Tag Archives: ikhlas

Malu Saya pada Mereka

Rajab tahun kesembilan hijriah. Orang-orang lebih suka berteduh di rumah atau di bawah rimbun pepohonan saking teriknya. Madinah sedang mengalami musim panas. Sebentar lagi musim gugur tiba. Rasulullah saw memobilisasi kaum Muslimin untuk melawan Romawi. Semua orang yang diliputi keimanan terpanggil. Kaya dan miskin semua terlibat dan berkontribusi sesuai kemampuannya.

Bagi para sahabat yang kaya, seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Abbas bin Abdul Muthalib, Thalhah, Ashim bin Adi, dan yang lainnya berinfak tak tanggung-tanggung. Tentu bukan karena janji bahwa ia akan dikembalikan berlipat-lipat, semata keridlaan Allah sajalah yang terharapkan. Utsman bin Affan menyumbang 900 ekor unta dan 100 ekor kuda bersama bahan makanan dan bekalnya. Untuk itu ia habiskan 1000 dinar. Abdurrahman bin Auf menginfakkan 2000 dirham. Umar menginfakkan 100 uqiyah.

Para perempuan Madinah pun tidak ketinggalan. Mereka infakkan perhiasan-perhiasan mereka yang paling berharga. Bahkan, mereka yang tak berpunya pun turut berkontribusi dalam menghadapi perang Tabuk atau dikenal juga dengan sebutan jaisul usrah (perang di masa-masa sulit). Misalnya, Abu Uqail. Ia datang membawa setengah sha’ kurma.

Melihat para sahabat berkorban, orang-orang munafik lalu mencela dan mencemooh mereka. “Halah, sesungguhnya Allah tidak butuh sedekah seperti ini.”

Ketika Abu Khaitsamah al-Anshari datang sambil membawa satu sha’ kurma, maka orang-orang yang tersimpan dengki dalam hatinya mengolok-oloknya. Demikian pula ketika Ibnu Auf datang sambil berkata, “Sungguh aku memiliki dua sha’ kurma. Satu sha’ kupersembahkan untuk Rabbku. Satu sha’ lagi untuk keluargaku.” Kontan mereka yang luka hati langsung berkomentar, “Tidaklah Ibnu Auf memberikan itu kecuali hanya riya’.”

Maka, saat itulah Allah turunkan ayat, “Orang munafik, yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan (yang) mencela orang-orang yang hanya memperoleh (sesuatu yang akan disedekahkan) sekedar kesanggupannya.” (Qs. At-Taubah: 79).

Betapa malu diri ini yang masih gampang curiga pada mereka yang berbuat kebaikan. Betapa sibuk diri ini mencela mereka yang berkorban untuk sesama, sementara kita lalai untuk berbuat yang lebih baik darinya. Ketika bencana alam: banjir atau gunung meletus, atas izin Allah melanda tanah air menjelang pesta demokrasi 2014, betapa saya gampang sekali mencurigai mereka yang berkebajikan, hanya karena mereka memasang atribut dan identitas organisasi.

Saya sering berpikir, “Kenapa kalau ikhlas berbuat, harus pakai seragam organisasi? Kenapa harus kibarkan bendera ormas? Kenapa harus kenakan baju partai? Ikhlas ya ikhlas. Tidak perlu pakai atribut dan embel-embel.” Saya terus curiga dan lupa berkorban yang sama. Sementara mereka juga terus berbuat sebisa yang mereka upayakan. Lama-kelamaan saya merasa malu. Betapa naif saya menelisik keikhlasan orang lain hanya karena atribut yang dikenakan.

Bukankah ikhlas atau tidak, pasti Allah Mahamengetahui. Yang ikhlas akan berbalas. Sekira tidak ikhlas, paling tidak, korban bencana alam telah terbantu. Lagi pula, ikhlas atau tidak ikhlas -menurut saya- adalah perkara orientasi, bukan masalah atribut dan asesoris. Sekira ia diniatkan semata karena mencari keridlaan Allah, seberat apapun ia menunaikannya, maka itulah ikhlas. Maka ketulusan itu akan dirasakan oleh mereka yang terbantu. Mereka lebih mengetahui kiprah dan pengorbanan para relawan itu dibandingkan saya, misalnya, yang hanya mengetahui dari liputan media.

Maka pagi ini, saat mengingati pengorbanan para sahabat menjelang Perang Tabuk dan sikap para pendengki yang mencaci mereka, tiba-tiba saya merasa sangat malu. Saya merasa sok tahu mengenai isi hati orang. Bukankah pada mereka yang berkorban untuk sesama, apapun atribut dan bendera yang mereka kenakan, kita patut berikan apresiasi. Sementara itu, masalah seragam dan bendera, anggap saja itu sekedar identitas untuk dikenali. Persis seperti relawan kemanusiaan kita yang dikirim ke luar negeri atau tim-tim relawan dari TNI, PMI, atau yang lainnya. Mereka kibarkan bendera dan kenakan seragam sebagai identitas. Adapun bagi partai yang bergerak karena hendak dapat simpati publik jelang 2014, masyarakat pun insya Allah dapat menilai mereka. Partai atau ormas yang bergerak karena panggilan jiwa pasti yang akan memiliki daya tahan dalam berjuang. Ia akan berkiprah tak sebatas jelang pemilu. Mereka juga tak bergerak sekedar pencitraan. Yang bergerak sebab ingin peroleh citra, insya Allah, tak mampu bertahan mendampingi masyarakat 24 jam dalam seharinya. Nah, serahkan saja pada masyarakat untuk menilai sendiri.

Sungguh, tugas kita hanya melakukan perbaikan, selagi masih berkesanggupan. Demikian yang Al-Qur’an sampaikan dalam surah Hud ayat 88. Mereka yang bekerja dengan sepenuh pengabdian, tak akan hina hanya sebab cacian. Mereka yang bekerja sebatas kepentingan, tak akan mulia oleh sanjung dan pujian. Jadi rasanya kalau saya teres menerus memasang rasa curiga, bukan mereka yang dirugikan, saya sendiri yang amat naif dan merugi.

Pada mereka yang telah mengabdi dan selama ini selalu saya curigai, maafkanlah saya. Siapa tahu di hadapan Allah, Anda semua jauh lebih mulia daripada saya, yang masih gemar mencela-sedikit pula berkarya. []

Membaca Sang Presiden

Jika ada presiden di dunia ini yang memilih hidup sangat sederhana maka salah satu nama yang dapat tercatat adalah Jose Mujica, Presiden Uruguay. Gajinya sebesar kurang lebih 12000 Dollars (hampir 120 juta), 90%-nya ia sumbangkan untuk kegiatan amal. Nyaris setiap bulan ia hanya menerima tak lebih dari 800 ribu rupiah. Ia sendiri lebih memilih tinggal di sebuah kawasan pertanian, yang jalan menuju rumahnya belum di aspal. Pepe, demikian ia dipanggil, tak berpengawal lengkap layaknya rombongan kepresidenan. Ia hanya ditemani dua orang polisi. Tak lebih dari itu.

Bersama istrinya, ia menanam bunga-bunga, yang dijual untuk tambahan pendapatan. Apa yang dilakukan Pepe tidak untuk pencitraan dan popularitas. Ia sendiri sangat bangga dengan pilihan hidupnya. Undang-undang di Uruguay hanya membatasi seorang Presiden memimpin sekali masa saja. Itu artinya, pada 2014 nanti ia akan pensiun. Lelaki berusia 77 tahun itu hanya memiliki kekayaan tak lebih dari 10 juta saja.

Kisah tentang Pepe tidak serta merta melahirkan anggapan bahwa pemimpin-pemimpin yang tidak hidup seperti dirinya menjadi tercela. Sama sekali tidak. Memang ini terkait dengan pilihan hidup. Kita kagum dengan orang-orang yang bersikap sederhana, seperti halnya Pepe, Agus Salim, Natsir, atau kisah para anggota dewan yang berkantor dengan naik bus kota dan tinggal di rumah kontrakan. Tapi kita tentu lebih bangga pada mereka yang memilih hidup untuk berkhidmat bagi kemaslahatan orang lain. Merekalah orang-orang yang terlibat. Mereka pulalah orang-orang yang peduli.

Kepada mereka akhirnya saya belajar: menjadi peduli memang tidak berkait dengan gaji. Kepeduliaan bertali erat dengan orientasi. Bertulus ikhlas membersamai anak-anak di sekolah tidak dapat diukur dengan gaji seberapapun. Berapa gaji yang diperlukan agar para guru bersedia mengusap ingus anak-anak dengan sepenuh hati? Senyum tulus kepada pelanggan dapat dilakukan oleh siapapun yang memiliki orientasi pelayanan dan kepedulian.

Nah, jika mereka yang bekerja sepenuh hati tidak dapat dinilai dengan gaji setinggi apapun, lebih layakkah jika mereka digaji dibawah kelayakan?