Bersyukur yang Tak Sekedar Janji

Tak ada yang salah dari firman Allah ta’ala. Sama sekali. Sungguh buruk iman kita manakala berani menyangkal sedikitpun kebenaran firman Allah. Na’udzubillahi min dzalik. Ketika Allah membeberkan tabiat kita yang gemar berjanji untuk bersyukur saat terpuruk, lalu lalai ketika kesuksesan dianugerahkan Allah pada kita, rasa-rasanya begitulah yang (masih) sering terjadi dalam diri kita.

Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata), “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bencana ini, maka kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur” (Qs. Yunus [10]: 22). Begitu pula yang dijelaskan Allah dalam Qs. Al-An’am [6]:63. Sungguh kita masih harus terus berusaha memperbaharui kualitas iman kita.

Kesuksesan seringkali melenakan. Inikah iman kita: yang baru teringat Allah dan segala kenikmatan yang dianugerahkan-Nya pada kita saat kesempitan menerpa. Ketika sakit kita berjanji akan taat dan bersyukur begitu sembuh, tapi janji itu akhirnya hanya sebatas janji. Ketika dilanda kebangkrutan bisnis, banyak di antara kita menghiba-hiba di hadapan Allah untuk tekun beribadah dan mensyukuri setiap nikmat yang diberikan, tapi begitu keuntungan bisnis diperoleh, rupa-rupanya cinta duniawi lebih menjadi prioritas. Banyak di antara kita berharap dapat kerja begitu lulus kuliah dg janji untuk selalu mensyukuri nikmat Allah, tapi begitu kerja diperoleh, banyak di antaranya dibelenggu oleh pekerjaan dan dorongan materi.

Semoga bukan wajah di atas, gambaran diri kita. Tak usah menunggu sukses besar untuk bersyukur. Tak usah menanti keluar penuh dari masalah untuk ikhlas bersyukur. Pada saat apapun, kita dapat bersyukur. Pasalnya, di tengah himpitan musibah sekalipun, karunia dan nikmat Allah masih teramat besar. Dalam kemiskinan sekalipun, nikmat Allah tak terkira bagi kita. Kemiskinan tidak menjadi masalah ketika nikmat iman Allah hunjamkan kuat di dalam dada. Mengenali dan menyeksamai bahwa di tengah musibah masih banyak nikmat Allah yang harus disyukuri akan membukakan banyak jalan kebaikan.

Dalam deraan fitnah demi fitnah sekalipun, karunia Allah masih sangat berlimpah. Mungkin ada sekian masalah yang menyesakkan dada, tapi kita mensyukuri bahwa dalam kondisi seperti itu kita semakin dekat dengan Allah. Ada banyak sumber daya yang boleh jadi terasa lunglai tak berdaya, tapi kita masih bersyukur, ada kebersamaan yang makin kuat terasa. Ada banyak himpitan, tapi syukur senantiasa terpanjatkan.

Dari sini kita menginsyafi bahwa jika segala hal yang tak berkesesuaian dengan kehendak kita dianggap masalah dan musibah, barangkali kita akan menganggap bahwa hidup di dunia penuh derita. Keimanan kita menuntunkan bahwa cukuplah dianggap masalah dan musibah ketika dalam situasi apapun kita malah menjauhi ketaatan kepada-Nya. Maka, mengenali hal-hal menakjubkan di antara penatnya musibah akan menjadikan kita penuh dengan harapan. Harapan akan mewariskan keceriaan. Dan keceriaan dalam panduan iman, insya Allah, akan membukakan pandangan kita terhadap jalan kebaikan yang awalnya tampak samar menjadi lebih terang.

Kita pun menyadari, di antara banyak hal yang hilang setelah awalnya dimiliki, kita belajar mensyukuri terhadap apa pun yang tersisa dan benar-benar kita miliki. Dan cukuplah bagi kita jika yang tersisa ialah iman dan semangat perjuangan. Dengan dua hal itu, insya Allah, kita tak terlalu sesak dada.

Hari ini marilah kita renungkan sedalam-dalamnya. Nikmat Allah tetap tak ternilai, meski kita dalam himpitan masalah. Lalu, apa yang menghalangi kita untuk bersyukur. Marilah kita bersyukur setiap saat. []

Iklan

Disebabkan Orang-orang Lemah

Sa’ad bin Malik: suatu saat ia merasa lebih berdaya dibanding yang lainnya. Entah apa yang menyebabkan ia berpikiran demikian. Kita hanya mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya. Bukhari meriwayatkan peristiwa itu untuk menjadi perenungan buat kita.

Dari Mus’ab bin Sa’ad ia berkata: Suatu saat Sa’ad bin Malik merasa memiliki kelebihan dari orang yang lebih rendah darinya. Maka, Nabi saw bersabda, “Bukankah kalian ditolong dan diberi rezki oleh Allah karena orang-orang dhu’afa di antara kalian?” (HR. Bukhari)

Adakah diri kita seperti Sa’ad bin Malik? Merasa telah sangat sukses dan jaya dibandingkan dengan orang lain. Merasa memiliki banyak koneksi untuk mewujudkan keinginan-keinginan. Merasa memiliki banyak kekuatan untuk mempengaruhi orang lain. Merasa berlimpah fasilitas daripada yang dimiliki orang lain, sehingga menganggap teramat layak bermegah-megah. Sungguh, seluruh kelimpahan itu merupakan pemberian Allah. Dan, yang tak boleh dilupa, bisa jadi Allah berikan semua kelebihan itu karena peranan orang-orang miskin dan dhu’afa di sekitar kita.

Pada Sa’ad bin Malik, Rasulullah mengingatkan perkara kepekaan. “Hal tunshoruuna wa turziquuna illa dhu’afaaikum.” Kita perlu selalu mengingat masa-masa ketika masih menderita. Masa ketika masih bersama berjuang. Ada banyak pertolongan orang lain kepada kita. Ada banyak bantuan orang lain yang diberikan kepada kita. Ingatlah untuk mengasah kepekaan. Kenanglah untuk menghapus kejumawaan.

Adakalanya yang kita peroleh saat ini merupakan peranan banyak orang-orang dhu’afa yang (mungkin) sekarang masih dalam kondisi dhu’afa. Mungkin ada di antara mereka telah mengorbankan harta (yang tak pernah kita ketahui, tentu dengan tulus ikhlas) untuk menjadikan kita anggota legislatif, gubernur, bupati, atau lurah. Ada di antara mereka yang membantu kita saat mencari dan merintis kerja. Ada di antara mereka yang menolong kita saat awal-awal akan kuliah dan sekolah. Ketika keinginan itu tercapai, dan kita mulai merasakan pertolongan dan rizki berlimpah dari Allah, ingatlah bahwa ada di antara orang-orang yang dulu bekerja luar biasa membantu kita tetap miskin dan hidup pas-pasan.

Ketika kita tak lagi kepanasan dan kehujanan karena mobil selalu mengantarkan, ingatlah bahwa masih ada orang-orang yang dulu memperjuangkan kita masih tetap kepanasan dan kehujanan. Ketika kita tak lagi dililit hutang, mungkin orang-orang yang dulu membantu kita belum selesai melunasi hutang-hutangnya. Ketika kita telah berhasil membangun rumah, ingatlah bahwa masih ada orang-orang yang dulu menampung kita, setiap tahunnya masih disibukkan untuk pindah kontrakan yang murah.

Tak ada yang pantas disombongkan dari setiap keberhasilan kita. Tak masalah seseorang memiliki banyak fasilitas selama ia diperoleh dari cara-cara yang benar, tidak melalaikan dari Allah, memudahkan kerja, dan tak menghalangi kita dari banyak orang. Dalam kondisi ketika fasilitas dan kesuksesan telah diraih, saat itulah kepekaan kita akan teruji. Boleh jadi, disebabkan orang-orang lemahlah Allah menolong dan melimpahkan rizkinya kepada kita. Wallahu ta’ala a’lam. []

Bergaul dengan Kebesaran Jiwa

Mari kita bayangkan betapa propaganda yang menyudutkan Rasulullah begitu massif dan tersebar luas. Tuduhan demi tuduhan nyaris tiada henti saban hari. Tak ada secuil pun sudut-sudut kota yang tak tersentuh oleh tuduhan bahwa Muhammad itu edan, gendheng, gila, dan tukang sihir. Saking gencarnya propaganda penyudutan itu dilakukan, Al-Qur’an mengisahkan ulang tuduhan-tuduhan itu. “Hai orang yang diturunkan Al-Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang gila.” (Q.s. Al-Hijr: 6-7). Di ayat yang lain Allah kisahkan tuduhan kepada Sang Rasul, “Dia adalah seorang yang menerima ajaran lagi pula seorang yang gila,” (Q.s. Ad-Dukhan:13-14). Lelaki yang diakui jamak orang akan keluhuran akhlaknya, kesantunan tutur katanya, kesopanan sikapnya, dan ketulusan cintanya itu dianggap tidak waras.

Bukan hanya satu tuduhan, tapi banyak tuduhan yang disebarluaskan. Muhammad dengan seluruh nama baik dan pesona kepribadiannya dihancurkan. Mereka ingin kepercayaan publik kepada Sang Rasul yang mulia lagi jujur itu koyak-koyak. “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya,” (Q.s. Ath-Thur:30). Para penentang itu pun tidak kikuk melempar tuduhan, “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta,” (Q.s. Shad:4). Dan mereka tidak berdiam diri, mesin-mesin propaganda mereka bekerja massif; mempengaruhi banyak orang dan merasukkan tiap tuduhan tentang Rasulullah pada setiap orang. Mari kita bayangkan negeri tempat Rasulullah menyemai dakwah itu hampir tak tersisa dari propaganda untuk menyudutkan beliau. Bahkan mereka yang simpati dan peroleh hidayah pun hendak dibengkokkan kembali. Keraguan ditanamkan, benih kebimbangan ditaburkan. “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir,” (Q.s. Al-Isra’:47-48).

Setiap tuduhan yang ditelunjukkan ke arah para dai, di sepanjang masa, sama saja. Barangkali hanya bentuk redaksionalnya saja yang berbeda. Tak akan sepi dakwah ini dari bermacam propaganda. Tak akan sunyi dakwah ini dari segala tuduhan yang menghina-hina. Jangankan kita yang jelas masih banyak cela, Rasulullah yang begitu jelita akhlaknya pun dianggap pendusta. Mari kita bayangkan betapa tuduhan-tuduhan itu, secara manusiawi, melahirkan duka. “Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu,….” (Q.s. Al-An’am:33). Ada duka, tapi bukan itu yang dipelihara. Allah menghendaki Rasulullah dan para sahabat berbesar jiwa. Boleh jadi propaganda yang dilancarkan para penentang banyak mempengaruhi orang, tapi dakwah sepenuh cinta mesti tetap ditunaikan. “Maka, tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenun dan bukan pula seorang gila.” (Q.s. Ath-Thuur:30).

Bukan sikap kerdil yang membelenggu persepsi yang layak dipelihara dai acapkali bertemu dengan tuduhan-tuduhan. Seringkali ‘merasa’ bahwa semua jari telunjuk sedang diarahkan ke wajah kita menghambat diri untuk bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat. Padahal, kadangkala tidak seluruhnya demikian. Berinteraksi seringkali menjadi celah bagi tersambungkannya hidayah. Inilah yang dapat kita pelajari setiap kali membayangkan betapa massifnya tuduhan yang dilancarkan mesin propaganda Walid bin Mughirah terhadap Rasulullah dan barisan dakwah, serta bagaimana para sahabat memperoleh hidayah dan menerima kebenaran. Kita menemukan dua frasa kunci: kuasa Allah dan interaksi sosial yang tertunaikan. Alih-alih menarik diri dari peraulan, Rasulullah dan para sahabat terus memperluas pergaulan.

Dhimad Al-Azidi, lelelaki yang terpengaruh propaganda orang-orang musyrik Quraisy bahwa Rasulullah gila itu datang ke Makkah. Ia dikenal sebagai orang yang biasa menyembuhkan orang gila. Kedatangannya hendak mengobati Muhammad. “Jika aku bertemu lelaki itu,” katanya tentang Rasulullah, “semoga dapat kusembuhkan lewat tanganku.” Maka tatkala ia bertemu Rasulullah keinginannya itu un ia samaikan.

“Wahai Muhammad,” demikian lelaki dari Azdi Syanwah itu memulai pembicaraan, “sesungguhnya aku dapat menyembuhkan dari angin (pembawa penyakit gila) ini. Dan sesungguhnya Allah menyembuhkan dari tanganku orang-orang yang dikehendaki-Nya. Bagaimana dengan engkau?”

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memuji dan memohon pertolongan-Nya. Siapa yang diberi petunjuk, tak ada seorang pun dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkannya, tidak seorang pun dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah. Dia Mahaesa tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,” demikian jawab Rasulullah.

Rupa-rupanya Dhimad Al-Azdi tertarik. “Ulangilah untukku kata-katamu itu, Muhammad.” Rasulullah pun mengulangi hingga tiga kali. “Aku telah mendengar perkataan tukang ramal, ahli sihir, para penyair.” Kata Dhimad menjelaskan ketertarikannya, “Tapi aku tidak pernah mendengar perkataan seperti yang engkau katakan. Kata-katamu telah mencapai puncak tinggi.”

“Ulurkan tanganmu,” katanya, “Aku berbaiat kepadamu untuk masuk Islam.” Maka Rasulullah pun membaiatnya. “Dan juga untuk kaummu,” sabda Rasulullah. Dhimad pun mengiyakan. “Juga untuk kaumku,” katanya.

Kita akan menemukan kisah-kisah serupa dari para sahabat Rasulullah. Ada banyak orang yang semula waspada terhadap dakwah, dan bahkan antipati, bersebab interaksi -alhamdulillah- tersentuhlah hati. Ada pula yang ragu, bermula dari obrolan, ia pun terteguhkan. Di tengah derasnya propaganda, selalu ada celah bagi terbukanya hidayah. Dan itu menunjukkan bahwa Allah teramat berkuasa. Tak akan mengerdil mereka yang dibesarkan Allah; tak akan juga membesar, siapa yang dikerdilkan Allah ta’ala. Sekali lagi, boleh jadi propaganda untuk melemahkan dakwah teramat luas jangkauannya, tapi itu sama sekali tak menyurutkan semangat kita untuk berdakwah sepenuh cinta.

Hari ini kita merenungi kembali sabda Rasulullah saw. “Orang mukmin yang berbaur dengan masyarakat dan bersabar dari perbuatan buruk mereka, itu lebih baik daripada orang mukmin yang tidak berbaur dengan masyarakat dan tidak bersabar dari perbuatan mereka.” (H.r. Ibnu Majah). Bergaul dengan kebesaran jiwa, sebab harapan selalu bersemi dalam keyakinan: Allah teramat kuasa membolak-balikkan hati manusia. []

Doa Kita untuk Mereka

“Sejak dulu kami menyepakati,” demikian tulis Imam Ahmad ibn Hambal, “jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”

Tidak menghina orang baik itu perkara yang wajar adanya. Akan tetapi, tidak menghina mereka yang (sedang) tergelincir dosa butuh kesungguhan juga. Ini bukan pekerjaan sederhana. Betapa sering kita memperolok orang lain yang sedang terpeleset dan berperkara. Mengejek mereka sambil memicingkan sebelah mata. Alih-alih menginstrospeksi diri, kita malah menyibukkan diri untuk menjadikan mereka yang tergelincir dalam kekhilafan sebagai bahan gunjingan. Maka, sekali lagi, betapa sering kita dengan sikap jumawa mempertanyakan, “Kok bisa dia berbuat sekerdil itu?” Seakan kita merasa sangat yakin bahwa kita akan mampu melampaui ujian serupa. Sungguh, hanya kepada Allah kita memohon pada Allah agar mengistiqamahkan hati kita dalam ketaatan kepada-Nya.

Ketika seseorang menghina saudaranya yang tergelincir kesalahan, pada saat bersamaan ia sedang menggelincirkan diri pada kesalahan yang bersebab kesombongan. Jumawa bahwa dirinya lebih baik. Sungguh perkataan Sufyan bin Uyainah patut kita renungkan. “Siapa yang kemaksiatannya terletak pada syahwat, maka taubat bisa diharapkan darinya. Sebab Adam a.s. bermaksiat karena keinginan syahwat, ia bertaubat lalu diampuni. Sementara jika kemaksiatannya terletak pada kibr (kesombongan), maka aku khawatir is sebagai orang yang dilaknat. Iblis bermaksiat karena kesombongan karenanya ia dilaknat.” Begitulah yang terjadi, ketika seseorang menghina saudaranya yang tertimpa kesalahan, ia sendiri tidak menyadari bahwa penghinaan yang dilakukannya adalah kesalahan yang lebih parah. Apa yang diperoleh dari menghina? Pahala dari Allah berupa jaminan surgakah? Atau bertumpuknya keburukan dan kehinaan diri? Alangkah indah manakala kita bersibuk menelisik diri daripada menguliti saudara sendiri.

Suatu hari Sufyan bin Al-Hashin duduk berbincang dengan Iyas bin Mu’awiyah. Ketika melintas seorang anak muda, Sufyan menuturkan keburukan anak muda itu. Iyas bin Mu’awiyah lalu mencergahnya dan mengatakan, “Diamlah wahai Sufyan, apakah engkau pernah terlibat dalam pertempuran melawan Romawi?” Sufyan menjawab tidak pernah. Kembali Iyas bin Mu’awiyah bertanya pada Sufyan bin Al-Hashin. “Kalau begitu pernahkah engkau ikut dalam perang melawan pasukan Tatar?” Kembali Sufyan menjawab tidak sambil menggelengkan kepala. “Orang Romawi dan orang Tatar selamat dari keburukan lisanmu,” demikian kata Iyas bin Mu’awiyah, “tapi, seorang Muslim cedera karena lisanmu!” Sungguh ada banyak hal yang patut dibanahi dari diri kita hari-hari ini. Ketika media mempermudah jangkauan untuk mengetahui ruang-ruang pribadi seseorang, seringkali kita menjadi latah untuk mengomentari. Kita pun menjadi tak sadar sedang digiring ke arah tradisi pergunjingan yang tiada manfaat. Kita mendadak menjadi gampang mencela dan mudah dibuat kecewa pada hal-hal yang tidak terlalu penting. Betapa hal-hal demikian sangat menguras energi dan mudah membelokkan orientasi; dari semangat beramal ke arah hasrat pergunjingan. Na’udzubiLlahi min dzalik.

Alangkah menusuk nasihat Ibnu Athaillah As-Sakandary. “Betapa banyak kemaksiatan yang mewariskan rasa hina dan rendah di hadapan Allah ta’ala,” tuturnya. Beliau lalu melanjutkan, “Sungguh, itu lebih baik dari ketaatan yang mewariskan sikap merasa mulia dan sombong.” Begitulah kearifan sikap dinasihatkan pada kita. Agama ini melarang seseorang untuk mencaci dan menghina orang yang melakukan kesalahan. Pada yang berdosa saja kita tak boleh mencelanya, apalagi pada mereka yang kesalahannya belum diputuskan benar tidaknya. Puncak tertinggi dari masyarakat Muslim adalah menegakkan hukum sesuai yang dituntukan Allah, dan bukan menyibukkannya dengan cacian dan hinaan.

Bukankah kita tak mengetahui jalan cerita kehidupan seseorang? Bukankah telah bertabur banyak tauladan, mereka yang pernah tergelincir dalam kekhilafan, ternyata mampu menuntaskan kehidupannya dalam kebaikan. Yunus pernah terjerat khilaf. Ketika ia berdakwah di Ninawa dan yang ia temukan hanyalah pembangkangan. Hilanglah sabarnya. Ia pergi meninggalkan Ninawa sebelum diperintakan-Nya. Sang Nabi ‘mutung’. Lalu, ia ditelan ikan. Setelahnya ia menginsyafi seluruh kesalahannya dengan doa (Qs. al-Anbiyaa’ [21]: 87). Ia tak lagi dalam hina. Yunus bertabur kemuliaan. Kisah hidupnya menjadi teladan, maka Quran mengisahkan.

Sungguh, tak akan terhina orang yang dimuliakan Allah karena taubatnya setelah khilaf. Tak akan mulia orang yang dihinakan Allah bersebab jumawa yang ditempuhnya dalam taat.

Pada mereka yang keluarganya sedang didera ujian, doakan semoga lekas terurai masalah. Jangan memperolok dan menghinakannya. Kita tak berharap ujian serupa ditimpakan atas diri kita. Begitu pula pada mereka yang gagal menghadapi ujian kehidupan dari Allah, kita panjatkan doa agar Allah menyayangi mereka yang berusaha memperbaiki diri. Berdoa pula agar kita istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya, lalu menuntaskan tugas hidup kita dengan khusnul khatimah. []

Sesibuk Apakah Kita?

Acapkali kita tinggalkan medan dakwah dengan alasan sibuk. Ringan betul untuk mengucapkan kata “sibuk”. Seakan-akan jalan dakwah hanya ditempuhi oleh para penganggur yang kurang kerjaan. Sementara mereka yang merasa sibuk dapat berdalih untuk meninggalkannya.

Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris dalam “Fi Zhilal al-Sirah an-Nabawiyah Ghazwatul Badr al Kubra wa Ghazwatul Uhud” menuturkan bahwa Rasulullah telah memimpin 27 ghazwah (peperangan) dan memberangkatkan sekitar 38 sariyah serta ekspedisi. Nabi mengatur dan mengendalikan hal tersebut dalam kurun waktu yang sangat singkat dalam, yaitu sepuluh tahun. Pendapat ini sesuai dengan Ibnu Hisyam di dalam Sirah-nya. Itu artinya, dalam setahun Rasulullah terlibat dalam dua sampai tiga kali pertempuran.

Mari kita bayangkan betapa sibuknya Rasulullah mengatur semua itu. Berapa lama waktu yang digunakan untuk konsolidasi, mobilisasi, latihan, perjalanan, dan semua agenda yang menyertai pertempuran? Mari kita bayangkan betapa capek dan lelahnya Sang Rasul beserta para sahabat menempuhi hari-hari penuh perjuangan. Sekali lagi, mari kita bayangkan bagaimana kesibukan itu ditunaikan tanpa keluhan. Dalam situasi demikian, Rasulullah masih berkesempatan mengajar para sahabat, menerima tamu, menyimak keluhan dan konsultasi, membersamai istri-istri beliau, bahkan juga bermain akrab dengan anak-anak. Tak ada satupun kewajiban yang ditanggalkan. Tak ada satupun hak orang lain dilalaikan.

Malu rasanya diri ini ketika meninggalkan amal kebaikan dengan alasan sibuk. Seakan-akan kita jauh lebih sibuk daripada Rasulullah. Seakan-akan beban yang harus ditanggungkan melebihi beban Rasulullah. Kita lupa Rasulullah saw pernah menasihatkan bahwa sebaik-baik orang ialah yang sibuk dalam berkebajikan dalam rentang waktu umur diberikan. Inilah yang terpelajari ketika seorang laki-laki datang menemui Sang Nabi dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?” Rasulullah menjawab, “Ialah yang panjang umurnya, baik pula amalnya.” Lelaki itu kembali bertanya, “Lalu siapakah lelaki yang paling buruk?” Dan Rasulullah pun kembali menjawab, “Ialah yang berpanjang umurnya dan buruk amalnya.” (H.r. Imam Ahmad). Inilah yang terpahami bahwa berlelah-lelah bersebab sibuk dalam kebaikan jauh lebih utama daripada segar bugar dalam kelalaian.

Menelisik ke dalam diri, adakah kesibukan telah dijadikan alasan untuk bermalas-malas dan semakin menjauh dari aktivitas kebaikan? Pasalnya, bukan karena banyaknya kesibukan kita menjadi lemah dan rapuh. Kadangkala, bersebab jiwa kita yang melemah dan merapuhlah maka seseorang teramat lihai menyusun 1000 macam alasan yang terasa menyibukkan. Bagaimana saya akan aktif dalam dakwah sementara tugas-tugas kuliah tumpuk-menumpuk? Bagaimana saya akan aktif di forum-forum pembinaan sementara waktu saya telah tersita di tempat kerja? Rasanya amat berat bagi saya untuk mengampu binaan, kesibukan menjalin relasi bisnis menjadikan saya khawatir tidak amanah. Orientasi yang memudar, motivasi yang melemah, semangat yang mengendur, biasanya, bermula dari jiwa kita yang tak terjaga dengan baik. Teringat nasihat Dr. Sayyid Muhammad Nuh, “Seorang dai harus memenuhi semua relung jiwanya dengan dakwah. Ia tidak berdiri, duduk, bergerak, atau berhenti, berbicara atau diam kecuali dalam kerangka dakwah.”

Sungguh bersibuk-sibuk dalam kebaikan akan meluruhkan seluruh lelah di badan. Bersuntuk-suntuk dalam perlombaan duniawi tanpa kejelasan orientasi ukhrawi hanya menjadikan sesak di hati. Tak ada yang perlu disesalkan dari kesibukan kita dalam dakwah. Bukankah itu tabiat jalan yang mesti kita tunaikan. Begitulah yang dilakoni para nabi. Nuh ‘alaihissalam misalnya, tak lelah berdakwah sepanjang malam dan siang (Q.s. Nuh [71]: 5), meski perujung pada penolakan demi penolakan. Orang-orang salih selalu sibuk dalam kebaikan. Bagaimana halnya dengan kita? Semoga tetap berkebajikan dan tidak merasa seakan lebih sibuk daripada Rasulullah. []

Bersyukur Setiap Saat

Sudah bersyukurkah kita hari ini? Rasulullah kerap menanyakan perkara ini kepada para sahabat. “Bagaimana kabarmu wahai Fulan? Kemudian dijawab, “Aku memuji Allah subhanahu wata’ala.” Rasulullah lalu bersabda, “Inilah yang aku inginkan darimu…” (HR. Thabrani dishahihkan oleh Al-Bani).

Suasana selalu bersyukur. Inilah yang selalu diinginkan Rasulullah. Tak ada seharipun yang luput dari mensyukuri karunia Allah ta’ala. Kebiasaan ini dilakukan pula oleh para sahabat. Setiap kali mereka bertemu, selalu saja mereka bertanya tentang kabar keimanan mereka. Padahal, sungguh intensitas mereka berjumpa sangatlah tinggi. Namun, tetap saja mereka bertanya soal kabar keimanan. Adalah Ibnu Umar yang bertutur, “Kami bisa saja berulangkali bertemu dalam satu hari, tapi satu sama lain di antara kami tetap saling bertanya kabar. Kami tidak ingin kecuali agar saudara kami memuji Allah ta’ala.”

Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, “Syukur itu mengakui nikmat dan melakukan pengabdian pada yang memberi nikmat.” Di sinilah muara kesyukuran itu bermula: kesadaran akan karunia Allah ta’ala. Sayang, diri ini teramat angkuh di hadapan Allah. Ada banyak nikmat yang Allah berikan, tapi selalu kita anggap kecil dan sederhana. Ada banyak kemudahan yang Allah berikan, tapi rupanya iman kita teramat rapuh untuk mengenalinya. Ada banyak kesehatan yang Allah karuniakan pada kita, tapi jarang sekali kita sadari sebagai kenikmatan hidup.

Allah sehatkan lisan kita, tapi kita jauhkan ia dari banyak berdzikir kepada-Nya. Allah jaga mata kita, tapi teramat sering ia kita gunakan untuk melihat yang tidak perlu. Jarang pula kita gunakan mata itu untuk membaca ayat-ayat Allah. Allah kuatkan kaki kita, tapi kita lemahkan ia untuk memenuhi panggilan-Nya ke masjid. Teramat banyak nikmat yang kita abaikan, teramat sedikit ketaatan yang kita lakukan. “Seandainya kamu (akan) menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.” (Qs.14:34). Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Inilah pertanyaan Allah dalam surah Ar-Rahman yang selalu diulang-ulang. Berkali-kali.

Rasa-rasanya kita teramat layak untuk selalu berdoa. “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan untuk mengerjakan amal salih yang Engkau ridhai…” (Qs. An-Naml [27:19).

Hari ini, marilah kita sadari, dengan kesadaran keimanan, limpahan nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Kita perbanyak mengucap ‘alhamdulillah” dengan hati yang ikhlas, lalu kita berusaha meningkatkan ketaatan pada Allah ta’ala. Ya, kita ucapkan ‘alhamdulillah’ dengan ikhlas dan penuh kesadaran, tidak untuk kita jadikan bahan selorohan ala artis. Sama sekali tidak.

Saya bayangkan, Rasulullah yang berkata lirih, “Inilah yang aku inginkan darimu…” []

Mereka yang Susah Dihapus dari Ingatan

Masjid Nabawi pada suatu siang. Rasulullah terlihat sedang mencari seseorang. Setiap sudut masjid beliau amati. Ia mencari seseorang yang biasa beliau temui di masjid. Seorang nenek tua yang tak pernah dihiraukan oleh yang lain, bahkan oleh para sahabat sendiri. Karena tak ada yang terlalu istimewa dari nenek itu. Hanya satu yang diingat untuk memunculkan gambaran tentang sang nenek: ia biasa membersihkan masjid. Itu saja, tak lebih. Tapi siang itu ia tidak terlihat di masjid dan Rasulullah merasakan ketidakhadirannya. Pada para sahabat beliau menanyakan tentang keberadaan sang nenek, dan sepenggal kalimat ‘yang biasa membersihkan masjid’ menjadi diferensiasi dari sekian perempuan tua yang biasa mendatangi masjid Nabawi.

Para sahabat keheranan dengan pertanyaan Rasulullah. Seorang perempuan tua mendapat perhatian begitu besar dari Rasulullah saw. Para sahabat lalu menyampaikan bahwa nenek tua yang biasa membersihkan masjid itu telah meninggal.

“Kenapa kalian tidak mengabariku?” Rasulullah tersentak. Kaget. Para sahabat semakin heran.

“Dia meninggal di malam hari dan kami tidak ingin mengganggu engkau, ya Rasulullah.” Beliau terlihat tersentak. Wanita yang biasa ditemuinya di masjid telah meninggal dan tidak diketahuinya. “Tolong tunjukkan kepadaku kuburannya.” Pintanya kepada para sahabat.

Siang itu pula Rasulullah menuju kuburan sederhana itu. Beliau shalat dan berdoa untuknya (Bukhari dan Muslim). Sepenggal kisah itu menjadi bukti bahwa Rasulullah tidak pernah mengabaikan perbuatan baik sekecil apapun. Kemuliaan seseorang senantiasa dilekatkan pada tindakannya, sekecil apapun itu. Oleh karena itu, setiap usaha untuk mengenal seseorang selalu dikaitkan dengan tindakannya. Tindakan pada akhirnya menjadi unsur pembeda antara seseorang dengan orang lain. Persis seperti yang diungkapkan Rasulullah tentang wanita tua itu: yang biasa membersihkan masjid.

Itulah sebabnya dalam rentang sejarah yang panjang, orang-orang besar selalu dilekatkan dengan karyanya, dengan tindakannya, bukan dengan gambaran fisiknya. Mereka dikaitkan dengan pesona kepribadiannya, bukan dengan polesan penampilannya. Sayangnya, banyak yang terjebak dalam perkara ini. Sebagian orang memahami bahwa polesan-polesan yang melekat dalam diri mampu menciptakan balutan yang rekat dalam ingatan orang.

Tidak sekedar itu saja. Mereka yang dianggap kecil dan tidak pernah dikenal oleh banyak orang mendadak menginspirasi, bukan karena penampilan fisiknya yang mengundang decak kagum, tapi karena perbuatan yang dilakukannya. Sekecil apapun tindakan yang dilakukan untuk kebaikan, dia akan menjadi penjelas dari pribadi kita. Dia akan menambahkan identitas kita. Hal inilah yang sekaligus menjelaskan bahwa ternyata kepribadian kita yang kompleks ini dapat dijelaskan dengan mudah melalui tindakan, sekecil apapun dia. Inilah yang dapat kita pelajari dari kisah sederhana di atas.

Sampai saat ini kita tidak pernah mengenal nama dan identitas lain dari ‘wanita pembersih masjid’ itu. Tidak ada satu pun identitas kediriannya yang tersisa, kecuali sepenggal kisah bahwa Rasulullah sangat bersedih atas kematiannya. Selebihnya tidak ada yang dapat dilacak. Tapi ini tidak berarti bahwa wanita tersebut tidak bisa dikenali. Ia masih bisa kita ingat sampai saat ini, setelah ratusan tahun yang lalu, ia dengan ikhlas membersihkan debu-debu masjid Nabawi. Pekerjaan yang berangkat dari kadar kesanggupannya. Ia memang tidak mampu berbuat seperti Utsman atau Abdurrahman bin Auf yang menyerahkan hartanya untuk perjuangan dakwah. Ia tidak mampu menerangjelaskan hikmah dan ilmu layaknya Aisyah. Tapi di antara keterbatasan yang dimilikinya, ia tetap ingin berbuat.

Ada banyak orang-orang yang susah dihapus dari ingatan. Bukan karena wajahnya yang rupawan. Bukan pula karena hartanya yang melimpah. Bukan karena karir akademiknya yang menjadikan kebanggaan. Ada banyak orang-orang yang sulit dilupakan, karena mereka melakukan suatu kebaikan tidak agar mereka diingat, tapi karena memang ingin berbuat. Insya Allah, mereka masih dapat kita temukan. Jumlahnya pun sangat banyak. Tapi kita tidak pernah mengenali karena mereka berbuat dalam diam, dalam kesunyian.

Layaknya perempuan tua yang biasa membersihkan masjid dari kisah di atas, yang perlu kita lakukan hanyalah melipatgandakan peran, menjernihkan motif setiap pengorbanan, dan terus berbuat sebesar yang bisa dilakukan. Terlibat di tengah masyarakat dan secara tulus mendampingi mereka. Dengan jalan ini hidup kita menjadi nyata dan jauh lebih bermakna. Orang bisa saja mencela, tetapi kepercayaan masyarakat sangat dipengaruhi oleh seberapa intens kita ada di tengah-tengah mereka; tulus melayani, bermula karena peduli.

Semoga hidup ini, betapapun sederhananya, mampu memberikan inspirasi bagi sesama. Sebab kematian yang indah selalu menyisakan ‘keterangan kerja’ di belakang nama kita, seberapapun kecil kerja-kerja kebaikan yg telah dilakukan. []