Category Archives: Lentera Kearifan

words of wisdom

Hukuman

“Ayah, apa mungkin orang yang tak bersalah itu bisa dihukum?” tanya gadis kecil itu pada ayahnya. Ini pertanyaan lanjutan dari diskusi ringan sebelumnya. Lelaki itu berjongkok, sejajar dengan tinggi anaknya, lalu dengan tersenyum ia berkata.

“Nak, bukankah kamu sebulan lebih pernah dihukum gara-gara tidak pakai sabuk di sekolah. Setiap Senin kamu jadi tersangka, dihakimi oleh Pak Guru dengan diminta lari keliling halaman sekolah?” anak itu mengangguk.

“Iya, Ayah,” mata gadis kecil itu menatap ayahnya. “Aku diminta lari. Sudah lebih dari lima kali Ayah.”

“Seandainya Ummi tidak protes, kau akan dihukum terus, Nak. Begitu diprotes ternyata anak kelas satu tidak wajib bersabuk. Nah, bukankah kamu dihukum untuk sesuatu yang sebenarnya kamu tidak salah? Kamu adalah contoh nyata dari pertanyaanmu, Nak.” Sang ayah mengusap kepala anaknya. Ada amarah yang tiba-tiba muncul, tapi ditahannya. Kejadian yang menimpa anaknya toh ada manfaatnya. Paling tidak ia menjadi bahan obrolan yang renyah dengan gadis kecilnya.

Kisah di atas adalah kisah Nadia, anak saya. Ia dihukum di sekolah untuk sesuatu yang tidak salah. Rok yang dipakainya terlalu besar sehingga tiap hari Senin, rok itu dilipat ke atas. Baju yang dikenakannya pun dikeluarkan sehingga sabuk itu tidak signifikan. Tapi setiap Senin itu ia dihukum lari keliling lapangan. Padahal, memakai sabuk tidak wajib bagi kelas satu. Ia dihukum untuk sesuatu yang dianggap salah, padahal ia tak bersalah. Adakah sekolah Nadia adalah sepotong wajah Indonesia dan tabiat kita?

Tepatlah yang dikatakan, “Salah menghakimi seseorang dengan memutus tak bersalah, padahal sebenarnya bersalah, jauh lebih baik daripada memutus bersalah orang yang sejatinya tak bersalah.” Di tengah gurita media, seringkali kita memasuki ruang-ruang gosip yang tak relevan dengan pokok persoalan. Kita mulai menjadi ‘gossip society.’ Terlintas banyak tuduhan di kepala kita akibat pemberitaan yang terframing, tentang siapapun. Saya tidak tahu ada tuduhan jahat apa yang terlintas di kepala dan obrolan saya tentang mereka yang jadi sorotan. Saya takut bahwa semua yang terlintas di kepala dan menjadi bahan obrolan gosip itu, kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Adab yang paling aman yang diajarkan adalah doakan mereka yang berperkara, yang dikenal baik sebelumnya, agar segera keluar dari jerat masalah dengan cara yang baik dan berlimpah pula kebaikan setelahnya. Toh, kita tidak berkepentingan agar yang bersangkutan berada dalam keburukan, sebab itu tanda akan luka di hati kita. Kita berharap mereka selalu berada dalam kebaikan, bahkan tatkala hukum memvonisnya bersalah. Doa kebaikan dan sikap proporsional itu jauh lebih menyelamatkan kita kelak di akhirat dari gunjingan yang dilontarkan. []

Antara Pengalaman dan Pembelajaran

Pemuda. Ia tertuduh tak sarat pengalaman. Akan tetapi, mereka yang diliputi keimanan dan semangat berkarya senantiasa punya cara pandang sendiri. Dengan rendah hati mereka akan mengatakan, “Kami boleh jadi tidak memiliki banyak pengalaman untuk menyelesaikan banyak persoalan masa lalu, tapi saat ini kami tengah belajar dan menyiapkan diri menghadapi banyak persoalan di zaman yang tak sama dengan masa lalu.” Baca lebih lanjut

Belajar Mendengarkan

Seorang guru, pada suatu siang yang terik, meminta murid-muridnya menyanyikan lagu perjuangan. Pelajaran menyanyi selalu dianggap pelajaran paling menyenangkan bagi sebagian guru. Tapi tidak bagi Kamid siang itu. Keringat dingin mulai bercucuran. Alih-alih menjadi pelajaran menyenangkan, menyanyi bagi Kamid dianggapnya siksaan. Semua siswa telah menyanyi: Ada yang menyanyi Bandung Lautan Api, Maju Tak Gentar, dan sebagainya. “Kamid, sekarang giliran kamu!” perintah Ibunda Guru. Baca lebih lanjut

Kita dan Gairah Belajar Anak-anak

Abdullah bin Mas’ud. Lelaki berilmu ini memilih hari Kamis bagi dirinya untuk mengajar. Pembahasannya yang bernas menjadikan banyak orang tertarik mendengarkan. Maka, tidaklah mengherankan tatkala banyak orang meminta dirinya untuk mengajar tiap hari. “Wahai, Abu Abdurrahman,” kata seseorang suatu ketika, “aku suka jika engkau berceramah setiap hari.”

“Hal itu tidak mungkin aku lakukan,” jawab Abdullah bin Mas’ud. “Aku tidak suka membuat kalian lekas bosan. Sesungguhnya aku memberikan selingan nasihat kepada kalian seperti Nabi saw. memberikan selingan nasihat kepada kami karena khawatir kami bosan.” Baca lebih lanjut

Kasih Sayang Kita pada Anak

Wanita itu terdiam, tapi keinginannya masih menyala. Keinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Di depannya sang suami hanya bisa terdiam. Dalam gendongannya sang anak tertidur pulas.”Ini kesempatan baik buatku, Mas. Aku kepingin kuliah di luar.” Sang suami masih diam. Seluruh alasan untuk ‘mencegah’ istrinya telah dikemukakannya. Baca lebih lanjut

Anak-anak Malaikat para Ayah

“Mas, aku dapat sms untuk bermaksiat,” demikian kata seorang bapak–salah seorang dosen ISI Yogyakarta, teman dalam Sayembara Penulisan Buku Pengayaan Puskurbuk 2011. Beliau lalu menunjukkan isi sms di handphonenya–malam ini ke puncak saja, yuk. Begitu kurang lebih isi sms-nya. SMS itu brasal dari seorang wanita yang dikenalnya, yang kebetulan juga sedang ada tugas di Jakarta. Baca lebih lanjut

TEGURAN

jika kita termasuk orang baik-baik,
lalu suatu saat terpeleset khilaf,
Allah akan menyayangi
dg mengutus orang-orang pemberani
untuk meluruskan dan mengingatkan

Santun ataukah kasar kata-kata
yang diucapkannya tetap hrs diterima
tanpa kemarahan

marah dan tersinggung
merupakan pertanda bahwa ada
yang perlu diperbaiki dari diri kita
:jika bukan spt yg disampaikan
mungkin sisi lain yg kita ketahui stlhnya