanggupannya.” (Qs. At-Taubah: 79).

Betapa malu diri ini yang masih gampang curiga pada mereka yang berbuat kebaikan. Betapa sibuk diri ini mencela mereka yang berkorban untuk sesama, sementara kita lalai untuk berbuat yang lebih baik darinya. Ketika bencana alam: banjir atau gunung meletus, atas izin Allah melanda tanah air menjelang pesta demokrasi 2014, betapa saya gampang sekali mencurigai mereka yang berkebajikan, hanya karena mereka memasang atribut dan identitas organisasi.

Saya sering berpikir, “Kenapa kalau ikhlas berbuat, harus pakai seragam organisasi? Kenapa harus kibarkan bendera ormas? Kenapa harus kenakan baju partai? Ikhlas ya ikhlas. Tidak perlu pakai atribut dan embel-embel.” Saya terus curiga dan lupa berkorban yang sama. Sementara mereka juga terus berbuat sebisa yang mereka upayakan. Lama-kelamaan saya merasa malu. Betapa naif saya menelisik keikhlasan orang lain hanya karena atribut yang dikenakan.

Bukankah ikhlas atau tidak, pasti Allah Mahamengetahui. Yang ikhlas akan berbalas. Sekira tidak ikhlas, paling tidak, korban bencana alam telah terbantu. Lagi pula, ikhlas atau tidak ikhlas -menurut saya- adalah perkara orientasi, bukan masalah atribut dan asesoris. Sekira ia diniatkan semata karena mencari keridlaan Allah, seberat apapun ia menunaikannya, maka itulah ikhlas. Maka ketulusan itu akan dirasakan oleh mereka yang terbantu. Mereka lebih mengetahui kiprah dan pengorbanan para relawan itu dibandingkan saya, misalnya, yang hanya mengetahui dari liputan media.

Maka pagi ini, saat mengingati pengorbanan para sahabat menjelang Perang Tabuk dan sikap para pendengki yang mencaci mereka, tiba-tiba saya merasa sangat malu. Saya merasa sok tahu mengenai isi hati orang. Bukankah pada mereka yang berkorban untuk sesama, apapun atribut dan bendera yang mereka kenakan, kita patut berikan apresiasi. Sementara itu, masalah seragam dan bendera, anggap saja itu sekedar identitas untuk dikenali. Persis seperti relawan kemanusiaan kita yang dikirim ke luar negeri atau tim-tim relawan dari TNI, PMI, atau yang lainnya. Mereka kibarkan bendera dan kenakan seragam sebagai identitas. Adapun bagi partai yang bergerak karena hendak dapat simpati publik jelang 2014, masyarakat pun insya Allah dapat menilai mereka. Partai atau ormas yang bergerak karena panggilan jiwa pasti yang akan memiliki daya tahan dalam berjuang. Ia akan berkiprah tak sebatas jelang pemilu. Mereka juga tak bergerak sekedar pencitraan. Yang bergerak sebab ingin peroleh citra, insya Allah, tak mampu bertahan mendampingi masyarakat 24 jam dalam seharinya. Nah, serahkan saja pada masyarakat untuk menilai sendiri.

Sungguh, tugas kita hanya melakukan perbaikan, selagi masih berkesanggupan. Demikian yang Al-Qur’an sampaikan dalam surah Hud ayat 88. Mereka yang bekerja dengan sepenuh pengabdian, tak akan hina hanya sebab cacian. Mereka yang bekerja sebatas kepentingan, tak akan mulia oleh sanjung dan pujian. Jadi rasanya kalau saya teres menerus memasang rasa curiga, bukan mereka yang dirugikan, saya sendiri yang amat naif dan merugi.

Pada mereka yang telah mengabdi dan selama ini selalu saya curigai, maafkanlah saya. Siapa tahu di hadapan Allah, Anda semua jauh lebih mulia daripada saya, yang masih gemar mencela-sedikit pula berkarya. []

Iklan

Pakaian

Pada banyak hal, sudut pandang materi selalu berpeluang mengecoh. Ia seringkali mengaburkan pandangan kita sehingga sering keliru pula menempatkan orang. Orang-orang dengan sudut pandang materi selalu mengukur orang lain dengan atribut-atribut materi yang dikenakannya.

Jika seseorang itu menampilkan dandanan glamour, ia mudah sekali mentakjubinya. Tapi, jika seseorang berpenampilan sederhana, ia gampang mencelanya. Orang-orang seperti ini susah menemukan kemuliaan seseorang kecuali sebatas barang-barang aksesoris yang dikenakan orang lain. Di tengah kehidupan yang menempatkan tolok ukur materi di atas segalanya, kebiasaan seperti ini gampang dijumpai. Maka, orang pun menjadi risih ketika tampil biasa-biasa saja.

Untuk perkara kesederhanaan ini saya teringat kisah Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khathab. Dari namanya kita mengenali beliau sebagai cucu Umar bin Khathab. Sebagaimana juga kakeknya, Salim tampil sederhana. Suatu hari ia berkunjung ke hadapan amirul mukminin, Sulaiman bin Abdul Malik. Salim, yang mulia karena akhlak dan ilmunya itu datang dengan pakaian sangat sederhana; usang dan terlihat kasar. Tapi oleh amirul mukminin beliau dipersilahkan duduk di singgasana, dengan ramah dan hangat.

Di majelis itu, datang pula murid Salim bin Abdullah, Umar bin Abdul Aziz. Tiba-tiba dari arah belakang, seorang laki-laki berbisik kepada Umar bin Abdul Aziz, “Apakah pamanmu tidak bisa memakai pakaian yang lebih bagus untuk menghadap Amirul Mukminin?” Demikian bisik lelaki dengan pakaian bagus dan mahal itu.

Sang laki-laki yang berbisik itu, mungkin adalah potret wajah kita yang teramat gampang menilai seseorang dari tampilan luar. Tidak sekedar itu, boleh jadi ia juga lukisan wajah kita yang menganggap bahwa kemuliaan diri itu ada pada segala bentuk polesan. Maka tak heran jika ada banyak di antara kita yang memaksa tampil ‘wah’ hanya karena cara pandang ini. Kita akan merasa lebih nyaman jika bisa memasang stiker kampus luar negeri, stiker merek gadget keren, atau juga tempat-tempat wisata yang terkunjungi di kendaraan kita. Kadang di sebagian orang ia terpasang begitu saja, tapi bagi sebagian yang lain mungkin tak sekedar itu; ia adalah status dan bukan sekedar stiker.

Maka, jawaban Umar bin Abdul Aziz pada lelaki pembisik itu patut untuk direnungi. “Aku tidak melihat,” kata Umar, “baju yang dipakai pamanku mendudukannya di tempatmu, dan aku juga tidak melihat baju yang kau kenakan bisa mendudukanmu di tempat pamanku itu.” Jleb! Laki-laki itu terdiam dan kembali ke tempat duduknya. Jawaban Umar bin Abdul Aziz itu terasa menohok, tidak saja bagi sang lelaki dalam kisah tersebut, tapi juga bagi saya yang masih mudah silau oleh gemerlap atribut dan penampilan. []

Ramadhan Kita

Inilah hadits populer yang sering dibacakan para penceramah di setiap Ramadhan. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:

ـ اذا جاء رمضان فتحت ابواب الجنة وغلقت ابواب النار وصفدت الشياط

“Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu.” (H.r. Bukhari dan Muslim).

Dr. Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan dalam “Fii Rihaabu As-Sunnah” bahwa inilah bulan yang diperbanyak sebab-sebab dan pintu-pintu mendulang kebaikan, dikurangi sebab-sebab serta pintu-pintu terjadinya kejahatan dan keburukan. Dari penjelasan Syaikh Qaradhawi kita memahami bahwa Ramadhan merupakan bulan ketika peluang untuk taat kepada Allah begitu luas dan dimudahkan. Peluang berbuat jahat tertutup rapat. Para penggoda pun terbelenggu tak berkutik. Hanya saja ada yang perlu diingat. Peluang-peluang tersebut hanya dapat diraih dengan iman dan ‘ihtisab’. Mereka yang bermalas-malas tidak akan mengenyam manisnya ketaatan kepada Allah ta’ala.

ـ من قام رمضان إيمانا واحتساباً غفرله ماتقدم من ذنبه

“Siapa yang melakukan qiyam (shalat) di bulan Ramadhan atas dasar iman dan ihtisab maka diampuni untuknya dosa-dosanya yang telah lalu.”

Suasana berkebajikan itu begitu kuat. Sementara dorongan berbuat jahat melemah. Setan-setan yang menggoda pun dibelenggu tak berdaya. Tapi apakah itu cukup untuk menjadikan amal kita menguat di Ramadhan ini? Wallahu a’lam. Faktanya, di Ramadhan, ada yang bersemangat, ada pula yang bermalas-malasan. Faktor-faktor ekternal memang diciptakan kondusif untuk berketaatan, tapi jika diri ini tidak memiliki orientasi dan dorongan kuat untuk beramal maka kita hanya menapaki Ramadhan dengan biasa-biasa saja.

Malu rasanya diri ini, Allah telah mudahkan kita untuk taat, tapi begitu menelisik diri, ternyata semangat untuk menghiasi Ramadhan dengan ketaatan tak cukup membara. Ada teman yang telah tilawah sebanyak sepuluh juz dalam waktu sehari-dua hari. Sementara diri ini, lebih banyak membolak-balik halaman mushaf sambil menghitungnya daripada khusyu’ membacanya. Taraweh tertunaikan dengan kemalasan. Makan-minum tetap saja berlebihan. Biaya konsumsi membengkak, dana infaq tak juga beranjak. Subuh berjamaah terasa malas, tidur setelahnya begitu pulas. Menggunjing teramat sering.

Hari-hari Ramadhan ini, kita selalu menelisik. Adakah iman dan ‘ihtisab’ dalam diri kita?

Bersyukur yang Tak Sekedar Janji

Tak ada yang salah dari firman Allah ta’ala. Sama sekali. Sungguh buruk iman kita manakala berani menyangkal sedikitpun kebenaran firman Allah. Na’udzubillahi min dzalik. Ketika Allah membeberkan tabiat kita yang gemar berjanji untuk bersyukur saat terpuruk, lalu lalai ketika kesuksesan dianugerahkan Allah pada kita, rasa-rasanya begitulah yang (masih) sering terjadi dalam diri kita.

Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata), “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bencana ini, maka kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur” (Qs. Yunus [10]: 22). Begitu pula yang dijelaskan Allah dalam Qs. Al-An’am [6]:63. Sungguh kita masih harus terus berusaha memperbaharui kualitas iman kita.

Kesuksesan seringkali melenakan. Inikah iman kita: yang baru teringat Allah dan segala kenikmatan yang dianugerahkan-Nya pada kita saat kesempitan menerpa. Ketika sakit kita berjanji akan taat dan bersyukur begitu sembuh, tapi janji itu akhirnya hanya sebatas janji. Ketika dilanda kebangkrutan bisnis, banyak di antara kita menghiba-hiba di hadapan Allah untuk tekun beribadah dan mensyukuri setiap nikmat yang diberikan, tapi begitu keuntungan bisnis diperoleh, rupa-rupanya cinta duniawi lebih menjadi prioritas. Banyak di antara kita berharap dapat kerja begitu lulus kuliah dg janji untuk selalu mensyukuri nikmat Allah, tapi begitu kerja diperoleh, banyak di antaranya dibelenggu oleh pekerjaan dan dorongan materi.

Semoga bukan wajah di atas, gambaran diri kita. Tak usah menunggu sukses besar untuk bersyukur. Tak usah menanti keluar penuh dari masalah untuk ikhlas bersyukur. Pada saat apapun, kita dapat bersyukur. Pasalnya, di tengah himpitan musibah sekalipun, karunia dan nikmat Allah masih teramat besar. Dalam kemiskinan sekalipun, nikmat Allah tak terkira bagi kita. Kemiskinan tidak menjadi masalah ketika nikmat iman Allah hunjamkan kuat di dalam dada. Mengenali dan menyeksamai bahwa di tengah musibah masih banyak nikmat Allah yang harus disyukuri akan membukakan banyak jalan kebaikan.

Dalam deraan fitnah demi fitnah sekalipun, karunia Allah masih sangat berlimpah. Mungkin ada sekian masalah yang menyesakkan dada, tapi kita mensyukuri bahwa dalam kondisi seperti itu kita semakin dekat dengan Allah. Ada banyak sumber daya yang boleh jadi terasa lunglai tak berdaya, tapi kita masih bersyukur, ada kebersamaan yang makin kuat terasa. Ada banyak himpitan, tapi syukur senantiasa terpanjatkan.

Dari sini kita menginsyafi bahwa jika segala hal yang tak berkesesuaian dengan kehendak kita dianggap masalah dan musibah, barangkali kita akan menganggap bahwa hidup di dunia penuh derita. Keimanan kita menuntunkan bahwa cukuplah dianggap masalah dan musibah ketika dalam situasi apapun kita malah menjauhi ketaatan kepada-Nya. Maka, mengenali hal-hal menakjubkan di antara penatnya musibah akan menjadikan kita penuh dengan harapan. Harapan akan mewariskan keceriaan. Dan keceriaan dalam panduan iman, insya Allah, akan membukakan pandangan kita terhadap jalan kebaikan yang awalnya tampak samar menjadi lebih terang.

Kita pun menyadari, di antara banyak hal yang hilang setelah awalnya dimiliki, kita belajar mensyukuri terhadap apa pun yang tersisa dan benar-benar kita miliki. Dan cukuplah bagi kita jika yang tersisa ialah iman dan semangat perjuangan. Dengan dua hal itu, insya Allah, kita tak terlalu sesak dada.

Hari ini marilah kita renungkan sedalam-dalamnya. Nikmat Allah tetap tak ternilai, meski kita dalam himpitan masalah. Lalu, apa yang menghalangi kita untuk bersyukur. Marilah kita bersyukur setiap saat. []

Disebabkan Orang-orang Lemah

Sa’ad bin Malik: suatu saat ia merasa lebih berdaya dibanding yang lainnya. Entah apa yang menyebabkan ia berpikiran demikian. Kita hanya mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya. Bukhari meriwayatkan peristiwa itu untuk menjadi perenungan buat kita.

Dari Mus’ab bin Sa’ad ia berkata: Suatu saat Sa’ad bin Malik merasa memiliki kelebihan dari orang yang lebih rendah darinya. Maka, Nabi saw bersabda, “Bukankah kalian ditolong dan diberi rezki oleh Allah karena orang-orang dhu’afa di antara kalian?” (HR. Bukhari)

Adakah diri kita seperti Sa’ad bin Malik? Merasa telah sangat sukses dan jaya dibandingkan dengan orang lain. Merasa memiliki banyak koneksi untuk mewujudkan keinginan-keinginan. Merasa memiliki banyak kekuatan untuk mempengaruhi orang lain. Merasa berlimpah fasilitas daripada yang dimiliki orang lain, sehingga menganggap teramat layak bermegah-megah. Sungguh, seluruh kelimpahan itu merupakan pemberian Allah. Dan, yang tak boleh dilupa, bisa jadi Allah berikan semua kelebihan itu karena peranan orang-orang miskin dan dhu’afa di sekitar kita.

Pada Sa’ad bin Malik, Rasulullah mengingatkan perkara kepekaan. “Hal tunshoruuna wa turziquuna illa dhu’afaaikum.” Kita perlu selalu mengingat masa-masa ketika masih menderita. Masa ketika masih bersama berjuang. Ada banyak pertolongan orang lain kepada kita. Ada banyak bantuan orang lain yang diberikan kepada kita. Ingatlah untuk mengasah kepekaan. Kenanglah untuk menghapus kejumawaan.

Adakalanya yang kita peroleh saat ini merupakan peranan banyak orang-orang dhu’afa yang (mungkin) sekarang masih dalam kondisi dhu’afa. Mungkin ada di antara mereka telah mengorbankan harta (yang tak pernah kita ketahui, tentu dengan tulus ikhlas) untuk menjadikan kita anggota legislatif, gubernur, bupati, atau lurah. Ada di antara mereka yang membantu kita saat mencari dan merintis kerja. Ada di antara mereka yang menolong kita saat awal-awal akan kuliah dan sekolah. Ketika keinginan itu tercapai, dan kita mulai merasakan pertolongan dan rizki berlimpah dari Allah, ingatlah bahwa ada di antara orang-orang yang dulu bekerja luar biasa membantu kita tetap miskin dan hidup pas-pasan.

Ketika kita tak lagi kepanasan dan kehujanan karena mobil selalu mengantarkan, ingatlah bahwa masih ada orang-orang yang dulu memperjuangkan kita masih tetap kepanasan dan kehujanan. Ketika kita tak lagi dililit hutang, mungkin orang-orang yang dulu membantu kita belum selesai melunasi hutang-hutangnya. Ketika kita telah berhasil membangun rumah, ingatlah bahwa masih ada orang-orang yang dulu menampung kita, setiap tahunnya masih disibukkan untuk pindah kontrakan yang murah.

Tak ada yang pantas disombongkan dari setiap keberhasilan kita. Tak masalah seseorang memiliki banyak fasilitas selama ia diperoleh dari cara-cara yang benar, tidak melalaikan dari Allah, memudahkan kerja, dan tak menghalangi kita dari banyak orang. Dalam kondisi ketika fasilitas dan kesuksesan telah diraih, saat itulah kepekaan kita akan teruji. Boleh jadi, disebabkan orang-orang lemahlah Allah menolong dan melimpahkan rizkinya kepada kita. Wallahu ta’ala a’lam. []

Bergaul dengan Kebesaran Jiwa

Mari kita bayangkan betapa propaganda yang menyudutkan Rasulullah begitu massif dan tersebar luas. Tuduhan demi tuduhan nyaris tiada henti saban hari. Tak ada secuil pun sudut-sudut kota yang tak tersentuh oleh tuduhan bahwa Muhammad itu edan, gendheng, gila, dan tukang sihir. Saking gencarnya propaganda penyudutan itu dilakukan, Al-Qur’an mengisahkan ulang tuduhan-tuduhan itu. “Hai orang yang diturunkan Al-Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang gila.” (Q.s. Al-Hijr: 6-7). Di ayat yang lain Allah kisahkan tuduhan kepada Sang Rasul, “Dia adalah seorang yang menerima ajaran lagi pula seorang yang gila,” (Q.s. Ad-Dukhan:13-14). Lelaki yang diakui jamak orang akan keluhuran akhlaknya, kesantunan tutur katanya, kesopanan sikapnya, dan ketulusan cintanya itu dianggap tidak waras.

Bukan hanya satu tuduhan, tapi banyak tuduhan yang disebarluaskan. Muhammad dengan seluruh nama baik dan pesona kepribadiannya dihancurkan. Mereka ingin kepercayaan publik kepada Sang Rasul yang mulia lagi jujur itu koyak-koyak. “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya,” (Q.s. Ath-Thur:30). Para penentang itu pun tidak kikuk melempar tuduhan, “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta,” (Q.s. Shad:4). Dan mereka tidak berdiam diri, mesin-mesin propaganda mereka bekerja massif; mempengaruhi banyak orang dan merasukkan tiap tuduhan tentang Rasulullah pada setiap orang. Mari kita bayangkan negeri tempat Rasulullah menyemai dakwah itu hampir tak tersisa dari propaganda untuk menyudutkan beliau. Bahkan mereka yang simpati dan peroleh hidayah pun hendak dibengkokkan kembali. Keraguan ditanamkan, benih kebimbangan ditaburkan. “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir,” (Q.s. Al-Isra’:47-48).

Setiap tuduhan yang ditelunjukkan ke arah para dai, di sepanjang masa, sama saja. Barangkali hanya bentuk redaksionalnya saja yang berbeda. Tak akan sepi dakwah ini dari bermacam propaganda. Tak akan sunyi dakwah ini dari segala tuduhan yang menghina-hina. Jangankan kita yang jelas masih banyak cela, Rasulullah yang begitu jelita akhlaknya pun dianggap pendusta. Mari kita bayangkan betapa tuduhan-tuduhan itu, secara manusiawi, melahirkan duka. “Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu,….” (Q.s. Al-An’am:33). Ada duka, tapi bukan itu yang dipelihara. Allah menghendaki Rasulullah dan para sahabat berbesar jiwa. Boleh jadi propaganda yang dilancarkan para penentang banyak mempengaruhi orang, tapi dakwah sepenuh cinta mesti tetap ditunaikan. “Maka, tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenun dan bukan pula seorang gila.” (Q.s. Ath-Thuur:30).

Bukan sikap kerdil yang membelenggu persepsi yang layak dipelihara dai acapkali bertemu dengan tuduhan-tuduhan. Seringkali ‘merasa’ bahwa semua jari telunjuk sedang diarahkan ke wajah kita menghambat diri untuk bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat. Padahal, kadangkala tidak seluruhnya demikian. Berinteraksi seringkali menjadi celah bagi tersambungkannya hidayah. Inilah yang dapat kita pelajari setiap kali membayangkan betapa massifnya tuduhan yang dilancarkan mesin propaganda Walid bin Mughirah terhadap Rasulullah dan barisan dakwah, serta bagaimana para sahabat memperoleh hidayah dan menerima kebenaran. Kita menemukan dua frasa kunci: kuasa Allah dan interaksi sosial yang tertunaikan. Alih-alih menarik diri dari peraulan, Rasulullah dan para sahabat terus memperluas pergaulan.

Dhimad Al-Azidi, lelelaki yang terpengaruh propaganda orang-orang musyrik Quraisy bahwa Rasulullah gila itu datang ke Makkah. Ia dikenal sebagai orang yang biasa menyembuhkan orang gila. Kedatangannya hendak mengobati Muhammad. “Jika aku bertemu lelaki itu,” katanya tentang Rasulullah, “semoga dapat kusembuhkan lewat tanganku.” Maka tatkala ia bertemu Rasulullah keinginannya itu un ia samaikan.

“Wahai Muhammad,” demikian lelaki dari Azdi Syanwah itu memulai pembicaraan, “sesungguhnya aku dapat menyembuhkan dari angin (pembawa penyakit gila) ini. Dan sesungguhnya Allah menyembuhkan dari tanganku orang-orang yang dikehendaki-Nya. Bagaimana dengan engkau?”

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memuji dan memohon pertolongan-Nya. Siapa yang diberi petunjuk, tak ada seorang pun dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkannya, tidak seorang pun dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah. Dia Mahaesa tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,” demikian jawab Rasulullah.

Rupa-rupanya Dhimad Al-Azdi tertarik. “Ulangilah untukku kata-katamu itu, Muhammad.” Rasulullah pun mengulangi hingga tiga kali. “Aku telah mendengar perkataan tukang ramal, ahli sihir, para penyair.” Kata Dhimad menjelaskan ketertarikannya, “Tapi aku tidak pernah mendengar perkataan seperti yang engkau katakan. Kata-katamu telah mencapai puncak tinggi.”

“Ulurkan tanganmu,” katanya, “Aku berbaiat kepadamu untuk masuk Islam.” Maka Rasulullah pun membaiatnya. “Dan juga untuk kaummu,” sabda Rasulullah. Dhimad pun mengiyakan. “Juga untuk kaumku,” katanya.

Kita akan menemukan kisah-kisah serupa dari para sahabat Rasulullah. Ada banyak orang yang semula waspada terhadap dakwah, dan bahkan antipati, bersebab interaksi -alhamdulillah- tersentuhlah hati. Ada pula yang ragu, bermula dari obrolan, ia pun terteguhkan. Di tengah derasnya propaganda, selalu ada celah bagi terbukanya hidayah. Dan itu menunjukkan bahwa Allah teramat berkuasa. Tak akan mengerdil mereka yang dibesarkan Allah; tak akan juga membesar, siapa yang dikerdilkan Allah ta’ala. Sekali lagi, boleh jadi propaganda untuk melemahkan dakwah teramat luas jangkauannya, tapi itu sama sekali tak menyurutkan semangat kita untuk berdakwah sepenuh cinta.

Hari ini kita merenungi kembali sabda Rasulullah saw. “Orang mukmin yang berbaur dengan masyarakat dan bersabar dari perbuatan buruk mereka, itu lebih baik daripada orang mukmin yang tidak berbaur dengan masyarakat dan tidak bersabar dari perbuatan mereka.” (H.r. Ibnu Majah). Bergaul dengan kebesaran jiwa, sebab harapan selalu bersemi dalam keyakinan: Allah teramat kuasa membolak-balikkan hati manusia. []

Doa Kita untuk Mereka

“Sejak dulu kami menyepakati,” demikian tulis Imam Ahmad ibn Hambal, “jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”

Tidak menghina orang baik itu perkara yang wajar adanya. Akan tetapi, tidak menghina mereka yang (sedang) tergelincir dosa butuh kesungguhan juga. Ini bukan pekerjaan sederhana. Betapa sering kita memperolok orang lain yang sedang terpeleset dan berperkara. Mengejek mereka sambil memicingkan sebelah mata. Alih-alih menginstrospeksi diri, kita malah menyibukkan diri untuk menjadikan mereka yang tergelincir dalam kekhilafan sebagai bahan gunjingan. Maka, sekali lagi, betapa sering kita dengan sikap jumawa mempertanyakan, “Kok bisa dia berbuat sekerdil itu?” Seakan kita merasa sangat yakin bahwa kita akan mampu melampaui ujian serupa. Sungguh, hanya kepada Allah kita memohon pada Allah agar mengistiqamahkan hati kita dalam ketaatan kepada-Nya.

Ketika seseorang menghina saudaranya yang tergelincir kesalahan, pada saat bersamaan ia sedang menggelincirkan diri pada kesalahan yang bersebab kesombongan. Jumawa bahwa dirinya lebih baik. Sungguh perkataan Sufyan bin Uyainah patut kita renungkan. “Siapa yang kemaksiatannya terletak pada syahwat, maka taubat bisa diharapkan darinya. Sebab Adam a.s. bermaksiat karena keinginan syahwat, ia bertaubat lalu diampuni. Sementara jika kemaksiatannya terletak pada kibr (kesombongan), maka aku khawatir is sebagai orang yang dilaknat. Iblis bermaksiat karena kesombongan karenanya ia dilaknat.” Begitulah yang terjadi, ketika seseorang menghina saudaranya yang tertimpa kesalahan, ia sendiri tidak menyadari bahwa penghinaan yang dilakukannya adalah kesalahan yang lebih parah. Apa yang diperoleh dari menghina? Pahala dari Allah berupa jaminan surgakah? Atau bertumpuknya keburukan dan kehinaan diri? Alangkah indah manakala kita bersibuk menelisik diri daripada menguliti saudara sendiri.

Suatu hari Sufyan bin Al-Hashin duduk berbincang dengan Iyas bin Mu’awiyah. Ketika melintas seorang anak muda, Sufyan menuturkan keburukan anak muda itu. Iyas bin Mu’awiyah lalu mencergahnya dan mengatakan, “Diamlah wahai Sufyan, apakah engkau pernah terlibat dalam pertempuran melawan Romawi?” Sufyan menjawab tidak pernah. Kembali Iyas bin Mu’awiyah bertanya pada Sufyan bin Al-Hashin. “Kalau begitu pernahkah engkau ikut dalam perang melawan pasukan Tatar?” Kembali Sufyan menjawab tidak sambil menggelengkan kepala. “Orang Romawi dan orang Tatar selamat dari keburukan lisanmu,” demikian kata Iyas bin Mu’awiyah, “tapi, seorang Muslim cedera karena lisanmu!” Sungguh ada banyak hal yang patut dibanahi dari diri kita hari-hari ini. Ketika media mempermudah jangkauan untuk mengetahui ruang-ruang pribadi seseorang, seringkali kita menjadi latah untuk mengomentari. Kita pun menjadi tak sadar sedang digiring ke arah tradisi pergunjingan yang tiada manfaat. Kita mendadak menjadi gampang mencela dan mudah dibuat kecewa pada hal-hal yang tidak terlalu penting. Betapa hal-hal demikian sangat menguras energi dan mudah membelokkan orientasi; dari semangat beramal ke arah hasrat pergunjingan. Na’udzubiLlahi min dzalik.

Alangkah menusuk nasihat Ibnu Athaillah As-Sakandary. “Betapa banyak kemaksiatan yang mewariskan rasa hina dan rendah di hadapan Allah ta’ala,” tuturnya. Beliau lalu melanjutkan, “Sungguh, itu lebih baik dari ketaatan yang mewariskan sikap merasa mulia dan sombong.” Begitulah kearifan sikap dinasihatkan pada kita. Agama ini melarang seseorang untuk mencaci dan menghina orang yang melakukan kesalahan. Pada yang berdosa saja kita tak boleh mencelanya, apalagi pada mereka yang kesalahannya belum diputuskan benar tidaknya. Puncak tertinggi dari masyarakat Muslim adalah menegakkan hukum sesuai yang dituntukan Allah, dan bukan menyibukkannya dengan cacian dan hinaan.

Bukankah kita tak mengetahui jalan cerita kehidupan seseorang? Bukankah telah bertabur banyak tauladan, mereka yang pernah tergelincir dalam kekhilafan, ternyata mampu menuntaskan kehidupannya dalam kebaikan. Yunus pernah terjerat khilaf. Ketika ia berdakwah di Ninawa dan yang ia temukan hanyalah pembangkangan. Hilanglah sabarnya. Ia pergi meninggalkan Ninawa sebelum diperintakan-Nya. Sang Nabi ‘mutung’. Lalu, ia ditelan ikan. Setelahnya ia menginsyafi seluruh kesalahannya dengan doa (Qs. al-Anbiyaa’ [21]: 87). Ia tak lagi dalam hina. Yunus bertabur kemuliaan. Kisah hidupnya menjadi teladan, maka Quran mengisahkan.

Sungguh, tak akan terhina orang yang dimuliakan Allah karena taubatnya setelah khilaf. Tak akan mulia orang yang dihinakan Allah bersebab jumawa yang ditempuhnya dalam taat.

Pada mereka yang keluarganya sedang didera ujian, doakan semoga lekas terurai masalah. Jangan memperolok dan menghinakannya. Kita tak berharap ujian serupa ditimpakan atas diri kita. Begitu pula pada mereka yang gagal menghadapi ujian kehidupan dari Allah, kita panjatkan doa agar Allah menyayangi mereka yang berusaha memperbaiki diri. Berdoa pula agar kita istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya, lalu menuntaskan tugas hidup kita dengan khusnul khatimah. []