Tag Archives: iman

Ramadhan Kita

Inilah hadits populer yang sering dibacakan para penceramah di setiap Ramadhan. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:

ـ اذا جاء رمضان فتحت ابواب الجنة وغلقت ابواب النار وصفدت الشياط

“Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu.” (H.r. Bukhari dan Muslim).

Dr. Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan dalam “Fii Rihaabu As-Sunnah” bahwa inilah bulan yang diperbanyak sebab-sebab dan pintu-pintu mendulang kebaikan, dikurangi sebab-sebab serta pintu-pintu terjadinya kejahatan dan keburukan. Dari penjelasan Syaikh Qaradhawi kita memahami bahwa Ramadhan merupakan bulan ketika peluang untuk taat kepada Allah begitu luas dan dimudahkan. Peluang berbuat jahat tertutup rapat. Para penggoda pun terbelenggu tak berkutik. Hanya saja ada yang perlu diingat. Peluang-peluang tersebut hanya dapat diraih dengan iman dan ‘ihtisab’. Mereka yang bermalas-malas tidak akan mengenyam manisnya ketaatan kepada Allah ta’ala.

ـ من قام رمضان إيمانا واحتساباً غفرله ماتقدم من ذنبه

“Siapa yang melakukan qiyam (shalat) di bulan Ramadhan atas dasar iman dan ihtisab maka diampuni untuknya dosa-dosanya yang telah lalu.”

Suasana berkebajikan itu begitu kuat. Sementara dorongan berbuat jahat melemah. Setan-setan yang menggoda pun dibelenggu tak berdaya. Tapi apakah itu cukup untuk menjadikan amal kita menguat di Ramadhan ini? Wallahu a’lam. Faktanya, di Ramadhan, ada yang bersemangat, ada pula yang bermalas-malasan. Faktor-faktor ekternal memang diciptakan kondusif untuk berketaatan, tapi jika diri ini tidak memiliki orientasi dan dorongan kuat untuk beramal maka kita hanya menapaki Ramadhan dengan biasa-biasa saja.

Malu rasanya diri ini, Allah telah mudahkan kita untuk taat, tapi begitu menelisik diri, ternyata semangat untuk menghiasi Ramadhan dengan ketaatan tak cukup membara. Ada teman yang telah tilawah sebanyak sepuluh juz dalam waktu sehari-dua hari. Sementara diri ini, lebih banyak membolak-balik halaman mushaf sambil menghitungnya daripada khusyu’ membacanya. Taraweh tertunaikan dengan kemalasan. Makan-minum tetap saja berlebihan. Biaya konsumsi membengkak, dana infaq tak juga beranjak. Subuh berjamaah terasa malas, tidur setelahnya begitu pulas. Menggunjing teramat sering.

Hari-hari Ramadhan ini, kita selalu menelisik. Adakah iman dan ‘ihtisab’ dalam diri kita?

Iklan

Bersyukur yang Tak Sekedar Janji

Tak ada yang salah dari firman Allah ta’ala. Sama sekali. Sungguh buruk iman kita manakala berani menyangkal sedikitpun kebenaran firman Allah. Na’udzubillahi min dzalik. Ketika Allah membeberkan tabiat kita yang gemar berjanji untuk bersyukur saat terpuruk, lalu lalai ketika kesuksesan dianugerahkan Allah pada kita, rasa-rasanya begitulah yang (masih) sering terjadi dalam diri kita.

Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata), “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bencana ini, maka kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur” (Qs. Yunus [10]: 22). Begitu pula yang dijelaskan Allah dalam Qs. Al-An’am [6]:63. Sungguh kita masih harus terus berusaha memperbaharui kualitas iman kita.

Kesuksesan seringkali melenakan. Inikah iman kita: yang baru teringat Allah dan segala kenikmatan yang dianugerahkan-Nya pada kita saat kesempitan menerpa. Ketika sakit kita berjanji akan taat dan bersyukur begitu sembuh, tapi janji itu akhirnya hanya sebatas janji. Ketika dilanda kebangkrutan bisnis, banyak di antara kita menghiba-hiba di hadapan Allah untuk tekun beribadah dan mensyukuri setiap nikmat yang diberikan, tapi begitu keuntungan bisnis diperoleh, rupa-rupanya cinta duniawi lebih menjadi prioritas. Banyak di antara kita berharap dapat kerja begitu lulus kuliah dg janji untuk selalu mensyukuri nikmat Allah, tapi begitu kerja diperoleh, banyak di antaranya dibelenggu oleh pekerjaan dan dorongan materi.

Semoga bukan wajah di atas, gambaran diri kita. Tak usah menunggu sukses besar untuk bersyukur. Tak usah menanti keluar penuh dari masalah untuk ikhlas bersyukur. Pada saat apapun, kita dapat bersyukur. Pasalnya, di tengah himpitan musibah sekalipun, karunia dan nikmat Allah masih teramat besar. Dalam kemiskinan sekalipun, nikmat Allah tak terkira bagi kita. Kemiskinan tidak menjadi masalah ketika nikmat iman Allah hunjamkan kuat di dalam dada. Mengenali dan menyeksamai bahwa di tengah musibah masih banyak nikmat Allah yang harus disyukuri akan membukakan banyak jalan kebaikan.

Dalam deraan fitnah demi fitnah sekalipun, karunia Allah masih sangat berlimpah. Mungkin ada sekian masalah yang menyesakkan dada, tapi kita mensyukuri bahwa dalam kondisi seperti itu kita semakin dekat dengan Allah. Ada banyak sumber daya yang boleh jadi terasa lunglai tak berdaya, tapi kita masih bersyukur, ada kebersamaan yang makin kuat terasa. Ada banyak himpitan, tapi syukur senantiasa terpanjatkan.

Dari sini kita menginsyafi bahwa jika segala hal yang tak berkesesuaian dengan kehendak kita dianggap masalah dan musibah, barangkali kita akan menganggap bahwa hidup di dunia penuh derita. Keimanan kita menuntunkan bahwa cukuplah dianggap masalah dan musibah ketika dalam situasi apapun kita malah menjauhi ketaatan kepada-Nya. Maka, mengenali hal-hal menakjubkan di antara penatnya musibah akan menjadikan kita penuh dengan harapan. Harapan akan mewariskan keceriaan. Dan keceriaan dalam panduan iman, insya Allah, akan membukakan pandangan kita terhadap jalan kebaikan yang awalnya tampak samar menjadi lebih terang.

Kita pun menyadari, di antara banyak hal yang hilang setelah awalnya dimiliki, kita belajar mensyukuri terhadap apa pun yang tersisa dan benar-benar kita miliki. Dan cukuplah bagi kita jika yang tersisa ialah iman dan semangat perjuangan. Dengan dua hal itu, insya Allah, kita tak terlalu sesak dada.

Hari ini marilah kita renungkan sedalam-dalamnya. Nikmat Allah tetap tak ternilai, meski kita dalam himpitan masalah. Lalu, apa yang menghalangi kita untuk bersyukur. Marilah kita bersyukur setiap saat. []

Beginilah Kita Meyakini Allah

Orang-orang yang beriman pada Allah memiliki keyakinan yang kuat bahwa apapun yang menimpa dirinya merupakan skenario terbaik yang ditentukan Allah ta’ala. Orang lain bisa saja menganggap kegagalan atau pun keterpurukan, tapi tidak halnya dengan keyakinan mereka yang beriman. Setiap skenario Allah bagi kita, insya Allah, merupakan kebaikan. Itu kita yakini sepenuhnya, meskipun Allah tidak sekalipun membeberkan alur ceritanya. Inilah yang dapat kita pelajari dari perjalanan hidup para nabi. Mereka jalani hidup dengan keyakinan.

Yusuf a.s. misalnya, tak secuilpun mengetahui alur cerita hidup yang akan dijalaninya. Ia menjadi tenang bukan karena mengetahui detail tiap episode kehidupannya. Ia menjadi tenang karena keyakinan yang kuat pada Allah. Perhatikanlah kisahnya. Betapa episode hidupnya selalu berupa ujian demi ujian. Dalam usianya yang masih belia, Yusuf harus berhadapan dengan konspirasi kedengkian saudara-saudaranya (Qs. Yusuf: 7). Anak itu dimasukkan ke dasar sumur. Sebuah cover story-pun diciptakan agar meyakinkan sang ayah bahwa Yusuf mati. Rekayasa fakta dan bukti pun digelar. “Mereka datang dengan membawa baju gamisnya dengan darah palsu (Qs. Yusuf: 15-18).

Ibnu Katsir dalam “Qishashul Anbiya” mengisahkan bahwa saudara-saudara Yusuf lupa mengoyak baju Yusuf. Mereka hanya melumurinya dengan darah palsu. “Oleh karena itu,” jelas Ibnu Katsir, “bahaya sebuah kedustaan adalah lupa!” Barangkali dalam bahasa kita: cacat sebuah konspirasi adalah ‘ketidakcermatan’ merangkai fakta dan menghadirkan bukti. Sekali lagi, Yusuf tak pernah mengetahui alur cerita hidupnya setelah itu. Ia hanya yakin Allah pasti akan berikan jalan keluar.

Ketika setelahnya, ia ditemukan para musafir bernama Malik bin Za’ar dan Nuwait bin Madyan, seperti diungkapkan Ibnu Abbas, lalu dijual kepada Athfiir bin Rauhib (sebagaimana disebutkan Ibnu Ishaq), Yusuf sendiri tak mengetahui pasti alur kisah hidupnya. Bahwa kelak ia akan didera oleh konspirasi berbalut asmara dan akhirnya berujung pada kehidupannya di istana, sama sekali tak pernah diketahuinya. Yang ada hanya keyakinan bahwa akhir dari seluruh cerita itu adalah kebaikan. Itulah sebabnya, alangkah anggunnya kita untuk tidak menilai orang lain dari sepotong episode hidupnya yang belum tentu berakhir, apalagi men-justifikasinya dengan label-label keburukan. Kita tak pernah mengetahui skenario utuh yang dirancang Allah ta’ala.

Begitu pula kalau kita cermati kehidupan Musa a.s. Semua cerita hidupnya tidak ada yang kebetulan. Semua berada dalam rencana Allah ta’ala. Ujian, fitnah, kegagalan, atau bentuk lainnya adalah episode dalam kehidupan, sebagaimana juga episode itu akan bercerita tentang kesuksesan, kebahagiaan, kenyamanan, dan sebagainya. Kita hanya meyakini bahwa selama seseorang berada dalam keimanan, setiap momentum dan peristiwa yang menimpanya, hanya akan berujung kebaikan.

Maka, kisah tentang Yusuf di atas, memasuki episode yang menggembirakan. Sang raja berkata, “Sesungguhnya kamu (mulai hari ini) menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” (Qs. Yusuf: 54-57).

Wa kadzalika makkannaa liyuusufa fil ardli — Dan, demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir.

Yusuf a.s. berpisah dengan ayahnya ketika berusia 17 tahun. Perpisahan selama delapan puluh tahun. Waktu yang sangat panjang dari episode ujian hingga kesuksesan. Masa yang sangat riskan bagi tumbuhnya putus asa, terutama bagi yang lemah iman.

Maka mari kita renungkan doa Nabi Yusuf a.s. : “Ya Tuhanku, pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan akherat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dna gabungkanlah aku dengan orang-orang salih.” (Qs. Yusuf: 99-101). []

Iman yang Melahirkan Harapan

KITA MULAI saja dari sebuah tempat bernama Syi’ib Bani Muthalib. Di tempat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat berada dalam embargo berkepanjangan. Semua bermula pada bulan Muharram tahun ketujuh nubuwah. Tiga tahun lamanya mereka terkurung dalam kelaparan, kehausan, dan keletihan. Mereka dikucilkan dari masyarakat. Syaikh Shafiyyurrahman  al-Mubarakfury melukiskan bahwa Rasulullah beserta para sahabat hanya memakan dedaunan dan kulit binatang. Anak-anak dan wanita banyak yang merintih kelaparan. Baca lebih lanjut